Mabur.co- Yogyakarta merupakan salah satu kota yang masih melestarikan dengan penuh kebanggaan berbagai upacara adat yang telah menjadi bagian tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat.
Keberlanjutan dan kelestarian upacara adat di Yogyakarta tidak hanya mencerminkan warisan budaya yang kaya. Tetapi juga merupakan nyawa dari identitas kultural yang dijunjung tinggi oleh penduduk setempat.
Warga Tirtonirmolo, Kasihan, Bantul, Rizki Rahma Nur Wahyuni mengatakan, beberapa upacara adat terus dijalankan. Menggambarkan semangat pelestarian nilai-nilai tradisional dan kearifan lokal yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Upacara Adat yang Masih Ada
Upacara adat yang masih ada di Yogyakarta di antaranya garebeg yang dilaksanakan pada hari besar Islam seperti Idulfitri, Iduladha, dan Maulid Nabi.
Lalu ada mubeng beteng/tapa bisu yakni tradisi berjalan mengelilingi benteng keraton tanpa berbicara pada malam 1 Suro, menjadi sarana introspeksi dan tirakat.
Ada pula mitoni yakni selamatan 7 bulan kehamilan. Ada lagi nyadran yakni ziarah ke makam leluhur jelang Ramadan.
“Sedangkan yang sekarang sudah jarang yakni penggunaan bahasa Jawa krama secara penuh, wiwitan atau panen tradisional lengkap, permainan tradisional seperti benthik, gobak sodor, egrang, jamuran, dan cublak-cublak suweng,” katanya, Minggu (19/7/2026).

Menurut Rizki Rahma, sebagai warga Yogyakarta sebaiknya bangga terhadap budaya daerah, selalu menjaga nilai sopan santun dan kebersamaan, serta menyesuaikan pelaksanaan adat dengan perkembangan zaman, tanpa menghilangkan makna dan filosofi yang terkandung di dalamnya.
“Melestarikan budaya bukan hanya menjaga warisan, tetapi juga meneruskan nilai-nilai kebaikan kepada generasi berikutnya. Itulah yang membuat Jogja tetap istimewa, bukan hanya karena bangunan dan tradisinya. Tetapi karena masyarakatnya masih berusaha menjaga roh budaya di tengah perkembangan zaman,” katanya.
