Mabur.co – Sebagai kerajaan bernapaskan Islam, Keraton Kasultanan Yogyakarta memiliki berbagai macam amalan dan tradisi dalam menjalankan ritual ibadah keagamaan. Salah satunya adalah tradisi amalan Tahlil Hadiningrat.
Namun sayangnya hingga saat ini tak banyak masyarakat yang mengenal dan melestarikan amalan yang bersumber dari tradisi spiritual Keraton Mataram Islam tersebut.
Sebagai upaya melestarikan tradisi dan amalan itu, sekelompok elemen masyarakat yang dipimpin Abdi Dalem Keraton Kasultanan Yogyakarta rutin mengenalkan kepada masyarakat.
Tahlil Hadiningrat Keliling Antar-Masjid
Salah satunya adalah Majelis Zikir Manaqib Bolo Jiwo. Kelompok ini secara konsisten mengenalkan Tahlil Hadiningrat kepada masyarakat dengan cara berkeliling dari satu masjid ke masjid lain.
Sejak delapan tahun terakhir, majelis ini bahkan telah menjadikan Tahlil Hadiningrat sebagai bagian dari kegiatan rutin pengajian yang digelar setiap malam Kamis.
Setiap seminggu sekali secara bergiliram mereka akan berkeliling, dari kampung ke kampung untuk melakukan amalan ini. Dan puncak kegiatan ini biasanya akan dilaksanakan setiap malam Sabtu Kliwon di Masjid Sulthoni Wotgaleh, Berbah, Sleman.
Pengasuh Majelis Zikir Manaqib Bolo Jiwo, sekaligus Abdi Dalem Kanca Kaji Keraton Yogyakarta, Anhar Syaifudin atau Mas Panewu Ngabdul Hamid, mengatakan, keberadaan majelis ini berawal dari keinginan untuk memperkenalkan amaliah keraton kepada masyarakat luas agar tidak hilang ditelan zaman.

“Kami ingin menyiarkan amaliah keraton kepada masyarakat. Selama ini banyak yang belum mengetahui bahwa keraton memiliki tradisi spiritual yang sangat kaya dan tetap relevan untuk diamalkan,” ujarnya Sabtu (18/07/2026).
Anhar menjelaskan, Tahlil Hadiningrat sendiri pada dasarnya memiliki susunan bacaan yang hampir sama dengan tahlil yang berkembang di tengah masyarakat. Perbedaan terletak pada rangkaian tawasul yang merujuk pada sejarah Mataram Islam.
“Kalau bacaan tahlilnya secara umum sama. Yang membedakan adalah tawasulnya. Di dalam Tahlil Hadiningrat kami mendoakan para tokoh Mataram Islam seperti Panembahan Senopati, Sultan Agung, dan para pendahulu yang memiliki jasa dalam syiar Islam di tanah Jawa,” jelasnya.
Bukan untuk Kultus
Ia menegaskan, penyebutan nama para tokoh tersebut bukan untuk mengkultuskan, melainkan sebagai bentuk penghormatan kepada para pendahulu yang telah mewariskan nilai-nilai Islam dan budaya Jawa.
Menurutnya, upaya untuk terus melestarikan Tahlil Hadiningrat sangat penting dilakukan guna menjaga sejarah Keraton Yogyakarta sebagai salah satu pusat perkembangan Islam di Nusantara.
Melalui kegiatan yang dilakukan secara rutin ini, Majelis Zikir Manaqib Bolo Jiwo berharap Tahlil Hadiningrat tidak hanya dikenal sebagai tradisi keraton, tetapi juga menjadi warisan spiritual yang terus hidup dan diamalkan oleh masyarakat sebagai bagian dari kekayaan budaya Islam di Yogyakarta.
