Mabur.co – Desa Tamanmartani, Kalasan, Sleman, Yogyakarta selama ini dikenal sebagai kawasan sentra kuliner minuman tradisional dawet yang khas.
Hanya berjarak ratusan meter dari kompleks Candi Prambanan, tepatnya di sisi selatan Jalan Raya Solo-Jogja, deretan pedagang dawet khas Kalasan akan bisa ditemukan dengan mudah.
Alat Pikul Tradisional
Menggunakan alat pikul tradisional yang ditempatkan di pinggir jalan, para pedagang dawet ini biasa menjajakan dagangan mereka kepada pengguna jalan khususnya wisatawan dari luar kota yang melintas.
Tak seperti minuman dawet di daerah lainnya, dawet Kalasan memiliki ciri khas tersendiri. Yakni penggunaan bahan campuran tape ketan di dalamnya.
Salah seorang pedagang dawet kalasan, Nining, mengaku sudah berjualan dawet sejak puluhan tahun silam meneruskan usaha orang tuanya.
Ia mengaku, bisa menjual ratusan gelas dawet setiap harinya. Biasanya jumlah pembeli akan semakin meningkat saat akhir pekan atau hari libur tiba.

Saat momen seperti itu jumlah pembeli dawet di warungnya bahkan bisa melonjak hingga 2 sampai 3 kali lipat dibanding hari biasa.
“Ya lumayan bisa buat mencukupi kebutuhan sehari-hari dan menyekolahkan anak,” ujarnya malu-malu, Kamis (11/6/2026).
Wadah Batok Kelapa
Dawet khas Kalasan sendiri biasa disajikan dengan mangkuk kecil berukuran 15 sentimeter. Ada juga pedagang yang menyuguhkan dawet dengan wadah batok kelapa.
Selain menyediakan cendol berwarna putih, tak sedikit pedagang yang juga menyediakan cendol hitam. Biasanya cendol itu akan dicampur dengan irisan nangka, santan, gula Jawa asli, serta tape ketan.
Untuk dawet buatan Nining sendiri, ada tambahan bahan lagi yakni pacar cina atau sagu mutiara berwarna merah menyala.
Perpaduan rasa manis gula Jawa, gurih santan, ditambah sedikit asam tape ketan, yang bercampur dengan aroma nangka dan segarnya cendol memunculkan sensasi cita rasa tersendiri yang tidak ditemukan pada minuman dawet lainnya.
Satu gelas es dawet Kalasan sendiri dibandrol dengan harga sangat murah yakni Rp5 ribu. Jika konsumen ingin menambah tape ketan, maka ada biaya tambahan sebesar Rp2 ribu.
“Kalau pelanggan dari berbagai kota. Mulai dari Jakarta, Bandung sampai Surabaya ada. Biasanya kalau mereka sedang berlibur ke Jogja selalu mampir,” katanya.

