Mabur.co – Jika berkunjung ke kawasan makam raja-raja Imogiri, Bantul, Yogyakarta, kita pasti akan menemukan deretan warung atau kios yang menjual minuman khas wedang uwuh.
Selain disajikan secara langsung agar bisa diminum di lokasi, minuman berbahan rempah ini juga banyak dijual dalam bentuk instan atau siap saji sebagai oleh-oleh.
Biasanya, pedagang menjual wedang uwuh instan ini dalam bentuk kemasan siap saji. Harganya relatif terjangkau, hanya sekitar Rp1000 hingga Rp2000 per saset.
Selain memiliki cita rasa yang khas, wedang uwuh juga juga banyak disukai karena dipercaya memiliki manfaat yang luar biasa bagi kesehatan tubuh.
Namun kenapa wedang uwuh bisa menjadi minuman khas yang identik dengan wilayah Imogiri? Sehingga menjadikannya oleh-oleh ikonik di kawasan pusat ziarah Kerajaan Mataram Islam ?
Ternyata asal-usul wedang uwuh memang tak bisa dilepaskan dari keberadaan kompleks pemakaman raja-raja Mataram Islam Imogiri.
Riset pustaka mabur.co, Minggu (28/6/2026), jurnal kanalpengetahuan.farmasi.ugm.ac.id memuat tulisan Adeltrudis Adelsa dan Sekar Ayu Pawestri dari Fakultas Farmasi UGM, tentang sejarah wedang uwuh yang berawal dari masa pemerintahan Sultan Agung saat Kerajaan Mataram Islam berjaya.
Konon, saat itu sang raja sedang bertapa dan meminta dibuatkan minuman penghangat tubuh. Abdi raja kemudian membuatkan wedang secang, lalu meletakkannya di bawah pohon tempat sang Raja bersemedi.
Namun karena adanya angin yang bertiup cukup kencang, dahan serta daun pepohonan di sekitar tempat tersebut berguguran, dan tidak sengaja jatuh ke dalam minuman sang raja.
Sang raja pun meminum wedang yang sudah tercampur ‘uwuh’ atau sampah dedaunan itu, dan justru menyukai rasa minumannya. Maka sang abdi pun akhirnya membuatkan minuman dengan tambahan dahan dan daun pepohonan yang masuk ke dalam minuman tersebut.
Dari situlah wedang uwuh lahir. Dalam bahasa Jawa, wedang berarti minuman hangat, sedangkan uwuh berarti sampah. Sebutan itu muncul karena campuran berbagai rempah di dalamnya tampak menyerupai tumpukan daun kering atau sampah saat diseduh.
Mungkin, karena kawasan makam Imogiri identik dengan makam Raja Mataram Sultan Agung, maka banyak masyarakat menjual minuman wedang uwuh di tempat ini.
Campuran Rempah
Hingga kini, komposisi wedang uwuh sendiri masih tak banyak berubah dari awal pertama kali dibuat. Minuman berwarna merah ini biasanya terdiri dari berbagai macam campuran rempah.
Seperti jahe emprit, kayu secang, kayu manis, cengkeh, kapulaga, serai, daun pala, buah pala, serta gula batu sebagai pemanis alaminya.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan Khansa Nadhira Shakty dan Riski Ayu Anggreini dari Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jawa Timur, selain dapat memberikan rasa hangat di tubuh, wedang uwuh juga sangat bermanfaat bagi kesehatan tubuh.
Hal itu tak lepas karena wedang uwuh mengandung banyak jenis rempah-rempah. Dimana perpaduan berbagai rempah-rempah itu akan menghasilkan senyawa antioksidan yang lebih tinggi dibandingkan jika setiap rempah dikonsumsi secara terpisah.
Maka tak heran wedang uwuh dipercaya dapat membantu meningkatkan daya tahan tubuh, meredakan flu dan batuk, mengurangi rasa lelah, membantu mengontrol kadar gula darah, menurunkan kolesterol, menjaga kesehatan pencernaan, hingga berpotensi mencegah penyakit degeneratif.
Tak hanya komposisinya, proses penyeduhan juga berpengaruh terhadap khasiat wedang uwuh. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa perebusan selama sekitar 15 menit mampu menghasilkan kadar senyawa fenolik yang optimal sehingga manfaat antioksidannya lebih maksimal.
Berkat keunikan cita rasa, kandungan nilai sejarah dan budaya yang dimiliki, hingga manfaatnya yang luar biasa, wedang uwuh pun ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia tahun 2017 silam.
Kini, wedang uwuh tidak hanya sekedar menjadi minuman tradisional sekaligus oleh-oleh khas Imogiri, namun juga menjadi simbol kekayaan rempah Indonesia sekaligus warisan budaya yang terus lestari dari generasi ke generasi.

