Pedagang di Pasar Beringharjo Mewaspadai Kenaikan Harga BBM, Timbulkan Efek Berantai

2 Min Read
Night market vegetable stall with colorful produce like carrots, peppers, cauliflower, cabbage, and a vendor wearing a hijab in the background.
Pedagang sayur di Pasar Beringharjo, Ida Habibah, saat melayani pembeli. (Foto: Setiaky A Kusuma)

Mabur.co- Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi jenis Pertamax yang menembus Rp 16.250 per liter dikhawatirkan menimbulkan efek berantai hingga ke lapisan ekonomi paling bawah.

Tak terkecuali di Kota Yogyakarta, pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) seperti pedagang sayur di Pasar Beringharjo.

Salah seorang pedagang sayur Pasar Beringharjo, Ida Habibah, mengatakan, efeknya memang bisa ke harga produk. Tapi, selama 1 minggu ini harga sayur masih mengalami penurunan. Belum ada kenaikan harga.

“Untuk harga cabai dan brokoli masih mengalami penurunan dari harga Rp35.000 sekarang Rp30.000, bunga kol biasanya Rp40.000 sekarang Rp20.000.

Buncis yang biasanya Rp18.000 sekarang Rp13.000, terong dari harga Rp15.000 sekarang Rp10.000, selada Rp40.000 sekarang Rp20.000. Meski harga BBM ada yang naik, saya berharap ke depan harga sayur bisa terjangkau semua, dan bisa stabil,” ucapnya saat ditemui, Kamis (11/6/2026).

Women in hijabs stand at a bustling market stall with peppers, cabbage and other vegetables on display.
Pedagang sayur mayur di Pasar Beringharjo, Yogyakarta. (Foto: Setiaky A Kusuma)

Ida Habibah mengatakan juga, ada kiat-kiat agar pedagang ada peningkatan penjualan. Misalnya jangan bosan-bosan untuk memasarkan produk. Baik lewat online dan offline. Kita jangan terlalu meminimalisir promosi tapi juga jangan terlalu berani untuk spekulasi.

“Kita beli dagangan sesuai dengan kebutuhan saja, jangan terlalu over. Biar tidak rugi, misalkan sisa, ya sisanya sedikit,” katanya. ***

Share This Article
Teruslah Berbuat baik kepada siapapun karena hal baik itu, akan kembali padamu dengan berbagai cara
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Leave a Comment