Mabur.co – Dalam perhelatan Piala Dunia di Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada tahun ini, ada satu pemandangan unik yang sebenarnya sudah cukup lama terjadi, namun kali ini seperti benar-benar diwajibkan untuk selalu ada dalam setiap pertandingan.
Salah satu yang cukup mencuri perhatian di Piala Dunia 2026 kali ini adalah hadirnya hydration break atau istirahat untuk minum di tengah-tengah babak atau saat pertandingan Piala Dunia berlangsung, dengan durasi kurang lebih tiga menit.
Berbeda dengan istilah turun minum atau jeda antara babak pertama dan kedua, hydration break adalah jeda yang berlangsung di tengah-tengah babak pertama atau babak kedua, yang biasanya mengambil waktu antara menit awal 20-an (di babak pertama) dan pertengahan 60-an (di babak kedua).
Untuk melakukan istirahat sambil mengonsumsi minuman isotonik, sekaligus sebagai kesempatan bagi pelatih untuk menyesuaikan taktik dan strategi kepada para pemainnya di lapangan.
Konsep “hydration break” atau istirahat di sela-sela pertandingan sebenarnya bukanlah hal yang asing di dunia sepakbola internasional. Karena aturan ini sebenarnya sudah pernah berlaku saat Piala Dunia 2014 di Brazil, tepatnya di laga perdelapan final antara Belanda menghadapi Meksiko.
Pertandingan tersebut terpaksa dihentikan selama tiga menit di sela-sela tiap babak, karena suhu udara di Fortaleza, Brazil, saat itu mencapai suhu 39 derajat celcius.
Kelembapan semacam itu tentunya berpotensi membahayakan kondisi fisik pemain, sehingga mereka membutuhkan istirahat sekaligus cairan tambahan, untuk memulihkan kondisi fisik di tengah-tengah pertandingan.
Namun, aturan itu rupanya tidak diberlakukan secara tetap di pertandingan-pertandingan selanjutnya, termasuk untuk ajang Piala Dunia berikutnya, hingga edisi 2026 kali ini.
Meskipun tidak semua pertandingan di Amerika, Meksiko, dan Kanada memiliki suhu kelembapan ekstrem, namun FIFA, selaku induk organisasi tertinggi sepakbola dunia, memutuskan bahwa aturan jeda di tengah babak tetap diseragamkan di semua pertandingan tanpa kecuali, untuk meminimalisir hal-hal yang tidak diinginkan.
Kesempatan Promosi Iklan

Istilah hydration break sendiri memang muncul dari salah satu produk minuman isotonik, yang kebetulan juga merupakan salah satu sponsor dari Piala Dunia 2026 kali ini, yaitu Powerade.
Powerade berusaha mempromosikan produk andalannya, dengan menamakan istilah jeda di tengah babak dengan sebutan “hydration break” alias “istirahat untuk minum” atau rehidrasi.
Tidak hanya bagi Powerade, aturan hydration break juga bisa menjadi kesempatan emas bagi produk-produk lainnya, khususnya yang berafiliasi dengan siaran langsung di televisi (sponsor), untuk lebih banyak memasarkan produknya, tanpa harus menunggu jeda babak pertama, dan seterusnya.
Dengan begitu, semua pihak akan merasa diuntungkan dari penerapan aturan baru ini, karena produk sponsor bisa lebih banyak mendatangkan cuan (dengan menambah slot iklan).
Sekaligus menciptakan kualitas permainan yang lebih baik bagi para pemain (karena diperbolehkan untuk beristirahat sejenak), sehingga kualitas siaran Piala Dunia secara keseluruhan akan menjadi lebih baik.
Menuai Pro dan Kontra
Meski demikian, aturan baru ini tidak serta merta mendapat sambutan positif dari semua pihak.
Dilansir dari laman Business Insider, Rabu (24/6/2026), penonton lebih banyak menyayangkan hadirnya jeda hydration break di tengah-tengah pertandingan, karena hal itu berpotensi merusak momentum pertandingan itu sendiri, apalagi jika sedang seru-serunya.
Terlebih dengan sentimen masuknya iklan atau promosi produk tertentu di saat jeda tersebut, membuat aturan ini lebih banyak mengalami penolakan bagi para penggemar, yang selalu menginginkan pertandingan terus berjalan sesuai waktu yang telah ditentukan (45 menit + tambahan waktu di tiap babak).
***
Pada akhirnya, tidak semua aturan baru akan mampu menyenangkan semua pihak. Namun jika dilihat dari sisi kualitas permainan, tentunya kehadiran hydration break merupakan sebuah terobosan baru yang cukup positif, untuk dapat menjaga ritme pertandingan yang berkualitas dan tidak monoton.
Karena pemain bola tetaplah manusia biasa, yang juga butuh istirahat dan cooling down di tengah-tengah pertandingan, apalagi dengan intensitas yang tinggi seperti di Piala Dunia kali ini.
Bukan tidak mungkin, aturan semacam ini juga akan diterapkan di turnamen-turnamen lainnya, termasuk juga di kompetisi klub, yang mempunyai jumlah pertandingan lebih banyak daripada turnamen antarnegara seperti Piala Dunia dan semacamnya. (*)

