Mabur.co – Dikenal sebagai layang-layang purba tertua di dunia, Kaghati Kolope menyimpan kisah legenda panjang yang hidup di tengah masyarakat Muna, Sulawesi Tenggara.
Cerita turun-temurun tentang asal-usul layang-layang tradisional yang terbuat dari daun ubi hutan ini juga terus diwariskan dari generasi ke generasi.
Berdasarkan jurnal penelitian yang diterbitkan Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Halu Oleo, Kendari, yang diakses mabur.co, Rabu (24/6/2026), asal-usul Kaghati Kolope berkaitan erat dengan legenda tokoh bernama La Pasindaedaeno.
Legenda Setempat
Dalam legenda itu, diceritakan seorang pemuda bernama La Pasindaedaeno memiliki keinginan untuk menjadi pemimpin Suku Muna.
Konon, untuk mencapai cita-citanya itu, ia menjalani pertapaan selama 40 hari di sebuah gua keramat. Yakni dengan menahan lapar, haus, dan berbagai godaan lainnya yang datang.
Setelah berhasil melewati ujian itu, La Pasindaedaeno akhirnya menjadi pemimpin. Ia kemudian hidup bersama istrinya, Wa Ntiwose, dan putranya, La Ghane.
Saat Wa Ntiwose mengandung anak kedua dan mengidamkan makanan yang tidak mengandung darah, La Pasindaedaeno mendapat ilham untuk mengorbankan La Ghane.
Dari bagian tubuh anaknya yang ditanam di hutan kemudian tumbuhlah berbagai tanaman pangan, termasuk kolope atau ubi hutan (gadung) yang diidamkan istrinya.
Saat La Pasindaedaeno dan istrinya menemukan pohon kolope, mereka kemudian melihat daun-daun keringnya terbang tinggi terbawa angin hingga ke angkasa seolah menuju matahari.
Pemandangan itu pun lalu memunculkan gagasan untuk merangkai daun-daun tersebut dengan bambu dan tali sehingga dapat terbang seperti yang mereka lihat di alam.
Warga kemudian merangkai daun kolope menggunakan bambu dan menjepitnya hingga berbentuk segi empat.
Dari situlah lahir Kaghati Kolope. Dimana kata “kaghati” berasal dari istilah menjepit atau merangkai daun hingga membentuk layang-layang.
Bagi masyarakat Muna, Kaghati Kolope bukan hanya sekadar alat permainan tradisional. Namun juga bagian dari cerminan nilai-nilai kehidupan mereka.
Berdasarkan jurnal yang diterbitkan Universitas Halu Oleo, sedikitnya terdapat sejumlah pesan nilai kehidupan yang tercermin dalam tradisi Kaghati Kolope.
Di antaranya adalah kedekatan mereka dengan alam. Hal ini terbukti dari seluruh bahan pembuatan Kaghati Kolope yang berasal dari tanaman.
Bagi masyarakat Muna, Kaghati Kolope juga merupakan simbol kehidupan, perjuangan, kebersamaan, serta hubungan manusia dengan alam dan Tuhan.
Dalam kepercayaan masyarakat Muna, layang-layang yang mampu bertahan di udara selama tujuh hari tujuh malam, bahkan akan diberi sesajen sebelum akhirnya talinya diputus sebagai simbol hubungan manusia dengan Sang Pencipta.
Salah satu hal yang juga menarik, pada masa lalu masyarakat Muna juga mengaitkan Kaghati dengan kehidupan politik.
Dalam beberapa cerita tradisional, seseorang yang memiliki kemampuan membuat dan menerbangkan layang-layang hingga mampu bertahan di udara, dianggap sebagai simbol kemampuan seseorang untuk menjadi pemimpin.
Hal ini tak lepas karena proses pembuatan layang-layang Kaghati Kolope yang sangat sulit sehingga membutuhkan keterampilan, kesabaran, ketelitian, kejujuran, dan berbagai kemampuan lainnya.

