Festival Ketoprak Kulon Progo 2026, Angkat Sejarah Mataram Pasca-Perjanjian Giyanti

4 Min Read
Three performers in period costumes on a stage; one man holds a large prop sword while two others stand nearby amid a camp-like set with grasses and a tent backdrop.
Festival Ketoprak Kabupaten Kulon Progo 2026 yang digelar di Taman Budaya Kulon Progo. (Foto: JH Kusmargana)

Mabur.co – Festival Ketoprak Kabupaten Kulon Progo 2026 kembali menjadi panggung bagi para pelaku seni tradisi untuk menghidupkan kisah-kisah sejarah Mataram.

Selama dua hari, 24–25 Juni 2026, sebanyak 12 kapanewon se-Kulon Progo bergantian tampil di Auditorium Taman Budaya Kulon Progo (TBKP) dengan membawakan lakon bertema besar “Mataram Pasca-Perjanjian Giyanti”.

Tema tersebut mengajak para peserta menelusuri berbagai peristiwa penting dalam perjalanan Kerajaan Mataram setelah Perjanjian Giyanti, mulai dari masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono I hingga Sri Sultan Hamengku Buwono II, termasuk kisah Babat Alas Pabringan dan dinamika yang terjadi menjelang Geger Sepehi.

12 Kapanewon

Enam kapanewon tampil pada hari pertama, yakni Sentolo, Panjatan, Wates, Kalibawang, Nanggulan, dan Temon. Sementara enam kapanewon lainnya, yaitu Lendah, Pengasih, Samigaluh, Galur, Girimulyo, dan Kokap, dijadwalkan tampil pada hari kedua.

Masing-masing kontingen membawa maksimal 25 personel, termasuk pemain dan pengrawit, dengan durasi pementasan antara 30 hingga 35 menit.

Kepala Dinas Kebudayaan Kulon Progo, Joko Mursito, mengatakan festival ini tidak hanya menjadi ajang kompetisi seni pertunjukan, tetapi juga sarana menanamkan nilai-nilai kehidupan kepada generasi muda melalui media budaya.

“Festival ketoprak sebenarnya tidak hanya bagaimana kita bermain ketoprak, tetapi bagaimana ada nilai-nilai kehidupan yang bisa diserap oleh generasi muda kita, sehingga tidak hanya tontonan, tetapi juga ada tuntunan,” ujarnya.

Menurut Joko, dampak ketoprak juga meluas ke berbagai sektor. Di balik sebuah pementasan, terdapat banyak pihak yang terlibat mulai dari penata rias, penata busana, pengrawit, pembuat properti hingga penyedia konsumsi.

Two performers on a dimly lit stage with blue lighting and hanging fabric panels. One is speaking while the other smiles.
Suasana Festival Ketoprak Kulon Progo 2026 bertempat di Taman Budaya Kulon Progo (Foto: JH Kusmargana)

“Kemudian dalam ketoprak juga tidak hanya para pemerannya, tetapi di belakang pemeran itu ada perias busana, ada yang membuat iringan, ada yang menyiapkan properti, ada yang menyiapkan konsumsi. Sehingga, bicara ketoprak ini ikutannya banyak banget. Nah, inilah yang menjadi unggulan kita karena satu kegiatan bisa melibatkan banyak pihak,” lanjutnya.

Menjaga Seni Tradisi

Bupati Kulon Progo, Agung Setyawan, yang membuka festival tersebut menilai ajang ini menjadi bagian dari upaya menjaga keberlangsungan seni tradisi sekaligus menjaring talenta-talenta terbaik untuk mewakili Kulon Progo di tingkat DIY.

“Acara ini sebetulnya agenda yang menjadi program dari seluruh Kundha Kabudayan di DIY, jadi bukan hanya di Kulon Progo. Khusus di Kulon Progo, tujuannya adalah untuk mampu menyaring dan memilih pelaku-pelaku seni budaya, terutama ketoprak, untuk dapat ditingkatkan kemampuan aktingnya agar dapat berprestasi lebih lanjut,” katanya.

Menurut Agung, keberhasilan menjaga seni budaya juga mencerminkan karakter masyarakat yang menghormati warisan leluhur.

“Sebetulnya yang namanya seni budaya ini kan menunjukkan gambaran tentang karakter dari satu daerah. Misalnya, yang bisa melestarikan seni budaya, tentunya dia akan sangat lebih respek, lebih hormat kepada para leluhurnya, para pendahulunya karena dapat nguri-uri budaya yang diwariskan kepadanya,” ujarnya.

Pada hari pertama festival, penampilan kontingen Sentolo mendapat perhatian khusus dari Bupati. Ia memuji kreativitas tim dalam memanfaatkan keterbatasan waktu dengan penggunaan properti yang sederhana namun efektif menggambarkan suasana cerita.

“Sentolo tadi sangat bagus, sangat menarik. Propertinya juga bagus, simpel tapi bagus. Tadi bikin satu benteng, terus bentengnya ditarik, bikin pilar-pilar dengan latar belakang yang warnanya pun dibolak-balik: benteng berupa putih, pilarnya berupa hijau tua kraton. Ini sesuatu yang menurut saya, dalam satu batasan waktu 30 menit, itu luar biasa idenya. Ya, ini bagus,” puji Agung.

Festival Ketoprak Kabupaten Kulon Progo 2026 digelar dengan memperebutkan total hadiah puluhan juta rupiah. Kontingen yang meraih predikat Penyaji Terbaik I nantinya akan mewakili Kulon Progo pada Festival Ketoprak Tingkat Daerah Istimewa Yogyakarta tahun 2026.

Share This Article
Avatar photo
Lahir di Jogja. Fans Man Utd.
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Leave a Comment