Komunitas Suling Bambu, Bantu Masyarakat Atasi Asma, Vertigo, dan Asam Lambung

2 Min Read
Two men sit on a woven mat, one playing a long bamboo flute while the other holds a shorter instrument, in a craft shop filled with carvings and shelves of objects.
Seruling bambu khusus lubang 3 (napas dada, perut, dan diafragma). (Foto: Setiaky.A.Kusuma)

Mabur.co- Alat musik suling bambu merupakan khazanah budaya di Daerah Istimewa Yogyakarta, juga di seluruh penjuru Nusantara.

Suling bambu merupakan alat musik yang alamiah. Cara memainkan suling bambu dengan membuka dan menutup sedemikian rupa, secara bergantian, lubang-lubang pada batang suling merupakan wujud memberi dan menerima napas kehidupan.

Dari sebatang bambu yang tumbuh dari rumpunan pohon bambu yang subur tersiram hujan, kemudian dipotong, dilubangi dengan besi yang dipanaskan dengan api. Setelah jadi, dimainkan dengan cara ditiup.

Group of people seated on a woven mat indoors, playing bamboo flutes with a music sheet on the floor.
Pengunjung sedang mencoba terapi seruling. (Foto: Setiaky.A.Kusuma)

Pendiri Komunitas Suling Bambu Nusantara, Agus Budi Nugroho,  mengatakan seruling yang dipakai seruling bambu khusus lubang 3 (napas dada, perut, dan diafragma). Alat musik tradisional tersebut ternyata juga bisa sebagai media terapi kesehatan.

“Terapi ini bertujuan untuk membantu masyarakat mengurangi keluhan asma, vertigo, dan asam lambung,” ucapnya, Minggu (28/6/2026).

Belajar Otodidak

Agus mengenal dan belajar musik secara otodidak, pernah menjadi pengiring musik musik teater di berbagai kampus dan juga sanggar. Setelah itu mulai mendalami musik etnik salah satunya suling bambu hingga sekarang.

Berangkat dari keinginan melestarikan sekaligus mengangkat suling bambu sebagai budaya asli indonesia maka Komunitas Suling Bambu Nusantara didirikan pada Mei 2004.

“Misi dari Komunitas Suling Bambu Nusantara adalah memperkenalkan suling yang terbuat dari bambu, yang ramah lingkungan ketimbang suling plastik yang sering dipakai sebagai media pembelajaran di sekolah-sekolah,” ucapnya.

Agus menuturkan bahwa value dari musik tradisional sangatlah penting untuk membangun karakter bangsa. Seperti gamelan angklung sangat digemari oleh masyarakat luar negeri, dikarenakan mereka sudah melihat value yang ada pada alat musik tradisional.

Oleh sebab itu, anak muda sekarang juga harus melihat value tersebut.

“Dengan melestarikan budaya tradisional ke masyarakat luas, khususnya anak-anak muda. Nilai-nilai yang ada pada setiap budaya dapat membangun karakter pemuda menjadi bangsa yang lebih kuat,” ucapnya.

TAGGED:
Share This Article
Teruslah Berbuat baik kepada siapapun karena hal baik itu, akan kembali padamu dengan berbagai cara
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Leave a Comment