Festival Egrang Tanoker Jember, Hidupkan Keunikan Permainan Tradisional 

4 Min Read
Festival Egrang Tanoker di Kabupaten Jember (foto : Instagram Tanoker Ledokombo)

Mabur.co – Puluhan kelompok dari berbagai latar belakang turut memeriahkan Festival Egrang Tanoker ke-14 di Kecamatan Ledokombo, Kabupaten Jember, Sabtu (8/8/2026). 

Anak-anak, orang dewasa, kelompok seni, hingga penyandang disabilitas ikut ambil bagian dalam agenda budaya tahunan yang digelar di kawasan Desa Sumberlesung ini.

Tidak hanya menampilkan permainan tradisional egrang, festival ini juga diisi dengan berbagai kegiatan seperti pawai budaya hingga pertunjukan karya seni dan bazar kerajinan serta kuliner.

21 Kelompok Penampil

Mengusung tema “Membangun Harmoni Komunitas melalui Permainan Tradisi”, Festival Egrang Tanoker tahun ini diikuti sebanyak 21 kelompok penampil.

Mereka berasal dari sekolah, komunitas, kelompok disabilitas, organisasi sosial keagamaan, serta kelompok masyarakat lintas generasi dan etnis.

Direktur Tanoker Ledokombo, Farha Ciciek, mengatakan, keberagaman peserta menjadi salah satu kekuatan utama festival.

Menurutnya, egrang menjadi media sederhana untuk mempertemukan masyarakat yang memiliki latar belakang berbeda.

“Hari ini 21 penampil yang berwarna terdiri dari sekolah, komunitas, kelompok disabilitas, lintas generasi, lintas etnis, organisasi sosial keagamaan akan berjalan bersama menampilkan hal yang terbaik karya mereka,” ujarnya dilansir situs resmi Pemkab Jember, Minggu (9/8/2026).

Bukan Sekadar Permainan Tradisional

Sejak pertama digelar tahun 2010 silam, Festival Egrang Tanoker telah berevolusi, tdak hanya sekadar sebagai pertunjukan permainan tradisional, namun juga media untuk mengenalkan budaya kepada anak-anak sekaligus membangun interaksi antarkelompok masyarakat.

Bagi anak-anak, bermain egrang tidak hanya membutuhkan keseimbangan, konsentrasi, keberanian dan latihan, namun juga kemampuan belajar bekerja sama dan berinteraksi secara langsung dengan teman-teman sebaya.

Hal itu menjadi semakin relevan di tengah era semakin kuatnya penggunaan teknologi dalam kehidupan anak saat ini.

Di mana permainan tradisional dapat memberikan alternatif ruang bermain yang membuat anak lebih banyak bergerak dan berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya.

Festival juga menjadi ruang bagi keluarga untuk terlibat dalam aktivitas bersama anak. Orang tua tidak hanya menjadi penonton, tetapi ikut mendampingi dan mengenalkan nilai-nilai yang terkandung dalam permainan tradisional.

Bupati Jember, Gus Fawait, mengatakan, Festival Egrang Tanoker memiliki nilai pendidikan yang kuat.

Menurutnya, lewat festival ini anak-anak dapat belajar berbagai karakter melalui permainan egrang, mulai dari disiplin, keberanian, solidaritas hingga kreativitas.

“Anak-anak belajar tentang disiplin, keberanian, solidaritas, kreativitas serta cinta terhadap budaya lokal,” ujarnya.

Rangkaian Festival Egrang Tanoker ke-14 sendiri berlangsung sejak siang hingga petang.

Parade egrang dimulai dari Kantor Desa Sumberlesung dan berakhir di Lapangan Kecamatan Ledokombo.

Selain parade dan tarian egrang, festival juga diisi pertunjukan seni multikultural dari Desa Temurejo, Banyuwangi, serta penampilan seni inklusi dari SLB Branjangan Jember.

Masyarakat juga dapat mengakses pemeriksaan kesehatan gratis serta bazar yang menghadirkan kerajinan tangan dan kuliner lokal sehat.

Kehadiran kelompok disabilitas menjadi bagian penting dari konsep festival. Mereka tidak ditempatkan hanya sebagai penonton, tetapi turut menjadi bagian dari penampil dan perayaan bersama.

Keberagaman tersebut menunjukkan bahwa permainan tradisional dapat menjadi ruang perjumpaan bagi masyarakat.

“Bagi Tanoker Ledokombo, festival ini bukan hanya pesta hura-hura, tapi sebuah festival yang punya makna, punya tujuan, festival with mission,” katanya.

Festival Egrang Tanoker juga menjadi salah satu cara untuk menjaga permainan tradisional agar tidak hilang di tengah perubahan zaman.

Egrang yang dahulu menjadi bagian dari permainan masyarakat kini dikemas dalam sebuah festival yang melibatkan berbagai unsur.

Dengan cara tersebut, anak-anak tidak hanya mengenal egrang dari cerita atau buku, tetapi melihat, memegang dan memainkannya secara langsung.

Share This Article
Avatar photo
Jurnalis lahir dan tinggal di Jogja
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar