Koperasi Semu Bisa Jadi Bumerang Politik

2 Min Read
Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) di Wonosari, Gunungkidul, DIY (Foto: infopublik.id)

Bayangan distopia politik ala Thomas More menggambarkan dunia tanpa nilai kemanusiaan dan kebebasan terasa ada dalam konteks koperasi militeristik.

Distopia itu hadir ketika lembaga solidaritas dan demokrasi ekonomi berubah menjadi alat kekuasaan. Koperasi yang seharusnya lahir dari semangat sukarela justru dipaksa berdiri di bawah bayang-bayang militerisasi.

Anggota direkrut tanpa pilihan, pengurus dilatih layaknya pasukan dengan loyalitas mutlak pada penguasa. Koperasi kehilangan fungsi pemberdayaan rakyat dan berubah menjadi “koperasi semu” yang hanya memakai nama untuk legitimasi politik.

Demokrasi internal hilang, suara anggota tak berarti, dan struktur organisasi tunduk pada hierarki komando.

Fenomena ini bukan sekadar imajinasi masa depan. Sejarah mencatat praktik serupa di rezim militer Asia dan Amerika Latin abad ke-20, ketika koperasi dijadikan alat mobilisasi ekonomi demi stabilitas politik.

Prinsip Komando

Anggota diwajibkan, pengurus diangkat tentara, dan kegiatan diarahkan untuk agenda negara. Prinsip sukarela digantikan propaganda dan komando.

Di masa depan, bentuk paksaan ini bisa lebih sistematis dengan teknologi pengawasan untuk membangun tubuh berkepatuhan melalui CCTV, data digital, algoritma.

Ini “Koperasi Semu” sebagai mesin kontrol ekonomi yang efisien namun menindas, mengubah solidaritas menjadi kepatuhan.

Secara hukum, praktik ini melanggar UU Koperasi yang menegaskan asas sukarela dan demokratis. Secara moral, ia mengkhianati prinsip International Cooperative Alliance (ICA) yang menempatkan koperasi sebagai gerakan solidaritas global.

Ketika koperasi dijalankan dengan logika militer, ia berhenti menjadi gerakan ekonomi rakyat dan berubah menjadi simbol penyeragaman ideologis.

Distopia ini menjadikan kantor koperasi menjadi pos komando, pengurus menjadi prajurit ekonomi, dan rakyat menjadi objek mobilisasi.

Koperasi semu hanyalah topeng kekuasaan yang menindas rakyat atas nama kebersamaan. Solidaritas digantikan komando, demokrasi digantikan disiplin militer.

Koperasi kehilangan makna sosialnya dan menjadi simbol distopia politik, cermin gelap bagaimana kekuasaan menelan idealisme ekonomi rakyat.

Koperasi Semu dapat menjadi bumerang politik! ***

Share This Article
Peneliti senior, dosen FISIP UNS
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar