Mabur.co – Sejak ratusan tahun lamanya, Tamansiswa telah menjadi salah satu organisasi pendidikan sekaligus gerakan perjuangan kebudayaan terkemuka di Indonesia.
Didirikan oleh bapak pendidikan nasional, Ki Hajar Dewantara, pada 3 Juli 1922 di Yogyakarta, lembaga ini berkembang menjadi pelopor pendidikan nasional di seluruh Indonesia, yang menanamkan jiwa kemerdekaan dan kebangsaan, untuk dapat mencerdaskan kehidupan bangsa melalui pendidikan.
Dilansir dari laman Tamansiswa Pusat, Jumat (3/7/2026), awalnya lembaga yang dibentuk oleh Ki Hajar Dewantara tersebut menggunakan penamaan bahasa Belanda, yakni National Onderwijs Institut Taman Siswa.
Nama ini dipilih untuk mencerminkan tempat belajar yang menyenangkan dan memerdekakan bagi anak-anak.
Secara umum, pendirian sekolah atau lembaga pendidikan tersebut bertujuan untuk merespons bentuk diskriminasi pendidikan ala kolonialisme Belanda, sehingga masyarakat dapat memilih alternatif pendidikan yang lebih humanis, dan menanamkan semangat nasionalisme bagi kaum pribumi.
Dalam perkembangannya, istilah bahasa Belanda tersebut mulai dihilangkan, sehingga murni menggunakan bahasa Indonesia, yakni “Tamansiswa”, sebagai lembaga pendidikan resmi yang didirikan oleh Ki Hajar Dewantara, dan terus bertahan hingga saat ini.
Adapun nama “Tamansiswa” yang dipilih Ki Hajar Dewantara merupakan sebuah kesengajaan, karena ingin menggabungkan dua kata yakni “Taman” dan “Siswa” sebagai antitesis dari sistem kolonial yang menggunakan istilah Barat.
“Taman” yang dimaksud di sini artinya menciptakan tempat bermain atau taman belajar, yang dapat dinikmati oleh seluruh “siswa” dengan harga yang terjangkau, serta mampu menjadi sumber terciptanya generasi unggul di masa depan, dengan metode pendidikan yang lebih manusiawi (ketimbang metode pendidikan ala kolonialisme Belanda).
Terus Berkembang dan Beradaptasi
Meskipun pembentukan awalnya didasari oleh keinginan memberikan alternatif pendidikan bagi mereka yang kurang beruntung, atau ingin melepaskan diri dari sistem kolonialisme Belanda, namun Tamansiswa juga terus beradaptasi dengan perkembangan zaman, dan mulai mengembangkan sayap bisnisnya ke berbagai bidang pendidikan lainnya, sehingga menjadi salah satu lembaga pendidikan yang tetap eksis di Indonesia sampai sekarang.
Inilah beberapa entitas bisnis utama yang dikelola Tamansiswa saat ini.
1. Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST)
Didirikan pada 15 November 1955 oleh Ki Hajar Dewantara, kampus ini menjadi lembaga pendidikan tertinggi Tamansiswa yang bertujuan untuk mencetak para pendidik (sarjana/guru) dan pemimpin bangsa yang selalu berpedoman pada nilai-nilai Tamansiswa dalam menjalankan aktivitas akademiknya sehari-hari.
Kampus ini berlokasi di Jalan Kusumanegara No. 157, Muja Muju, Umbulharjo, Kota Yogyakarta, dan telah berhasil mencetak lulusan-lulusan unggul yang kini menjadi pemimpin di bidangnya masing-masing.
2. Jaringan Yayasan & Sekolah
Selain kampus, Tamansiswa juga memiliki jaringan yayasan dan sekolah yang tersebar luas di seluruh Indonesia. Seluruh sekolah dan tingkatan Taman Indria (TK) yang berjumlah 129 cabang ini dikelola langsung oleh Majelis Luhur Persatuan Tamansiswa, melalui aset yayasan secara mandiri dan berkelanjutan.
3. Wirausaha Sosial
Tidak hanya lembaga pendidikan formal, Tamansiswa juga merambah dunia wirausaha, sebagai salah satu penopang perekonomian nasional.
Aspek kewirausahaan yang diajarkan KHD (Ki Hajar Dewantara) juga diimplementasikan melalui pendidikan vokasi/kejuruan (SMK Tamansiswa), dan pengabdian masyarakat secara langsung di lapangan, guna membangun kemandirian ekonomi bagi masyarakat sekitar.
***
Semua entitas bisnis itu tentunya harus berpegang teguh pada nilai-nilai Tamansiswa yang diajarkan oleh Ki Hajar Dewantara, yakni menganut falsafah kemerdekaan, budi pekerti, dan kebudayaan, yang dikemas melalui semboyan kepemimpinan, Sistem Among, Panca Darma, dan Tri Pusat Pendidikan.
Maka tak heran, di usianya yang sudah mencapai 104 tahun pada 2026 ini, Tamansiswa masih menjadi salah satu pelopor pendidikan unggul di Indonesia, di mana sang pendirinya sendiri juga merupakan bapak pendidikan nasional, yang memiliki nilai-nilai luhur terkait dunia pendidikan, dan visi briliannya dalam membangun peradaban bangsa. (*)

