Prof Pujiharto: Sutan Takdir Alisjahbana Layak Pahlawan Nasional, Gagasan di Masa Lalu Brilian

2 Min Read
Dosen Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia, FIB UGM, Prof. Dr. Pujiharto, S.S., M.Hum., saat dikukuhkan sebagai Guru Besar Bidang Sastra Pascamodern di Balai Senat, Gedung Pusat UGM, Selasa (14/2/2026). Foto: ugm.ac.id

Mabur.co. – Sutan Takdir Alisjahbana (STA) dipandang layak diusulkan sebagai pahlawan nasional karena gagasan-gagasannya di masa lalu memiliki pengaruh besar dalam perkembangan kebudayaan di Indonesia.

Demikian pendapat Prof. Pujiharto, Guru Besar Bidang Sastra Pascamodern, Dosen Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia, FIB UGM, dalam pesan WA kepada mabur.co, Kamis (2/7/2026).

Pujiharto menjelaskan, rekam jejak STA sebagai pemikir sastra dan kebudayaan Indonesia memang bagus. Dalam polemik kebudayaan yang berlangsung pada 1930-an, STA tampil sebagai pemuda yang menggelorakan pentingnya kebudayaan Indonesia berorientasi ke Barat.

Menurut Pujiharto, bagi STA, orientasi ke Barat adalah pilihan paling strategis untuk membawa Indonesia pada kemajuan.

“Kembali ke Timur hanya akan membawa Indonesia pada kemunduran berpikir. Gagasan-gagasan STA, baik yang tertuang dalam esai maupun karya sastra, di kemudian hari terus didiskusikan untuk merefleksikan kembali bagaimana kebudayaan Indonesia bertumbuh dari masa lalu hingga ke yang mutakhir,” ujar Pujiharto.

Pidato Inovatif Pujiharto

Sebagai Guru Besar Bidang Sastra Pascamodern UGM yang dikukuhkan di Balai Senat UGM pada Selasa (14/2/2026), Pujiharto juga dikenal dengan pidato inovatifnya yang bertajuk Sastra Indonesia Pascamodern.

Dalam pidato Pujiharto, dikutip dari ugm.ac.id, Rabu (15/4/2026), dipaparkan pergeseran fundamental dalam lanskap kesusastraan Indonesia, khususnya transisi dari era modernisme menuju era pascamodern.

Ia menegaskan bahwa memahami sastra pascamodern bukan sekadar melihat urutan waktu, melainkan memahami perubahan puitika.

Pujiharto juga mengaitkan pluralitas ontologis dalam sastra dengan kondisi masyarakat kini yang acapkali menggunakan kecerdasan artifisial (AI) yang berimplikasi pada hiperrealitas atau ketiadaan asal-usul yang jelas.

Menurutnya, pluralitas ontologis kini makin anarkis seiring dengan penggunaan AI dalam kehidupan sehari-hari.

“Penggunaan AI telah memunculkan dunia-dunia yang saling bertabrakan antara satu dengan yang lain sehingga kita kesulitan mengidentifikasi yang mana benar dan mana yang artifisial,” tuturnya.

Melalui dekonstruksi dan pemahaman puitika ini, Pujiharto berharap agar masyarakat modern kini lebih siap menghadapi ketidakpastian fakta di masa depan.

“Perubahan yang terjadi memerlukan kesiapan kita semua untuk menghadapinya, apalagi kampus yang selama ini dipandang sebagai garda depan perubahan,” pungkasnya. ***

Share This Article
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar