Bersaing dengan Sekolah Modern, Tamansiswa Masih Berdiri Kokoh

7 Min Read
Line of students in white uniforms stand at attention in a flag-raising ceremony in a courtyard with an Indonesian flag nearby.
Siswa perwakilan dari sekolah Tamansiswa sedang menjadi petugas pengibar bendera, dalam rangka HUT ke-104 di halaman Pendopo Tamansiswa. (Foto: Setiaky A Kusuma)

Mabur.co- Majelis Luhur Persatuan Tamansiswa (MLPTS) menggelar acara peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-104 tahun Tamansiswa yang mencapai puncaknya, Jumat (3/7/2026).

Kegiatan itu ditandai upacara di halaman Pendopo Agung Tamansiswa dengan pembina upacara Ketua Umum BMPS DIY Ki Prof. Drs. H. Pardimin, M.Pd., Ph.D.

Upacara dihadiri Ketua Umum Majelis Luhur Persatuan Tamansiswa, Ki Prof Sri Edi Swasono, yang pernah menjabat Menteri Koperasi RI serta keluarga besar Tamansiswa termasuk Pengurus Pusat, Pengurus Daerah dan Pengurus Cabang PKBTS di DIY.

Group of officials and participants standing in a line and saluting during a formal ceremony under a red-and-white decorated canopy.
Upacara dihadiri Ketua Umum Majelis Luhur Persatuan Tamansiswa Ki Prof Sri Edi Swasono (empat dari kiri) yang pernah menjabat Menteri Koperasi RI serta keluarga besar Tamansiswa termasuk Pengurus Pusat, Pengurus Daerah, dan Pengurus Cabang PKBTS di DIY. (Foto: Setiaky A Kusuma)

Ketua Umum Majelis Luhur Persatuan Tamansiswa, Ki Prof Sri Edi Swasono, mengatakan, seratus empat tahun adalah usia yang melampaui masa satu abad.

Usia yang bukan sekadar bilangan, melainkan rekaman panjang perjalanan sebuah lembaga pendidikan yang lahir dari semangat perjuangan.

Dibesarkan oleh kekuatan kebersamaan dan terus bertumbuh di atas akar kemerdekaan berpikir yang ditanamkan oleh sang pendiri Tamansiswa, yakni Ki Hadjar Dewantara.

Sri Edi Swasono mengatakan, Ki Hadjar Dewantara pernah berpesan, “Lakukan yang terbaik untuk anak-anak kita karena merekalah masa depan bangsa yang sesungguhnya.”

Pesan tersebut bukan warisan masa lalu, ia adalah kompas yang menjadi dan memandu langkah kita hari ini.

Sri Edi Swasono menjelaskan, pada tanggal 3 Juli 1922, di tengah kolonialisme yang mencekam negeri ini, Tamansiswa berdiri sebagai Paguron yakni sebuah taman tempat anak-anak bangsa bertumbuh merdeka.

Bukan dikekang oleh perintah semata, melainkan dituntun melalui keteladanan, dilatih dengan pembiasaan dan digembleng oleh kasih sayang.

Sistem Among Bukan Instruksi

Sistem among yang digagas Ki Hadjar Dewantara bukanlah sistem instruksi, melainkan sistem pengasuhan jiwa, di mana pamong hadir sebagai Ing Ngarsa Sung Tuladha Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani yang artinya di depan memberi teladan, di tengah membangun/memberi semangat, dan di belakang memberikan dorongan.

“Semboyan ini menjadi pedoman penting bagi kepemimpinan dan dunia pendidikan,” ucapnya, usai upacara, Jumat (3/7/2026).

Sri Edi Swasono mengatakan pula, tema peringatan HUT ke-104 adalah Berkarya dalam Kebersamaan dan Bertumbuh dalam Kemerdekaan.

Bukan sekadar rangkaian kata yang indah, tetapi untuk manifestasi dari jiwa Tamansiswa yang paling hakiki.

“Berkarya dalam kebersamaan bermakna bahwa setiap capaian mulia yang kita raih, setiap anak berhasil kita didik, setiap lembaga yang kita majukan adalah buah dari gotong royong. Semangat kekeluargaan dan kolaborasi yang telah menjadi roh perguruan sejak berdirinya Tamansiswa. Kita bukan institusi yang bekerja sendiri-sendiri, kita adalah keluarga besar yang bergerak bersama. Saling menopang, saling menguatkan, saling melengkapi menjadi kesatuan yang utuh,” katanya.

Sri Edi Swasono mengatakan lagi, ada empat amanat yang diajarkan Ki Hadjar Dewantara yakni pertama, perkuat kebersamaan dan kerukunan sebagai kekuatan utama.

Persatuan Tamansiswa juga tersebar di ratusan perguruan di seluruh Nusantara. Kekuatannya ada pada persatuan itu.

“Marilah kita jadikan HUT ke-104 ini sebagai momentum untuk bererat tali silaturahmi antarperguruan, antarpamong, antargenerasi. Tidak ada kemajuan yang diraih sendirian. Gotong-royong, saling tolong-menolong, saling melengkapi. Bukan sekadar warisan budaya, namun juga strategi keunggulan bangsa,” ujarnya.

Oleh sebab itu, semangat filosofi  Tri-N yakni niteni (mengamati), nirokke (meniru yang baik), nambahi (menambah, menghidupkan dan berinsiatif serta berinovasi) adalah metode belajar yang relevan sepanjang zaman.

“Ajarkanlah kepada generasi muda untuk mampu memiliki karsa. Orang harus memilih karsa. Pamong-pamong harus bisa membangkitkan karsa, kehendak atau intension yang menumbuhkan semangat untuk berbuat sesuatu. Untuk berbudaya, inovatif, dan kreatif pada dirinya. Tanpa karsa tidak akan ada sesuatu yang dapat digerakkan,” katanya.

Sri Edi Swasono menuturkan, seorang pamong harus merasakan perlunya membangkitkan karsa atau inisiatif untuk berbuat sesuatu. Para pamong adalah jantung perguruan.

Investasi pada kualitas pamong melalui pelantikan ketamansiswaan, penguatan dan kompetensi pedagogis dan peningkatan kesejahteraan. Bukan suatu pengeluaran melainkan suatu investasi yang terbaik pada kita untuk kita lakukan demi masa depan Tamansiswa.

“Saya mengajak seluruh pimpinan perguruan untuk menjadikan pengembangan sumber daya manusia sebagai prioritas utama, terutama meningkatkan mutu para pamong itu sendiri. Toh hakikat budaya kita adalah meningkatkan derajat kemanusiaan bangsa Indonesia.

Sekali lagi, meningkatkan derajat kemanusiaan bangsa Indonesia. Meningkatkan kemampuan dibentuk oleh modernisasi Indonesia. Dengan demikian, Tamansiswa dan unsur-unsurnya dapat menjadi self bedruiping, mampu mandiri, tidak tergantung pada kekuatan luar negeri. atau petualangan ekonomi,” katanya.

Sri Edi Swasono menjelaskan, jadikan Tamansiswa rumah yang ramah bagi semua. Tamansiswa dibangun sebagai taman sebuah tempat yang subur, hijau, ramah dan menyenangkan bagi yang ada di dalamnya.

“Setiap warga Tamansiswa, baik  tua ataupun muda, pamong, siswa laki-laki dan perempuan berhak merasakan kehangatan paguron yang sesungguhnya. Jadikan setiap sekolah Tamansiswa sebagai tempat di mana potensi setiap anak dihargai, dijaga dan dibebaskan, serta diarahkan untuk berkembang,” katanya.

Sri Edi Swasono menjelaskan, strategi menuju kongres 2027, akan diawali dengan rapat kerja daerah di lima wilayah daerah bimbingan dan diselenggarakan bimbingan daerah, dipimpin oleh Majelis Luhur Persatuan Tamansiswa.

Membangun Peradaban

“Ki Hadjar mendirikan Tamansiswa 104 tahun yang lalu. Beliau tidak sedang membangun sebuah sekolah biasa. Beliau sedang menanam sebuah peradaban. Tanggung jawab kita hari ini adalah memastikan bahwa peradaban itu terus tumbuh, terus berbuah dan terus menerangi perjalanan bangsa Indonesia,” katanya.

Sri Edi Swasono menambahkan, Tamansiswa ikut mendirikan Republik Indonesia. Ki Hadjar Dewantara adalah anggota BPUPKI dan PPKI yang memformulasi dua pasal yang paling penting di dalam Undang-Undang Dasar yaitu pasal 31 Undang-Undang Dasar 45 tentang pendidikan dan pasal 32 tentang kebudayaan, maka selayaknya negara ikut merasa Tamansiswa milik negara. Kita ikut mendirikan Republik Indonesia.  

“Negara harus merasa ikut memiliki Tamansiswa, sehingga Tamansiswa tidak disia-siakan. Tamansiswa sekarang disaingi habis-habisan oleh sekolah-sekolah baru yang didirikan oleh pemda-pemda. Sekolah itu gedungnya bagus, sarprasnya bagus, guru-gurunya digaji dengan minimum gaji, dan sekolahnya gratis. Kalau tidak hati-hati Tamansiswa akan tersungkur,” katanya.

Share This Article
Teruslah Berbuat baik kepada siapapun karena hal baik itu, akan kembali padamu dengan berbagai cara
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar