Mabur.co- Jogjakarta International Kite Festival 2026 hadir dengan inovasi baru yang menyasar generasi muda.
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) bersama tim Angkasa Satu berupaya bersama untuk memperkenalkan layang-layang di kalangan pelajar Indonesia.
Salah satu kegiatan yang dirancang dalam festival ini yaitu sebuah program ekstrakurikuler bernama “Kriya Reka Rakit Bambu dan Ragam Hias Layang-Layang” yang menyasar pelajar SMK.
Lestarikan Budaya Layang-layang
Program tersebut hadir sebagai upaya memperkenalkan sekaligus melestarikan budaya layang-layang kepada generasi muda melalui pendekatan pendidikan berbasis kreativitas dan sains.
Program yang diprakarsai oleh tim Angkasa Satu dalam rangka JIKF 2026 ini tidak hanya mengajarkan cara membuat layang-layang, tetapi juga membekali peserta didik dengan keterampilan merancang, merakit, menerbangkan, hingga memahami potensi industri layang-layang.

Program director Angkasa Satu, Rizal Rusyadi, menjelaskan bahwa kegiatan ini dirancang dalam bentuk ekstrakurikuler yang akan diimplementasikan di jenjang SMK.
Program tersebut sedang dalam masa proyek percontohan (pilot project) di dua sekolah yang ada di Yogyakarta.
Pada pelaksanaannya, program ini melibatkan guru sebagai pendamping ekstrakurikuler dan memperoleh pelatihan dari tim Angkasa Satu.
“Peserta tidak hanya belajar membuat layang-layang, tetapi juga memahami proses perencanaan, perakitan, teknik penerbangan, hingga peluang industri,” ujarnya saat ditemui di SMK 3 Kasihan, Bantul, Jumat (3/7/2026).
Rizal mengatakan, program tersebut melibatkan lima anggota dari tim Angkasa Satu dengan dukungan guru pendamping di setiap sekolah.
Pengenalan Ragam Layang-layang Internasional
Selain materi praktik, peserta juga dikenalkan pada ragam layang-layang nasional maupun internasional, teknik menerbangkan layang-layang, serta penggunaan bahan dan alat yang tepat dalam proses pembuatannya.
Pembelajaran dirancang dengan pendekatan STEAM (Science, Technology, Engineering, Arts, and Mathematics) sehingga mampu mengembangkan kreativitas sekaligus kemampuan sains, teknologi, dan matematika peserta.
Hasil dari pilot project akan diujicoba dan diterbangkan pada 11 Juli 2026 bertepatan dengan pelaksanaan Jogjakarta International Kite Festival 2026.
Tujuan utama dari program adalah untuk menciptakan regenerasi pelayang muda di Indonesia.
Rizal menilai bahwa di era saat ini, semakin sulit menemukan anak-anak yang tertarik menekuni dunia layang-layang karena banyak yang menganggap permainan tersebut monoton.
“Jadi sebetulnya layang-layang itu tidak hanya bersegi empat seperti yang kita lihat biasanya. Padahal layang-layang memiliki nilai budaya, seni, teknologi, bahkan potensi ekonomi yang sangat besar,” ungkapnya.
Rizal mengatakan, melihat peluang industri layang-layang masih sangat terbuka, permintaan pasar dari negara-negara Eropa terhadap produk layang-layang cukup tinggi sehingga dapat menjadi peluang usaha baru bagi masyarakat.
“Tantangan kita sebenarnya bukan pada kemampuan membuat layang-layang melainkan memahami teknik mulai dari standar bahan baku pembuatannya, teknik menjahitnya, sampai memahami ragam bentuk layangan internasional seperti apa.
Negara seperti Cina memiliki industri besar, tetapi masih belum mampu memenuhi seluruh permintaan pasar. Ini menjadi peluang bagi Indonesia untuk ikut mengembangkan industri layang-layang,” jelasnya. ***

