Menelusuri Jejak Perdagangan Nila di Kulon Progo, Pernah Kuasai Eropa 

4 Min Read
Sunny courtyard with stone terraces, trees, and small buildings in the background under a bright blue sky.
Bekas kolam penampungan nila di kawasan Eks Pengepul Nila Bulurejo di wilayah Pengasih, Kulon Progo. (Foto: JH Kusmargana)

Mabur.co – Jauh sebelum pewarna sintetis mendominasi industri tekstil dunia, wilayah Kabupaten Kulon Progo pernah menjadi sentra produksi nila atau indigofera, komoditas ekspor di masa Hindia Belanda.

Komoditas pewarna alami ini banyak diproduksi pabrik-pabrik pengolahan nila milik perusahaan Belanda sebagai bahan baku pewarna industri tekstil di berbagai negara Eropa. 

Pewarna alami yang dibuat dari proses perendaman dan fermentasi daun tanaman nila atau indigofera ini dikenal banyak dimanfaatkan untuk pewarnaan kain tradisional, tekstil, hingga batik.

Komoditas Ekspor Bernilai Tinggi

Pada masa kolonial Belanda, nila menjadi komoditas ekspor bernilai tinggi. Karena itu banyak pengusaha Belanda mendirikan perkebunan nila di wilayah Hindia Belanda, termasuk di Kabupaten Kulon Progo.

Berdasarkan penelitian mahasiswa Ilmu Sosial UNY, Anisa Sari Putri berjudul Pengaruh Berdirinya Perkebunan Sumbernila terhadap Masyarakat Adikarto Tahun 1880–1900, dikutip mabur.co, Kamis (9/7/2026) di wilayah Kulon Progo pernah berdiri perkebunan Sumbernila yang berlokasi di Distrik Sogan, Adikarto.

Dalam penelitian itu disebutkan perkebunan Sumbernila didirikan sekitar tahun 1880 oleh Perusahaan Belanda yang bekerja sama dengan Raja Pakualaman, KGPAA Paku Alam V.

Kabupaten Kulon Progo yang saat itu bernama Adikarto dipilih karena memiliki kondisi alam yang sangat mendukung.

Selain memiliki jenis tanah Grumosol dan Latosol yang subur, Kulon Progo juga memiliki curah hujan yang merata, serta sumber irigasi melimpah sehingga sangat ideal untuk budidaya tanaman nila.

Perkebunan Sumbernila ini kemudian berkembang pesat menjadi salah satu perkebunan nila swasta terbesar di wilayah Adikarto. Hasil produksinya dipasarkan hingga ke Eropa melalui perusahaan-perusahaan swasta yang berinvestasi di Hindia Belanda.

Jejak kejayaan komoditas Nila di Kulon Progo hingga saat ini bisa dilihat di kawasan Eks Pengepul Nila Bulurejo Pengasih. Di tempat inilah dahulu komoditas perkebunan berupa daun nila ditampung sebelum dikirim ke pabrik pengolahan yang ada di Semarang.

Sunlit village square with stone terraces, potted plants, and a teal-gabled building in the background.
Kawasan kompleks Eks Pengepul Nila Bulurejo, Pengasih, Kulon Progo. (Foto: JH Kusmargana)

Selain terdapat sebuah bangunan kuno yang dimanfaatkan sebagai gudang penampungan, di kompleks ini juga terdapat sebuah kolam besar berbentuk lingkaran berukuran kurang lebih 17 meter serta kedalaman 1 meter. 

Kolam ini di masa lalu diduga digunakan sebagai tempat memproses daun nila dengan cara direndam selama beberapa hari agar terfermentasi dan menghasilkan pewarna alami biru yang disebut indigo.

Dampak Ekonomi

Masih menurut penelitian tersebut, berkembangnya perkebunan nila di sejumlah wilayah seperti Wates, Temon, dan Pengasih, membawa dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar. Banyak warga bekerja sebagai buruh perkebunan maupun pabrik pengolahan nila. 

Namun di balik industri tersebut, para petani juga menghadapi berbagai beban kerja wajib dengan imbalan yang relatif kecil, sementara keuntungan terbesar dinikmati oleh perusahaan swasta dan pemegang hak sewa tanah.

Kejayaan nila akhirnya mulai meredup pada akhir abad ke-19. Masuknya pewarna sintetis produksi Jerman yang lebih murah dan mudah diproduksi membuat nila alami tidak lagi mampu bersaing di pasar internasional termasuk Eropa. 

Seiring menurunnya permintaan, produksi di perkebunan Sumbernila pun dihentikan. Sejak saat itulah masa kejayaan komoditas nila yang pernah menjadi salah satu penggerak ekonomi Kulon Progo mulai berakhir. 

Dengan melihat bangunan Eks Pengepul Nila Bulurejo di wilayah Pengasih, masyarakat masih dapat menelusuri jejak kejayaan industri pengolahan nila di wilayah Kulon Progo. 

Dengan mengunjungi tempat ini generasi muda dapat mempelajari sejarah bahwa di masa lalu wilayah Kulon Progo pernah memainkan peran penting dalam perdagangan pewarna alami dunia yang menguasai pasar Eropa. *** 

Share This Article
Avatar photo
Jurnalis lahir dan tinggal di Jogja
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar