Mabur.co – Sejumlah warga pesisir Pantai Trisik Kulon Progo melakukan upaya konservasi dengan menanam ribuan pohon mangrove di kawasan muara Sungai Progo yang berada tak jauh dari desa mereka.
Selain bertujuan menjaga kondisi lingkungan sekitar serta mencegah berbagai potensi bencana, upaya warga Dusun Bleberan, Kalurahan Banaran, Galur itu juga dilakukan untuk mengembangkan potensi di sektor pariwisata.
Dusun Bleberan sendiri terletak di bantaran Sungai Progo yang berada tak jauh dari muara Pantai Trisik. Kondisi geografis tersebut membuat dusun ini menghadapi berbagai ancaman potensi bencana.
Bencana rob atau kenaikan air laut, abrasi sungai serta pantai, gempa bumi, hingga bencana tsunami senantiasa mengancam dusun ini setiap harinya.
Dampak Abrasi
Salah seorang warga, Cahyo Kusuma, menyebut akibat terdampak abrasi yang terus menerus, sekian hektare lahan milik warga di bantaran sungai bahkan telah lenyap sejak beberapa tahun terakhir.
“Dulu dataran di dekat sungai ini sangat luas dan dimanfaatkan warga untuk bertani seperti menanam rumput sebagai pakan ternak. Tapi beberapa tahun terakhir semakin habis tergerus abrasi sungai,” katanya.
Menyadari hal tersebut, sejumlah warga yang tergabung dalam sejumlah kelompok, baik itu Pemuda Karang Taruna, hingga Kelompok Tani Hutan akhirnya melakukan gerakan penanaman mangrove.
Dengan dukungan berbagai pihak baik itu pemerintah, perguruan tinggi hingga lembaga swasta, gerakan penanaman mangrove dilakukan secara masif sepanjang bantaran sungai.
Selain sebagai bentuk mitigasi bencana tsunami maupun abrasi, penanaman mangrove ini juga dilakukan sejak beberapa tahun terakhir guna memaksimalkan potensi wisata yang ada.
Ribuan Mangrove
Wakil Ketua Pokdarwis Banaran sekaligus Wakil Ketua Kelompok Tani Hutan Tirto Manunggal Bleberan, Surono, mengatakan, hingga saat ini ada ribuan lebih tanaman mangrove yang ditanam di kawasan ini.
Hanya dalam beberapa tahun, tanaman mangrove tersebut telah tumbuh subur dan mampu meminimalisir dampak abrasi di sekitar sungai, sekaligus menjadi pengaman jika suatu saat terjadi bencana tsunami.
“Alhamdulillah tanaman mangrove yang dulu sudah kita tanam, saat ini mulai tumbuh besar. Meski begitu kita akan terus melakukan upaya penanaman karena masih banyak lahan yang belum tersentuh,” katanya, Senin (13/7/2026).

Untuk mewujudkan rencana tersebut, warga sendiri berupaya melakukan pembibitan mangrove secara mandiri dengan membentuk kebun bibit berkapasitas 50 ribu bibit. Kebun bibit ini dibentuk untuk mememuhi kebutuhan bibit magrove yang sangat tinggi.
“Di awal-awal itu kita menanam mangrove dengan cara membeli bibit. Namun karena biaya yang sangat tinggi akhirnya kita mencoba membibitkan sendiri,” katanya.
Terdapat 2 jenis bibit mangrove yang dikembangkan warga yakni jenis rizhopora dan sonnetaria. Untuk jenis rizhopora warga sudah bisa membibitkan sendiri dengan membiarkan mangrove yang sudah ada. Sementara untuk jenis sonnetaria, warga masih harus mendatangkan benih dari Cilacap.
Selain untuk penghijauan di kawasan muara, upaya penanaman maupun pengembangbiakan bibit mangrove ini nantinya juga akan menjadi bagian program pengembangan kawasan konservasi berbasis wisata di Dusun Bleberan.
“Jadi warga masyarakat dari berbagai kalangan bisa ikut terlibat dalam melakukan kegiatan konservasi berupa penanaman mangrove di sini. Nanti bibit mangrove kita yang sediakan,” katanya.
Kembangkan Wisata Susur Sungai
Selain mengembangkan ekowisata berupa penanaman mangrove, warga juga mengembangkan berbagai kegiatan wisata lainnya. Mulai dari susur sungai, pengamatan burung hingga wisata hutan mangrove.
“Saat ini kita juga sedang akan memulai pembuatan trek atau jalur wisata hutan mangrove dengan membuat jembatan dari bambu. Meski masih tahap awal yakni dimulai sekitar bulan depan,” katanya.
Lewat upaya konservasi berbasis wisata inilah warga berharap dapat memperbaiki dampak kerusakan lingkungan di sekitar desa mereka. Sekaligus juga mengembangkan potensi wisata demi meningkatkan perekonomian dan kesejahteraan warga desa.

