Mabur.co – Sebuah bangunan tua bergaya Indis nampak berdiri megah di kawasan kompleks Pemerintah Kabupaten Kulon Progo.
Terletak tak jauh dari pintu gerbang sisi barat, bangunan ini sering dianggap sebagai bangunan paling ikonik di Kulon Progo.
Itulah Bale Agung Kulon Progo yang menjadi saksi bisu penyatuan Kabupaten Kulon Progo dan Kabupaten Adikarto sekaligus tonggak lahirnya Kabupaten Kulon Progo yang dikenal saat ini.
Bangunan Ikonik Cagar Budaya
Berkat arsitektur dan nilai sejarahnya yang sangat penting, Bale Agung kini telah ditetapkan sebagai Bangunan Cagar Budaya yang ada di Kabupaten Kulon Progo.
Dikutip mabur.co berdasarkan keterangan yang ada di bangunan tersebut, Rabu (15/7/2026), Bale Agung didirikan pada tahun 1918.
Hal itu bisa dilihat dari prasasti atau tetenger yang menempel di sisi kiri pintu utama bangunan dengan tulisan “Bale Agoeng 1918”.

Selain angka tahun, terdapat pula prasasti beraksara Jawa di sisi kanan pintu masuk. Tetenger itu merupakan sengkalan atau penanda tahun berdirinya bangunan yang berbunyi “Bale Agoeng Ngesti Prayogi Samadyaning Siniwi.”
Keberadaan kedua prasasti yang dibuat menggunakan batu marmer tersebut masih bisa dilihat hingga saat ini.
Gaya Arsitektur Sangat Unik
Tak seperti bangunan lain di kompleks Pemerintahan Kabupaten Kulon Progo, Bale Agung memiliki gaya arsitektur sangat unik. Bangunan tersebut dibangun dengan gaya Indis atau perpaduan arsitektur Eropa serta gaya tradisional Jawa.
Bangunan tunggal berbentuk kotak atau persegi ini dibuat menyolok dengan tinggi mencapai hampir 10 meter. Dindingnya terbuat dari bata tebal yang diplester khas bangunan di era kolonial.
Genteng dimanfaatkan di bagian atap yang berbentuk limasan. Sedangkan bagian langit-langit menggunakan papan kayu jati yang dipasang rapi memanjang.

Pada sisi timur, selatan, dan barat bangunan, masing-masing terdapat satu buah pintu utama serta tiga jendela. Sepeti halnya bangunan era kolonial lainnya, jendela dan pintu bangunan ini dibuat berukuran besar dengan model kepyak.
Di atas jendela juga terdapat kanopi serta rooster sebagai ventilasi udara alami.
Sementara itu, sisi utara bangunan hanya memiliki satu pintu tanpa jendela. Di setiap pintu juga terdapat tiga anak tangga sebagai akses menuju ruang utama.
Lantai bangunan Bale Agung ini nampak dibuat menggunakan tegel abu-abu berukuran 20×20 sentimeter yang menjadi ciri bangunan era awal abad ke-20.

Meski masih mempertahankan bentuk utamanya, Bale Agung tidak luput dari perubahan fisik akibat renovasi yang dilakukan pada masa-masa sebelumnya.
Dikutip situs resmi Dinas Kebudayaan DIY, beberapa perubahan tersebut antara lain hilangnya ventilasi rooster di atas jendela, hilangnya pilaster di kanan dan kiri pintu utama, perubahan sistem bukaan jendela, hingga hilangnya talang air yang dahulu mengelilingi tepian atap.
Selain itu, bagian dinding batur yang semula menggunakan batu andesit ekspos saat ini juga telah diplester sehingga mengubah tampilan asli bangunan.

Sebagai salah satu bangunan cagar budaya di Kulon Progo, Bale Agung bukan hanya memiliki nilai arsitektur, tetapi juga menjadi simbol perjalanan sejarah pemerintahan Kabupaten Bumi Binangun.
Bangunan ini mengingatkan masyarakat akan proses panjang terbentuknya Kabupaten Kulon Progo melalui penyatuan dua wilayah administratif pada awal dekade 1950-an.
Meski telah berusia lebih dari satu abad, Bale Agung tetap berdiri kokoh hingga saat ini. Bangunan ini juga masih kerap digunakan untuk berbagai kegiatan pertemuan atau rapat. Termasuk menjadi titik awal lokasi dimulainya Tradisi Jamasan Pusaka Agung yang digelar rutin setiap tahun. ***
