Bregada Ketanggung, Tanggung Jawab Pasukan Sangat Berat

2 Min Read
Men in traditional striped costumes marching with spears during an outdoor festival by the beach, with a crowd seated at a decorated stage and string lights overhead.
Sebagai kerajaan, Keraton Yogyakarta memiliki kesatuan prajurit yang disebut bregada. (Foto: Setiaky.A.Kusuma)

Mabur.co- Sebagai kerajaan, Keraton Yogyakarta memiliki kesatuan prajurit yang disebut bregada. Keberadaan prajurit ini tak lepas dari Perang Mangkubumen (1746–1755) antara Pangeran Mangkubumi dan VOC yang berakhir dengan Perjanjian Giyanti.

Kesatuan-kesatuan yang bertempur dalam perang itu kemudian menjadi cikal bakal prajurit Keraton Yogyakarta. Semula mereka menjaga keamanan dan kedaulatan, setelah perang usai, peran mereka bergeser menjadi pengawal kebudayaan yang melengkapi upacara-upacara keraton.

Komandan Bregada Ketanggung, Tian, menjelaskan, nama Bregada Ketanggung berasal dari kata tanggung berarti beban atau berat.

Secara filosofis ketanggung bermakna pasukan dengan tanggung jawab yang sangat berat.

Spesifikasi Bregada Ketanggung

“Termasuk prajurit Ketanggung adalah Cakra Swandana. Berbentuk empat persegi panjang dengan warna dasar hitam, di tengahnya terdapat bintang persegi enam berwarna putih. Cakra berarti senjata berbentuk roda bergerigi. Swandana berarti kendaraan atau kereta,” katanya saat ditemui usai mengisi pembukaan JIKF, beberapa waktu yang lalu.

Selfie of a man in a striped ceremonial jacket with gold trim, wearing a black headwrap, outdoors with a wooden fence in the background.
Komandan Bregada Ketanggung, Tian. (Foto: Setiaky.A.Kusuma)

Tian mengatakan pula, klebet ini juga memiliki makna bahwa ketanggung adalah pasukan yang membawa senjata dahsyat yang akan memporakporandakan musuh. Senjata yang digunakan oleh anggota Bregada Prajurit Ketanggung adalah tombak (waos) dan senapan.

Tombak pusakanya bernama Kanjeng Kiai Nenggala dengan bentuk ujung (dapur) yang dinamakan Nenggala.

“Pada saat berjalan cepat (mars), Bregada Prajurit Ketanggung diiringi dengan Gendhing Lintrikmas/Ricikanmas/Pragolamilir. Apabila berjalan lambat (lampah macak) akan diiringi dengan Gendhing Harjunamangsah dan Bimakurda,” katanya.

Tian mengatakan lagi, Bregada Ketanggung saat ini memasuki generasi keempat. Komunitas tersebut menjadi replika simbolik Prajurit Ketanggung Keraton Yogyakarta sekaligus menjaga warisan budaya Jawa.

“Saat ini, anggota Bregada Ketanggung berusia antara 18 hingga 75 tahun. Karena itu, regenerasi terus berjalan agar tradisi tetap lestari,” ucapnya.

Group of uniformed performers marching on a sandy beach during a parade, flags raised, with spectators lining the edge and string lights above.
Bregada Ketanggung. (Foto: Setiaky.A.Kusuma)

Tian berharap, Dinas Kebudayaan DIY melibatkan Forum Bregada Rakyat dalam berbagai kegiatan budaya. “Kolaborasi ini  akan memperkuat pelestarian budaya sekaligus meningkatkan peran bregada di tengah masyarakat,” katanya.

Tian berharap, bregada dapat berpartisipasi dalam berbagai agenda daerah, seperti festival layang-layang, ajang lari, dan kegiatan budaya lainnya. Dengan demikian, semangat nguri-uri budaya Jawa semakin kuat di Daerah Istimewa Yogyakarta.

Sementara itu, Bregada Ketanggung membuka kesempatan bagi masyarakat yang ingin bergabung. Tian menegaskan komunitasnya terbuka bagi siapa saja yang ingin ikut melestarikan budaya.

“Silakan bergabung bersama kami. Wong Jawa aja ilang Jawane,” tutupnya.

Share This Article
Teruslah Berbuat baik kepada siapapun karena hal baik itu, akan kembali padamu dengan berbagai cara
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar