Diterpa Berbagai Isu Miring, Piala Dunia 2026 Tetap Berjalan Sukses

9 Min Read
Group of athletes in red jerseys celebrate with medals as two suited men clap nearby in a stadium crowd.
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump (dua dari kanan), terlihat "nyempil" di tengah perayaan gelar juara Piala Dunia 2026 yang diraih Spanyol, usai menaklukkan Argentina dengan skor 1-0 di laga final yang berlangsung di MetLife Stadium, New York, Amerika Serikat. (Foto: Getty Images)

Mabur.co – Piala Dunia 2026 yang berlangsung di Amerika Serikat (AS), Meksiko, dan Kanada pada 11 Juni hingga 19 Juli 2026 lalu, bisa dibilang menjadi salah satu Piala Dunia terumit sepanjang sejarah.

Bagaimana tidak, Piala Dunia edisi ke-23 ini menjadi turnamen pertama yang diikuti hingga 48 tim, dengan total 104 pertandingan yang dimulai dari babak penyisihan grup A (Meksiko 2-0 Afrika Selatan), hingga laga final (Spanyol 1-0 Argentina) selama lebih dari satu bulan.

Satu hari bisa memainkan hingga empat laga, yang dimainkan hingga setengah hari (siang hari hingga malam hari waktu setempat).

Berbagai Isu Miring

Sementara jauh sebelum turnamen digelar, Piala Dunia kali ini juga telah diterpa berbagai isu miring, di antaranya terkait masalah penolakan visa untuk beberapa tim (terutama yang memiliki konflik dengan AS), lonjakan harga tiket yang cukup ekstrem, serta rumitnya masalah logistik dan tempat latihan untuk beberapa tim peserta.

Belum lagi isu di luar sepak bola seperti konflik geopolitik yang melibatkan AS dengan Israel dan juga Iran, yang sempat membuat publik bertanya-tanya mengenai kelangsungan turnamen di musim panas tahun ini.

Mengingat AS adalah salah satu pelaku dalam konflik di Timur Tengah tersebut, dan menyerang salah satu peserta Piala Dunia lainnya, Iran, yang kebetulan juga bertanding di AS selama penyelenggaraan Piala Dunia lalu.

Gonjang-ganjing Iran pun terus menjadi perbincangan panas di seluruh dunia selama beberapa pekan. Sampai akhirnya Iran mengajukan 10 syarat kepada FIFA (otoritas sepak bola tertinggi di dunia) pada akhir Mei lalu, terkait jaminan keamanan yang berhak mereka dapatkan selama berpartisipasi di turnamen kali ini.

Tidak hanya itu, Presiden FIFA asal Italia, Gianni Infantino, juga sempat turun tangan dan menemui langsung para pemain Iran dalam jeda internasional di bulan Maret lalu.

Guna meyakinkan pasukan Team Melli bahwa mereka tetap berpartisipasi di gelaran Piala Dunia 2026 lalu, sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan, meskipun negaranya tengah diserang secara membabi buta oleh AS sejak akhir Februari.

Two Iran soccer players in white uniforms bend over on the field, one resting a hand on the other’s shoulder in a moment of camaraderie amid a crowded stadium.
Pemain Iran tertunduk lesu setelah kembali meraih hasil imbang saat menghadapi Mesir di laga terakhir fase Grup G Piala Dunia 2026. Iran pun gagal lolos ke fase berikutnya (32 besar) karena hanya meraih tiga poin dari tiga pertandingan. (Foto: REUTERS)

Iran pun akhirnya tetap berpartisipasi di turnamen Piala Dunia 2026 sesuai dengan jadwal, namun markas latihan mereka terpaksa dipindahkan ke Tijuana di Meksiko.

Total Mehdi Taremi dan kawan-kawan menjalani sebanyak tiga pertandingan di fase Grup G, di mana mereka meraih tiga kali hasil imbang, masing-masing menghadapi Selandia Baru, Belgia, dan juga Mesir.

Mereka bahkan hampir saja lolos dari fase grup, sayangnya mereka hanya duduk di posisi ketiga grup G, dan tidak termasuk dalam delapan tim peringkat ketiga terbaik, yang berhak lolos ke babak 32 besar. Sehingga petualangan mereka pun harus kembali terhenti sejak fase awal.

Iklan Berkedok Jeda Minum

Salah satu yang cukup kontroversial dari perhelatan Piala Dunia lalu adalah hadirnya hydration break, yaitu jeda selama tiga menit di masing-masing babak, sebagai kesempatan untuk mengisi ulang tenaga, di tengah cuaca panas ekstrem yang melanda wilayah Amerika Utara di musim panas kali ini.

Namun dalam perkembangannya, hydration break lebih terlihat seperti momentum tambahan untuk menampilkan iklan komersial.

Terlebih para pemain juga tidak sepenuhnya memerlukan jeda semacam ini, mengingat tingginya intensitas pertandingan yang sedang berlangsung bisa buyar dalam sekejap, ketika diharuskan untuk jeda seperti itu.

Para pemain, pelatih, supporter, bahkan pengamat pun mengemukakan hal serupa, bahwa kehadiran hydration break lebih banyak merusak momentum pertandingan, serta menjadi ruang untuk tambahan iklan komersial, untuk ditampilkan di tengah-tengah pertandingan yang sedang berlangsung.

Membawa Pengaruh Politik ke Sepak Bola

Selain masalah Iran yang diawali dari konflik geopolitik di Timur Tengah, Piala Dunia kali ini juga membawa sejumlah masalah politik ke dalam ranah olahraga.

Salah satu yang cukup populer adalah bagaimana Presiden AS, Donald Trump, berhasil memengaruhi FIFA untuk menangguhkan hukuman kartu merah yang diterima oleh striker andalan negaranya, Folarin Balogun, yang sempat menerima kartu merah saat menghadapi Bosnia di babak 32 besar, agar bisa langsung bermain saat menghadapi Belgia di babak 16 besar.

Sayang kehadiran Balogun tetap tidak mampu membawa AS memenangkan pertandingan tersebut, sehingga harus tersingkir di babak 16 besar.

Selain itu, partai semifinal yang mempertemukan Inggris dengan Argentina juga sempat diwarnai keributan, setelah para fans Argentina kembali menyinggung soal kepulauan Malvinas, yang sempat menjadi rebutan antara Inggris dan Argentina melalui Perang Falkland pada 1982.

Setelah Argentina berhasil membalikkan keadaan dan lolos ke babak final, spanduk itu pun membentang luas di Atlanta Stadium (lokasi pertandingan Inggris menghadapi Argentina), dan menjadi pemantik pesan politik yang seolah masih belum usai hingga saat ini.

Presiden AS, Donald Trump, juga diketahui sempat memiliki masalah dengan Spanyol, sang juara dunia 2026, ketika otoritas Spanyol menolak permintaan Trump untuk menggunakan wilayah pangkalan militer di Spanyol, guna menjadi markas pasukan AS saat menyerang Iran, beberapa bulan lalu.

Trump yang hadir dan menyerahkan trofi Piala Dunia kepada Rodri (kapten timnas Spanyol) pun tampak canggung dalam momen tersebut, bahkan ia tidak sanggup menghindar sepenuhnya dari perayaan juara timnas Spanyol, sesaat setelah ia menyerahkan trofi kepada sang kapten tim Matador.

Dugaan Menjagokan Argentina Kembali Juara

Aerial view of a packed stadium with bright fireworks surrounding the field, a large Spanish flag laid on the pitch for a celebration.
Kembang api warna biru muda dan putih (yang identik dengan warna timnas Argentina) membentang di MetLife Stadium saat Spanyol merayakan gelar juara dunia 2026. Aksi ini dituding merupakan rencana FIFA yang lebih menginginkan Argentina keluar sebagai juara dunia. (Foto: Getty Images)

Banyak pihak juga menuding FIFA, selaku otoritas tertinggi sepak bola dunia, yang dianggap lebih mengunggulkan Argentina untuk dapat mempertahankan gelar juara di turnamen kali ini.

Terlebih dengan hadirnya sang mega bintang, Lionel Messi, yang menjadi daya tarik utama di turnamen ini. Pesona Messi dianggap mampu menjadi magnet yang dapat mendatangkan lebih banyak pasang mata, untuk menyaksikan Piala Dunia hingga babak-babak akhir. Apalagi supporter Argentina juga dikenal sangat loyal, dan selalu mendukung timnya dimana pun mereka bertanding.

Dengan skenario itu, tentu saja FIFA akan berkesempatan memperoleh lebih banyak pundi-pundi, ketika Messi dan Argentina terus melaju hingga partai final, dan sanggup mempertahankan gelar juara dunianya.

Sayangnya, Spanyol seolah menggagalkan “rencana” FIFA tersebut, dan berhasil merebut gelar juara dunia dari tangan Argentina dan juga Lionel Messi.

Di tengah-tengah perayaan skuad La Furia Roja, justru muncul percikan kembang api berwarna biru muda dan putih, yang sangat identik dengan warna kebesaran Argentina, alih-alih warna merah dan kuning, yang menjadi warna ciri khas Spanyol.

Aksi ini pun sempat diprotes oleh federasi sepak bola Spanyol (RFEF). Mereka menyayangkan hadirnya warna biru muda dan putih khas Argentina, di tengah perayaan gelar juara yang diraih Spanyol. Namun FIFA dengan tegas membantahnya, dan mengatakan bahwa itu merupakan protokol resmi turnamen, dan tidak ada sangkut pautnya dengan identitas timnas tertentu.

***

Terlepas dari semua masalah yang mewarnai Piala Dunia 2026 lalu, turnamen ini akhirnya tetap berhasil diselenggarakan hingga usai, di mana Spanyol akhirnya keluar sebagai pemenang akhir turnamen.

Berbagai ketidakpastian yang terus menghantui banyak pihak, akhirnya berhasil diselesaikan satu per satu oleh otoritas terkait, guna memastikan bahwa semuanya tetap berjalan sebagaimana mestinya, dan tidak ada satupun yang terlewatkan, hingga perayaan gelar juara.

Apapun itu, Piala Dunia kali ini tetap menyimpan sebuah pelajaran berharga, bahwa sepak bola atau olahraga tetaplah harus dibawa ke ranahnya sendiri, dan tidak perlu dicampuradukkan dengan politik atau kepentingan lainnya, yang justru berpotensi merusak seni keindahan olahraga itu sendiri, sebagai permainan menghibur yang begitu dinikmati oleh miliaran manusia di seluruh dunia. (*)

Share This Article
Avatar photo
Lulusan program studi Jurnalistik STMM Yogyakarta, Jurnalis mabur.co, Writing Is Journey Of My Life
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar