Perang Jawa, Pangeran Diponegoro Selalu Membuat Repot

3 Min Read
Battle scene in a tropical garden: soldiers fire, people flee, and a thatched pavilion burns in the background.
Lukisan penyerbuan Ndalem Tegalrejo, Yogyakarta. (Foto: Setiaky A Kusuma)

Mabur.co- Pangeran Diponegoro merupakan keturunan ningrat atau pejabat keraton. Tetapi hubungannya dengan pejabat Keraton Yogya tidak sepenuhnya berjalan mulus. Sang pangeran bahkan pernah bermusuhan dengan sang adik sendiri, Sultan Hamengku Buwono IV, saat bertakhta di Kesultanan Yogyakarta.

Trah Pangeran Diponegoro ke-6, R. Dwi Akseptoro TY, menuturkan, perang Jawa atau biasa dikenal dengan Perang Diponegoro merupakan peristiwa pertempuran yang fenomenal dalam sejarah Indonesia tahun 1825-1830.  

Pertempuran dalam perang Jawa melibatkan dua kubu yaitu pasukan Pangeran Diponegoro melawan pemerintah kolonial Hindia-Belanda.

“Penyebab meletusnya perang Jawa adalah karena sikap pemerintah kolonial Hindia Belanda yang sewenang-wenang terhadap rakyat Kesultanan Yogyakarta, kegelisahan politik di dalam Keraton Yogyakarta, dan konflik internal di Keraton Yogyakarta. Oleh karena itu, Pangeran Diponegoro dan pengikutnya melakukan pemberontakan untuk menegakkan keadilan kembali di tanah Keraton Yogyakarta,” katanya, Senin (20/7/2026).

Trah Pangeran Diponegoro ke-6, R. Dwi akseptoro TY. (Foto: Setiaky A Kusuma)

Menurut R. Dwi Akseptoro TY, sebelum menyandang nama Pangeran Diponegoro, sosok pahlawan nasional ini tercatat empat kali berganti nama.

Pertama, usai dilahirkan oleh Raden Ayu Mangkorowati pada 1785 namanya adalah Bendara Raden Mas Mustahar. Seiring memasuki masa remaja, namanya menjadi Raden Mas Ontowiryo. 

Namanya berubah lagi usai sang ayah yang bernama Pangeran Adipati Anom menjadi Sultan Hamengku Buwono III. RM Ontowiryo berganti nama menjadi Bendoro Pangeran Haryo Diponegoro. Raden Mas Ontowiryo merupakan anak laki-laki tertua dari Sultan HB III.

“Biasanya, anak laki-laki tertua para raja dinasti Mataram Islam akan menggunakan nama Pangeran Hangabei. Namun, saat itu ada pangeran lain yang lebih senior sehingga Raden Mas Ontowiryo menggunakan nama Bendoro Pangeran Haryo Diponegoro,” ucapnya.

Menurut R. Dwi Akseptoro TY pula, usai perang Jawa yang berlangsung 1825-1830, nama gelar Pangeran Diponegoro tak lagi dipakai baik oleh Kesultanan Yogyakarta maupun Kasunanan Surakarta.

Kenangan Buruk tentang Pangeran Diponegoro

“Kedua kerajaan ini rupanya kadung punya kenangan buruk bahwa sosok Pangeran Diponegoro itu bikin repot, terutama dengan pemberontakan yang pangeran lakukan,” ujarnya.

Perang Jawa dinilai juga memberi konsekuensi berat bagi Yogyakarta dan Surakarta. Kedua kerajaan dipaksa untuk menyerahkan wilayah atau kabupaten mancanegaranya di Jawa Tengah maupun di Jawa Timur kepada pihak Belanda. Hal itu sebagai ganti rugi biaya perang yang saat itu menggerogoti kas Kerajaan Belanda hingga 25 juta gulden.  

Penguasaan wilayah milik Keraton Yogyakarta dan Surakarta juga agar Belanda bisa menjalankan kebijakan cultuur stelsel atau tanam paksa menjadi lebih mudah. 

“Belanda bahkan sempat berencana menghapuskan sama sekali Kesultanan Yogyakarta dari peta Jawa. Namun, hal ini kemudian urung Belanda lakukan, karena menganggap eksistensi Keraton Yogyakarta masih diperlukan sebagai penyeimbang pihak Kasunanan Surakarta,” pungkasnya.

Share This Article
Teruslah Berbuat baik kepada siapapun karena hal baik itu, akan kembali padamu dengan berbagai cara
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar