Ingat Sejarah! 10 Juni 1867 Yogyakarta Dilanda Gempa 8,0 Skala Richter

5 Min Read
Historic street scene: a town square with a tall monument or column at a circular plaza, surrounded by small shops, trees, and early-20th-century traffic including bicycles and cars.
Tugu Pal Putih, tengara dan ikon Kota Yogyakarta yang sempat roboh saat terjadi gempa bumi dahsyat yang menjadi sejarah 10 Juni 1867. (Foto: Istimewa)

Mabur.co- Pada 10 Juni 1867, Pulau Jawa diguncang salah satu gempa paling mematikan dalam sejarah Indonesia.

Gempa yang kini diperkirakan berkekuatan magnitudo 8 itu menghancurkan Yogyakarta dan wilayah sekitarnya, menewaskan sekitar 1.000 orang, serta meninggalkan jejak sejarah yang masih relevan sebagai peringatan mitigasi bencana hingga saat ini.

Guru Besar Teknik Sipil, Universitas Islam Indonesia (UII), Prof. Ir. Sarwidi, M.Sc., Ph.D., IPU., ASEAN Eng, menuturkan, gempa Jawa 1867 bukan sekadar catatan sejarah, tetapi peringatan bahwa wilayah selatan Jawa merupakan kawasan yang sangat aktif secara seismik. Berpotensi mengalami gempa besar kembali di masa depan.

“Guncangan hebat tersebut merobohkan banyak bangunan penting. Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat mengalami kerusakan berat, kompleks Taman Sari hancur, kubah utama Candi Sewu runtuh, dan Tugu Golong Gilig cikal bakal Tugu Yogyakarta saat ini ikut roboh,” ujarnya, Senin (20/7/2026).

Portrait of a man wearing glasses, a dark suit, light shirt, and maroon tie, outdoors with a green, blurry background.
Guru Besar Teknik Sipil Universitas Islam Indonesia (UII), Prof. Ir. Sarwidi, M.Sc., Ph.D., IPU., ASEAN Eng. (Foto: Dok. Pribadi)

Menurut Sarwidi, peristiwa tersebut juga menunjukkan aktivitas Lempeng Australia menunjam ke bawah. Lempeng Eurasia mampu menghasilkan gempa yang merusak, meskipun sumbernya berada jauh di dalam lempeng.

Catatan Babad Pakualaman

Sumber sejarah lain juga menyebutkan, Babad Pakualaman mencatat gempa besar itu terjadi pada Senin Wage, 7 Sapar Tahun Ehe 1796 atau bertepatan dengan 10 Juni 1867.

Dalam catatan tersebut disebutkan sekitar 1.000 orang meninggal dunia akibat bencana yang terjadi menjelang fajar. Guncangan mulai terasa sekitar pukul 04.20 waktu setempat saat sebagian besar masyarakat masih beristirahat.

Dalam hitungan detik, rumah-rumah roboh, bangunan penting runtuh, dan kepanikan melanda berbagai wilayah di Jawa.

“Peristiwa tersebut kemudian dikenang masyarakat sebagai bagian dari ‘tahun bencana’ karena besarnya dampak yang ditimbulkan terhadap kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat saat itu,” katanya.

Menurut Sarwidi pula, catatan sejarah menunjukkan getaran gempa dirasakan di wilayah yang sangat luas, membentang sekitar 900 kilometer dari Banten hingga Bali.

Yogyakarta menjadi daerah yang menerima dampak terparah. Intensitas guncangan diperkirakan mencapai VIII hingga IX MMI atau cukup kuat untuk menyebabkan kerusakan berat pada bangunan.

“Guncangan berlangsung sekitar 70 detik dan disertai suara gemuruh yang keras. Durasi yang relatif lama membuat banyak bangunan tidak mampu bertahan,” katanya.

Dampak gempa bahkan dirasakan hingga Surabaya dengan intensitas sekitar VI-VII MMI. Sejumlah bangunan gereja juga mengalami keretakan dan beberapa fasilitas industri turut mengalami kerusakan.

Bencana Mematikan

Gempa Jawa 1867 ternyata memang menjadi salah satu bencana paling mematikan pada abad ke-19 di Nusantara. Di Surakarta saja tercatat sedikitnya 236 orang meninggal dunia akibat runtuhan bangunan. Belum lagi wilayah lain yang juga parah.

“Selain korban jiwa, ribuan penduduk kehilangan tempat tinggal dan harus menghadapi dampak bencana dalam waktu yang panjang,” ucap Sarwidi.

Apalagi keterbatasan sistem pendataan pada masa itu membuat jumlah korban sebenarnya diperkirakan bisa lebih besar dari angka yang tercatat dalam dokumen sejarah.

“Sebelum gempa besar terjadi, Gunung Merapi dilaporkan menunjukkan peningkatan aktivitas vulkanik selama beberapa pekan pada 1865,” katanya.

Peristiwa gempa bumi dahsyat lindu gedhe yang meluluhlantakkan Yogyakarta pada 10 Juni 1867 silam haruslah dilihat sebagai alarm sejarah yang sangat serius dari Sang Pencipta.

“Dari sudut pandang rekayasa kegempaan dan mitigasi bencana, tragedi di mana ribuan bangunan runtuh, mulai dari struktur keraton hingga monumen penting, membuktikan satu hal mutlak, yakni bukan gempa guncangannya yang membunuh manusia, melainkan kegagalan struktur bangunan,” kata Sarwidi lagi.

Budaya Siaga Bencana

Oleh sebab itu, sebagai bangsa yang tinggal di wilayah dengan potensi tektonik sangat tinggi, tidak boleh terus-menerus tunduk pada rasa takut. Melainkan harus arif membangun budaya siaga.

Belajar dari sejarah kelam 1867 dan gempa-gempa sesudahnya, sudah harga mati bagi untuk konsisten menerapkan kaidah bangunan tahan gempa, seperti konsep struktur sederhana yang kuat dan akrab dengan keselamatan rakyat.

“Kultur sadar bencana dan mitigasi struktural ini harus menjadi panglima agar ke depan guncangan sebesar apa pun tidak lagi menyisakan derita dan reruntuhan massal di bumi Yogyakarta tercinta,” pungkasnya.


Share This Article
Teruslah Berbuat baik kepada siapapun karena hal baik itu, akan kembali padamu dengan berbagai cara
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar