Mabur.co – Doni Tata Pradita adalah salah satu pembalap tersukses yang pernah dimiliki Indonesia.
Pembalap kelahiran Sleman, DIY pada 21 Januari 1991 ini merupakan juara di kelas underbone pada tahun 2003 dan 2004 saat mengikuti ajang Yamaha Asean Cup kelas 110cc 4T.
Di tahun 2005, ia juga berhasil meraih juara umum kategori Underbone 115cc di ajang Asia Road Racing Championship (ARRC). Prestasi ini menjadi salah satu pembuka jalan bagi kesuksesan pembalap-pembalap Indonesia lainnya di ajang tersebut sampai saat ini.
Di akhir tahun 2005 dan 2006, ia juga mendapat kesempatan berharga untuk menjalani wildcard di kejuaraan dunia atau kelas Grand Prix, tepatnya di kelas 125cc (sekarang Moto3) di sirkuit Sepang, Malaysia.
Tahun 2007 ia kembali mendapat kesempatan untuk menjalani wildcard di sirkuit Sepang, namun untuk berkompetisi di kelas 250cc (sekarang Moto2).
Setahun berselang, tepatnya di tahun 2008, akhirnya Doni berkesempatan menjajal kompetisi kejuaraan dunia selama satu musim penuh. Ia tampil bersama tim Yamaha Pertamina Indonesia Team di kelas 250cc.
Pada musim tersebut, ia hanya sanggup meraih 1 poin dari total 17 balapan yang dijalaninya di musim 2008. Sebiji poin itu diraihnya di balapan GP China di sirkuit Shanghai, di mana ia finish di posisi ke-15.
Karena prestasinya yang kurang maksimal di kelas 250cc, ia pun terpaksa turun ke kompetisi balap produksi massal, yakni World Supersport pada tahun 2009, dengan mengendarai motor YZF-R6.
Tampil selama satu musim penuh di ajang tersebut, Doni hanya sanggup meraih 8 poin dari total 12 balapan yang dijalaninya.
Doni kembali mendapat kesempatan kedua untuk tampil di kejuaraan dunia pada tahun 2013, dengan membela tim Federal Oil Gresini Team di kelas Moto2 selama satu musim penuh. Lagi-lagi ia hanya sanggup meraih satu poin di kategori tersebut, yang diraihnya pada seri Australia di sirkuit Philip Island.
Di akhir musim, ia bertengger di urutan ke-29, yang menjadi peringkat terakhir dari keseluruhan pembalap yang meraih poin pada musim tersebut.
Secara umum, prestasi Doni di kancah internasional bisa dibilang masih kurang memuaskan. Akibatnya, ia sering bergonta-ganti kompetisi setiap tahunnya, hingga akhirnya kembali ke level nasional, serta mulai mendirikan sekolah balap sendiri (bernama Doni Tata Pradita (DTP) Racing School), untuk menyiapkan talenta-talenta baru berikutnya di masa depan.
Adapun salah satu faktor kurang kompetitifnya Doni selama berkiprah di ajang internasional adalah karena kurangnya dukungan dana atau sponsor dari berbagai pihak. Di mana dukungan dana adalah salah satu faktor yang dapat memperkuat paket motor yang dikendarai sang pembalap di atas lintasan.
Suksesor yang Melampaui Kiprah Doni

Doni awalnya memiliki impian untuk berkompetisi di ajang MotoGP, yang merupakan kelas balap tertinggi di seluruh dunia.
Namun dengan kenyataan hanya sanggup bersaing di barisan belakang pada ajang Moto2 dan 250cc, Doni pun harus merelakan impiannya tersebut, dan harus kembali ke level nasional, untuk berkompetisi di berbagai kejuaraan nasional, serta mulai mengurusi bisnis bengkel dan properti yang dikelolanya di Yogyakarta.
Sekian tahun setelah tidak lagi aktif sebagai pembalap profesional, Doni kini patut berbangga, karena adik-adik generasi penerusnya telah mampu menembus kancah internasional, bahkan sanggup melampaui pencapaian Doni selama beberapa tahun menjadi pembalap reguler di level internasional.
Jika Doni hanya sanggup mengoleksi total dua poin selama dua tahun berkiprah di World Championship (kejuaraan dunia), maka dua penerusnya di masa kini, yakni Mario Aji dan Veda Ega Pratama, telah berhasil melampaui pencapaian Doni di pentas kejuaraan dunia.
Mario Aji menjadi pembalap Indonesia pertama yang sanggup bertahan di ajang Grand Prix selama lebih dari satu tahun di kelas yang sama.
Hingga kini, pembalap asal Magetan, Jawa Timur ini telah menjalani musim kelimanya secara berturut-turut di ajang Grand Prix, dengan mengoleksi total 24 poin sampai pertengahan musim ini.
Setelah menjadi figur tunggal selama bertahun-tahun, Mario pun kini ditemani satu lagi pembalap penerus Doni Tata, yang juga berasal dari DIY, tepatnya dari Kabupaten Gunungkidul, yang bernama Veda Ega Pratama.
Memulai debut di kejuaraan dunia pada tahun 2026 ini, pembalap berjuluk Rocket Boy ini telah berhasil meraih sesuatu yang tidak pernah diraih oleh para seniornya di level yang sama, yakni meraih dua kali podium, bahkan sudah mampu dicapai di balapan kedua di Brazil.
Hingga paruh pertama musim 2026 ini, Veda telah berhasil meraih total 90 poin. Jumlah poin yang tak pernah mampu diraih oleh pembalap Indonesia manapun di ajang Grand Prix, termasuk Doni Tata sendiri.
Dalam acara Meet and Greet yang digelar di Monumen Serangan Umum 1 Maret 1949 beberapa waktu lalu, Doni Tata secara khusus mengapresiasi pencapaian Mario dan Veda, yang telah berhasil melampaui pencapaiannya di ajang Grand Prix.
“Tentunya saya sangat bangga ya, karena ada penerus saya dari Yogya yang prestasinya lebih gemilang, (yakni) Veda Ega, dan juga Mario (Aji), sekarang di Moto2. Itu kejuaraan dunia yang sangat kompetitif ya. Dan untuk berjuang di top 15 itu saya udah ngerasain sendiri cukup susah, ya. Jadi prestasi yang ditorehkan Mario sekarang itu sangat luar biasa, dan sudah melampaui saya. Apalagi Veda. Jadi kita perlu appreciate, dukung terus,” ucap Doni Tata di Monumen Serangan Umum 1 Maret 1949, beberapa waktu lalu.
Doni pun berharap bahwa keduanya suatu saat nanti bisa melangkah jauh hingga ke ajang MotoGP, sesuatu yang tidak pernah dicapai oleh seorang Doni Tata, ketika masih aktif sebagai pembalap profesional.
“Tentunya saya sangat bangga, dan selalu mendukung (kiprah) pembalap Indonesia, Veda dan Mario, untuk lebih sukses lagi ke depannya, dan (semoga) nantinya bisa sampai ke MotoGP. Karena impian saya dulu pengin balap sampai ke MotoGP, tapi (sayangnya) belum kesampaian, jadi mudah-mudahan, entah Mario atau Veda, bisa meneruskan perjuangan saya, (agar bisa sampai) di level MotoGP,” tambah Doni.
Semasa menjadi pembalap aktif, Doni juga belum pernah mengalami home race (sirkuit Mandalika) layaknya Mario dan Veda saat ini, karena dulunya ia hanya bisa balapan di sirkuit Sepang (Malaysia) sebagai lokasi balapan terdekat dari Indonesia.
Sehingga berbagai kemudahan dan prestasi yang telah ditorehkan oleh keduanya saat ini, menjadi sesuatu yang sangat disyukuri oleh seorang Doni Tata. Mengingat dulunya ia tumbuh sebagai pembalap dengan penuh keterbatasan dan ketidakpastian dalam berbagai aspek.
Doni pun berharap, baik Mario dan Veda akan mampu mempersembahkan podium atau bahkan kemenangan, dalam balapan Moto2 dan Moto3 seri Mandalika yang akan berlangsung di sirkuit Mandalika pada bulan Oktober mendatang. (*)
