Mabur.co – Kue apem menjadi salah satu kuliner legendaris yang memiliki nilai sejarah serta budaya yang begitu kental bagi masyarakat Jawa, khususnya di wilayah DIY dan sekitarnya.
Jajanan tradisional yang sudah dikenal selama ratusan tahun ini, bahkan menjadi bagian penting dalam sejumlah tradisi upacara keagamaan maupun upacara adat di lingkungan keraton maupun masyarakat Yogyakarta.
Selain kerap dijumpai dalam tradisi Ruwahan yang biasa digelar menjelang bulan Ramadan, kue apem juga menjadi bagian prosesi penting dalam rangkaian tradisi Hajad Dalem Tingalan Jumenengan Dalem atau peringatan kenaikan tahta sultan di Keraton Yogyakarta yang digelar setiap tahun.
Dikutip dari laman resmi Pemda DIY, kata apem sendiri diyakini berasal dari bahasa Arab, yaitu afuum atau affuwun yang memiliki arti ampunan. Dalam perkembangannya, kata tersebut dilafalkan oleh orang Jawa hingga menjadi apem.
Meski dibuat dari bahan yang sangat sederhana yakni tepung beras, kue apem menyimpan nilai-nilai filosofi tinggi yakni sebagai simbol permohonan ampunan kepada sang pencipta.
Menurut sejumlah sumber sejarah, sebagaimana dikutip dari Liputan6.com, kue apem pertama kali dibuat pada masa Wali Songo saat melakukan kegiatan dakwah dan menyebarkan agama Islam di Pulau Jawa.
Salah satu versi mengisahkan bahwa dahulu di wilayah Desa Jatinom, Klaten, pernah terjadi pageblug atau musibah hingga mengakibatkan penduduk mengalami kelaparan.
Melihat kondisi tersebut, seorang tokoh bernama Ki Ageng Gribig yang merupakan keturunan dari Prabu Brawijaya lantas menengok kondisi penduduk dengan ditemani oleh salah satu murid Sunan Kalijaga. Kedua tokoh tersebut lantas membuat kue apem dan membagikannya kepada seluruh penduduk desa.
Selain itu, mereka juga mengajak para warga untuk melafalkan kata qawiyyu yang berarti Allah Maha Kuat sembari memakan kue tersebut. Setelah mengonsumsi kue apem, warga desa pun akhirnya menjadi kenyang dan terhindar dari kelaparan.
Dari peristiwa itulah akhirnya muncul pemahaman filosofis tentang kue apem yang identik dengan permohonan maaf, baik permohonan maaf atas kesalahan yang telah diperbuat kepada Sang Pencipta maupun kepada sesama.
Hingga kini kue apem yang berbentuk bulat dan memiliki cita rasa gurih dan manis ini masih kerap digunakan sebagian besar kalangan masyarakat Jawa dalam berbagai ritual upacara tradisional, seperti syukuran, upacara kehamilan, sunatan, pernikahan, hingga upacara kematian.
Di tengah banyaknya ragam kuliner modern yang bermunculan saat ini, apem masih bisa dengan mudah ditemui di pasar-pasar tradisional. Apem bahkan tetap eksis dan menjadi salah satu kuliner ikonik khas Yogyakarta. ***



