Wujudkan Kedaulatan Kesehatan, Kemenbud Fasilitasi Sistem Pengobatan Tradisional Nusantara

3 Min Read
Assorted spices and spice blends arranged in bowls and scoops on a wooden table.
Ilustrasi. Obat herbal Nusantara. (Foto: Istimewa)

Mabur.co – Pemerintah rumuskan sistem pengobatan tradisional Nusantara TAWARUPA secara nasional. Rumusan itu diperlukan sebagai kerangka terhadap pengetahuan pengobatan tradisional Nusantara yang selama ini hidup di tengah masyarakat.

Kementerian Kebudayaan (Kemenbud) bersama Bappenas membahas penyusunan roadmap TAWARUPA dalam Focus Group Discussion (FGD) Nasional di Jakarta, Rabu (22/7/2026).

Forum ini menjadi langkah awal untuk menghimpun beragam praktik pengobatan tradisional Indonesia ke dalam sistem yang lebih modern, inklusif, dan berbasis riset.

Menteri Kebudayaan, Fadli Zon mengatakan, TAWARUPA tidak semestinya hanya dipandang sebagai upaya mempertahankan tradisi.

Menurutnya, pengetahuan pengobatan yang diwariskan antargenerasi memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi inovasi kesehatan dan produk bernilai ekonomi.

“Pengetahuan yang telah diwariskan turun-temurun harus berkembang menjadi pengetahuan yang terdokumentasi, praktik yang aman dan terpercaya, produk yang berdaya saing, sumber kesejahteraan masyarakat, serta sebagai sumber kekuatan bagi kedaulatan kesehatan,” ujar Fadli dikutip dari rilis resmi yang diterima mabur.co, Rabu (22/7/2026) malam.

Modal Besar Biodiversitas

Ia menilai Indonesia memiliki modal besar untuk mengembangkan sistem tersebut. Kekayaan biodiversitas, pengetahuan masyarakat, manuskrip, praktik pengobatan, serta tradisi seperti jamu menjadi bagian dari warisan pengetahuan yang dapat dikembangkan lebih jauh.

Salah satu jalur yang didorong adalah pengembangan fitofarmaka, yakni obat berbahan alam yang telah melalui pengujian praklinis dan klinis. Menurut Fadli, fitofarmaka dapat menjadi jembatan antara pengetahuan tradisional dan perkembangan sains serta bioteknologi.

“Indonesia memiliki modal besar untuk mengembangkan fitofarmaka sebagai salah satu keunggulan kompetitif di bidang kesehatan, serta dapat menjadi alternatif dari ketergantungan kita terhadap obat impor,” katanya.

Direktur Jenderal Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi, Restu Gunawan, mengatakan penyusunan konsep TAWARUPA ditujukan untuk menjawab tantangan bagaimana pengetahuan pengobatan tradisional dapat tetap berakar pada budaya, tetapi juga memenuhi tuntutan ilmu pengetahuan modern.

“Konsep TAWARUPA menghimpun berbagai praktik pengobatan tradisional Nusantara dalam satu sistem yang modern, inklusif, dan berbasis riset,” ujarnya.

Praktik Pengobatan Tradisional

Praktik pengobatan tradisional di Indonesia sendiri sangat beragam. Mulai dari pemanfaatan tanaman obat dan ramuan herbal, terapi tubuh, hingga pola makan tradisional yang berkembang sesuai lingkungan dan kebudayaan masing-masing daerah.

Pengakuan jamu sebagai Warisan Budaya Takbenda Dunia oleh UNESCO pada 2023 menjadi salah satu bukti bahwa pengetahuan kesehatan tradisional Indonesia memiliki nilai penting di tingkat global.

Melalui TAWARUPA, pengetahuan tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai tradisi lisan atau praktik yang diwariskan secara turun-temurun. Pengetahuan itu didorong untuk didokumentasikan, diteliti, diuji keamanannya, dan dikembangkan agar dapat memberikan manfaat yang lebih luas.

FGD tersebut turut melibatkan Kementerian Kesehatan, Badan Pengawas Obat dan Makanan, Bio Farma Group, praktisi kesehatan, praktisi pengobatan tradisional, hingga budayawan.

Kementerian Kebudayaan berharap TAWARUPA dapat menjadi titik temu antara kebudayaan dan sains. Dengan demikian, pengobatan tradisional tidak hanya dipandang sebagai peninggalan masa lalu, tetapi juga sebagai sumber pengetahuan, inovasi, dan potensi kemandirian kesehatan Indonesia di masa depan.

Share This Article
Avatar photo
Jurnalis lahir dan tinggal di Jogja
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar