Perkuat Destinasi ‘Sport Tourism’, Paralayang Girisembung Ikon Baru Kulon Progo 

3 Min Read
Paraglider with a yellow canopy gliding over patchwork farmland and distant hills under a blue sky.
Wisatawan terbang di atas Perbukitan Menoreh menggunakan Paralayang. (Foto: JH Kusmargana)

Mabur.co – Pemerintah Kabupaten Kulon Progo fokus mengembangkan sport tourism di tahun 2026 ini. Salah satunya dengan membuka destinasi wisata baru, Puncak Paralayang Girisembung di Kalurahan Banjarasri, Kapanewon Kalibawang.

Dari lokasi dengan ketinggian sekitar 300 meter ini, wisatawan akan diajak merasakan sensasi terbang melintasi hamparan persawahan dan Perbukitan Menoreh. Saat cuaca cerah, pemandangan Gunung Merapi dan Merbabu juga akan turut terlihat dari udara.

Kepala Dinas Pariwisata Kulon Progo, Sutarman, mengatakan pengembangan Paralayang Girisembung merupakan bagian dari upaya menghadirkan lebih banyak destinasi wisata berbasis olahraga atau sport tourism sejak beberapa tahun terakhir.

“Paralayang Girisembung akan kami fokuskan sebagai destinasi sport tourism,” kata Sutarman, Jumat (24/7/2026).

Menurutnya, destinasi tersebut dapat berkembang berkat pembangunan Puncak Girisembung, yang menjadi titik keberangkatan paralayang. Pembangunan kawasan itu memanfaatkan Dana Keistimewaan DIY dan dukungan APBD Kulon Progo.

Menangkap Potensi Wisatawan dari Borobudur

Pengembangan Paralayang Girisembung juga diarahkan untuk menangkap potensi wisatawan dari kawasan Borobudur yang berada di sisi utara Kulon Progo.

“Ini bagian dari upaya menarik wisatawan dari Borobudur untuk berkunjung ke Kulon Progo,” ujar Sutarman.

Posisi Kulon Progo yang berada di antara Yogyakarta International Airport (YIA) dan kawasan Borobudur dinilai menjadi peluang besar. Wisatawan dari luar daerah maupun mancanegara dapat pengalaman wisata baru sebelum melanjutkan perjalanan menuju destinasi lain.

“Dengan adanya destinasi baru ini, kami berharap semakin banyak wisatawan datang ke Kulon Progo, termasuk wisatawan mancanegara,” katanya.

Smiling man in a dark polo shirt outdoors under a wooden pergola with people seated in the background and a blue poster on a wall behind him.
Kepala Dinas Pariwisata Kulon Progo, Sutarman. (Foto: JH Kusmargana)

Pengembangan destinasi ini dilakukan bersama Pengurus Provinsi (Pengprov) Paralayang di bawah Federasi Aero Sport Indonesia (FASI) DIY.

Ketua Pengprov Paralayang DIY, Alfari Widyasmara, mengatakan sebelum digunakan sebagai lokasi penerbangan, puncak Girisembung telah disurvei selama sekitar tiga tahun.

Menurutnya, lokasi tersebut memiliki karakter yang cocok untuk berbagai kebutuhan. Tidak hanya penerbangan tandem bagi wisatawan, tetapi juga latihan atlet profesional hingga penyelenggaraan festival paralayang.

“Ketinggiannya sekitar 300 meter. Untuk wisata, waktu terbang sekitar 5 sampai 10 menit. Sementara penerbangan profesional bisa mencapai sekitar 30 menit, tergantung kondisi angin,” kata Alfari.

Penetapan Girisembung sebagai lokasi penerbangan paralayang juga tidak dilakukan secara instan. Berbagai proses survei dan pengujian dilakukan hingga lokasi tersebut mendapatkan izin untuk digunakan sebagai titik penerbangan.

Keamanan Terbang Wisatawan Terjamin

Bagi wisatawan yang ingin mencoba, aspek keamanan menjadi perhatian utama. Penerbangan tandem akan didampingi pilot yang memiliki lisensi dan sertifikasi.

“Semua pilot yang mendampingi penerbangan tandem memiliki izin, lisensi, dan sertifikasi. Jadi aman untuk siapa saja,” ujar Alfari.

Wisatawan juga mendapatkan perlindungan asuransi dalam aktivitas penerbangan.

Namun, Paralayang Girisembung tidak hanya diproyeksikan sebagai tempat wisata. FASI juga melihat peluang untuk menjadikannya sebagai tempat pembibitan atlet paralayang.

“Selain untuk wisata, tempat ini juga bisa digunakan untuk mencari bibit-bibit olahraga paralayang,” katanya.

Share This Article
Avatar photo
Jurnalis lahir dan tinggal di Jogja
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar