Akses Menuju Lokasi Jadi Tantangan Terbesar Pengembangan Wisata Paralayang Girisembung

3 Min Read
Red paraglider arcs across a blue sky over patchwork fields, with spectators on a hilltop viewing platform below.
Akses Menuju Lokasi Jadi Tantangan Terbesar Pengembangan Wisata Paralayang Girisembung Mabur.co – Kabupaten Kulonprogo kini memiliki destinasi sport tourism baru dengan berdirinya wisata Paralayang Girisembung, Kalurahan Banjarasri, Kapanewon Kalibawang. Dengan mengunjajal wisata dirgantara ini wisatawan bisa terbang menikmati indahnya lanskap persawahan serta perbukitan Menoreh dari atas ketinggian. Namun, keterbatasan akses menuju lokasi puncak bukit Paralayang Girisembung yang merupakan titik lepas landas, menjadi tantantan utama yang hadus dihadapi wisatawan. Berjarak sekitar tiga kilometer dari basecamp atau titik pendaratan, kondisi jalur menuju puncak bukit Paralayang Girisembung mengalami sejumlah kerusakan. Nampak lapisan cor mengelupas sementara sebagian aspal rusak hingga memunculkan banyak kerikil dam berbantuan. Hal itu ditambah dengan jalurnya juga menanjak dan cukup sempit sehingga membuat kendaraan roda empat sulit melintas, terutama saat berpapasan. Ketua Desa Wisata Banjarasri, Isfi Sholikah, selaku pengelola wisata dirgantara paralayang Girisembung tak menampik kondisi tersebut. Guna memudahkan pengunjung mengakses lokasi, pihaknya telah menyediakan jasa pengantaran atau ojek menggunakan sepeda motor. Saat ini, sebanyak 16 warga tterlibat untuk mengantar wisatawan menuju titik lepas landas dengan tarif Rp25.000 per orang. Perjalanan menuju puncak sendiri diperkirakan membutuhkan waktu sekitar 30 menit, termasuk untuk mengantar dan menjemput wisatawan maupun peralatan paralayang. "Memang, akses jalan yang masih mengalami sejumlah kerusakan menjadi kendala utama. Karena beberapa wisatawan juga mengeluhkan. Bahkan ada yang mengaku perjalanan menuju puncak terasa lebih menegangkan dibandingkan saat mereka sudah terbang menggunakan paralayang," ujarnya. Selain kerusakan jalan, persoalan lain juga adalah terkait masih minimnya papan petunjuk arah menuju lokasi puncak bukit Paralayang Girisembung. Sehingga wisatawan yang baru pertama kali datang berpotensi kesulitan menemukan lokasi titik lepas landas. Belum tersedianya jaringan listrik hingga menuju titik lepas landas di puncak bukit paralayang Girisembung juga membuat kawasan ini juga menjadi perhatian. Pasalnya hal itu membuat kawaan ini akan nampak gelap ketika aktivitas penerbangan berlangsung hingga petang. Pengelola pun mengaku telah mengajukan permohonan penyediaan jaringan listrik dan penerangan kepada pihak terkait untuk mengatasi masalah ini. Sehingga diharapka hal inipun dapat segera terealisasi dalam beberapa waktu ke depan. "Karena kita kan masih termasuk baru. Sehingga masih butuh banyak perbaikan. Mudah mudahan ke depan berbagai persoalan ini bisa segera teratasi sehingga bisa semakin mendukung perkembangan wisata Paralayang Girisembung," pungkasnya.

Mabur.co – Kabupaten Kulonprogo kini memiliki destinasi sport tourism baru dengan berdirinya wisata Paralayang Girisembung, Kalurahan Banjarasri, Kapanewon Kalibawang.

Dengan mengunjajal wisata dirgantara ini wisatawan bisa terbang menikmati indahnya lanskap persawahan serta perbukitan Menoreh dari atas ketinggian. 

Namun, keterbatasan akses menuju lokasi puncak bukit Paralayang Girisembung yang merupakan titik lepas landas, menjadi tantantan utama yang hadus dihadapi wisatawan.

Berjarak sekitar tiga kilometer dari basecamp atau titik pendaratan, kondisi jalur menuju puncak bukit Paralayang Girisembung mengalami sejumlah kerusakan. 

Nampak lapisan cor mengelupas sementara sebagian aspal rusak hingga memunculkan banyak kerikil dam berbantuan. 

Hal itu ditambah dengan jalurnya juga menanjak dan cukup sempit sehingga membuat kendaraan roda empat sulit melintas, terutama saat berpapasan.

Ketua Desa Wisata Banjarasri, Isfi Sholikah, selaku pengelola wisata dirgantara paralayang Girisembung tak menampik kondisi tersebut. 

Guna memudahkan pengunjung mengakses lokasi, pihaknya telah menyediakan jasa pengantaran atau ojek  menggunakan sepeda motor. Saat ini, sebanyak 16 warga tterlibat untuk mengantar wisatawan menuju titik lepas landas dengan tarif Rp25.000 per orang.

Perjalanan menuju puncak sendiri diperkirakan  membutuhkan waktu sekitar 30 menit, termasuk untuk mengantar dan menjemput wisatawan maupun peralatan paralayang.

“Memang, akses jalan yang masih mengalami sejumlah kerusakan menjadi kendala utama. Karena beberapa wisatawan juga mengeluhkan. Bahkan ada yang mengaku perjalanan menuju puncak terasa lebih menegangkan dibandingkan saat mereka sudah terbang menggunakan paralayang,” ujarnya.

Selain kerusakan jalan, persoalan lain juga adalah terkait masih minimnya papan petunjuk arah menuju lokasi puncak bukit Paralayang Girisembung. Sehingga wisatawan yang baru pertama kali datang berpotensi kesulitan menemukan lokasi titik lepas landas.

Belum tersedianya jaringan listrik hingga menuju titik lepas landas di puncak bukit paralayang Girisembung juga membuat kawasan ini juga menjadi perhatian. Pasalnya hal itu membuat kawaan ini akan nampak gelap ketika aktivitas penerbangan berlangsung hingga petang. 

Pengelola pun mengaku telah mengajukan permohonan penyediaan jaringan listrik dan penerangan kepada pihak terkait untuk mengatasi masalah ini. Sehingga diharapka hal inipun dapat segera terealisasi dalam beberapa waktu ke depan.

“Karena kita kan masih termasuk baru. Sehingga masih butuh banyak perbaikan. Mudah mudahan ke depan berbagai persoalan ini bisa segera teratasi sehingga bisa semakin mendukung perkembangan wisata Paralayang Girisembung,” pungkasnya.

Share This Article
Avatar photo
Jurnalis lahir dan tinggal di Jogja
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar