Mabur.co –Keberadaan wisata baru olahraga Paralayang Girisembung dinilai memilki peran strategis dalam membuka peluang ekonomi baru bagi warga Kalurahan Banjarasri, Kapanewon Kalibawang, Kulon Progo.
Sejak mulai dibuka pada Mei 2026, destinasi sport tourism ini mampu menarik sekitar 20 hingga 30 wisatawan setiap akhir pekan. Mereka datang untuk mencoba terbang menggunakan paralayang dari kawasan Puncak Girisembung.
Wisatawan yang datang tidak hanya berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Sejumlah turis mancanegara juga mulai menjajal pengalaman terbang di atas lanskap Pegunungan Menoreh.
Namun, di balik pengalaman terbang tersebut, terdapat ekosistem wisata yang mulai menggerakkan masyarakat sekitar.
Paralayang Girisembung dikelola di bawah payung Desa Wisata Banjarasri dan menjadi salah satu unit usaha BUMDES Banjarasri. Sementara untuk aspek teknis penerbangan dan keselamatan, pengelola bekerja sama dengan Federasi Aero Sport Indonesia (FASI).
FASI terlibat sejak proses penentuan titik lepas landas, penyediaan pilot tandem, peralatan penerbangan, hingga berbagai prosedur keselamatan.
Dampak Perekonomian Masyarakat
Ketua Desa Wisata Banjarasri, Isfi Shokikah, mengatakan keberadaan Paralayang Girisembung diharapkan tidak hanya menarik wisatawan, tetapi juga memberikan dampak langsung terhadap perekonomian masyarakat.
“Adanya wisata olahraga baru ini sangat kami harapkan bisa berkontribusi terhadap perekonomian warga,” kata Isfi, Jumat (24/7/2026).
Salah satu dampak yang mulai terlihat adalah terbukanya lapangan kerja baru bagi warga, khususnya kalangan pemuda.
Mereka terlibat dalam berbagai aktivitas pendukung operasional wisata. Salah satunya menjadi pengantar wisatawan dari area bawah atau basecamp menuju titik lepas landas di puncak bukit.
Saat ini, sekitar 16 warga telah terlibat sebagai pengemudi ojek pengantar wisatawan. Mereka mengantarkan pengunjung menuju titik keberangkatan paralayang dengan tarif sekitar Rp25.000 per orang.

Bagi warga, aktivitas tersebut menjadi sumber penghasilan baru yang muncul seiring meningkatnya kunjungan wisatawan.
Sementara untuk menjadi pilot tandem, warga setempat masih harus melalui proses panjang. Pilot harus memiliki lisensi dan sertifikasi resmi serta memenuhi persyaratan jam terbang dan pengalaman yang ditetapkan.
Karena itu, untuk saat ini keterlibatan warga lebih banyak diarahkan pada bidang pendukung yang sesuai dengan kemampuan dan peluang yang tersedia.
Dampak ekonomi juga mulai dirasakan warga di sekitar kawasan wisata. Sejumlah masyarakat mulai membuka warung makan hingga menyediakan layanan homestay bagi wisatawan.
“Kalau hari Jumat Sabtu Minggu mulai semakin ramai. Banyak warga sekitar pun ikut merasakan manfaatnya. Seperti para pedagang yang dagangannya laris dibeli wisatawan,” katanya.
Optimalkan Masyarakat Lokal Kembangkan Paralayang
Sementara itu, Ketua Pengurus Provinsi (Pengprov) Paralayang DIY di bawah FASI, Alfari Widyasmara, mengatakan, pihaknya secara bertahap akan terus menyiapkan masyarakat lokal agar dapat terlibat lebih jauh dalam pengembangan aktivitas paralayang.
Menurutnya, masyarakat tidak seharusnya hanya menjadi penonton atau penerima dampak dari meningkatnya kunjungan wisatawan.
Ke depan, warga diharapkan dapat terlibat langsung dalam pengelolaan dan pengembangan aktivitas paralayang di desanya.
“Harapannya, masyarakat tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga bisa terlibat langsung sebagai bagian dari pengelola dan pelaku utama aktivitas paralayang,” ujarnya.
