Mabur.co- Kitiran merupakan permainan tradisional legendaris yang keberadaanya saat ini mulai surut peminat.
Kitiran merupakan mainan berupa baling-baling yang dapat mengeluarkan suara unik dan dapat dimainkan hanya pada saat musim kemarau.
Kitiran terbuat dari bambu atau kayu khusus yang dilengkapi dengan asesoris berupa tiang dan ‘obal-obal’ yang terbuat dari ‘blarak’ daun kelapa, berfungsi sebagai penyeimbang.
Pada saat tertiup angin kitiran akan berputar, kemudian setelah angin surut akan ‘ngandul’ mengeluarkan suara yang unik.
Dahulu anak-anak sampai orang dewasa rela menghabiskan waktu untuk ‘manjer’ atau memasang kitiran bahkan menunggui sampai larut malam di bukit dipasangnya kitiran tersebut.
Kitiran menjadi salah satu hobi yang menarik. Namun seiring perkembangan teknologi yang berkembang pesat, keberadaan mainan tradisional kitiran sepi peminat.

Kalurahan Sriharjo, Kapanewon Imogiri, Kabupaten Bantul, kembali menggelar Festival Kitiran sebagai bentuk pelestarian budaya dan permainan tradisional.
Tradisi Petani Mengusir Burung
Meskipun bukan agenda tahunan, festival ini diadakan untuk mengenalkan kembali tradisi petani zaman dahulu yang menggunakan kitiran sebagai alat pengusir burung di sawah.
Kegiatan berlangsung di Panggung Sono Seneng dan menghadirkan nuansa budaya yang kental. Tahun 2026 ini, Festival Kitiran digelar di Bulak Truli, Sriharjo, Imogiri.
Lurah Sriharjo, Titik Istiyawatun, mengatakan, Festival Kitiran lahir dari keinginan masyarakat untuk melestarikan permainan tradisional yang dulu akrab dimainkan anak-anak.
“Berangkat dari upaya melestarikan permainan tradisional kitiran, maka kegiatan festival ini diselenggarakan,” ujarnya, Sabtu (25/7/2026).
Menurut Titik, festival ini memiliki tujuan yang lebih luas dibanding sekadar menghadirkan hiburan. Kegiatan tersebut menjadi media promosi desa wisata Sriharjo sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat.
“Festival ini juga menjadi bagian dari upaya promosi desa wisata dan destinasi wisata di Sriharjo, menggerakkan UMKM lokal, serta mendorong lahirnya sentra kerajinan kitiran di Sriharjo,” katanya.
Ketua Pokdarwis Dewi Sri Sriharjo, Sumadiyono, menuturkan, melalui festival ini diharapkan seni tradisional dan kearifan lokal di Kalurahan Sriharjo dapat terus dikenal luas, menjadi daya tarik budaya tersendiri.
“Dukungan masyarakat yang luar biasa menjadi kekuatan utama untuk terus menghidupkan tradisi dan memperkuat identitas budaya daerah,” ucapnya.

Menurut Sumadiyono, Festival Kitiran juga terselenggara atas inisiasi dari Pokdarwis Desa Sriharjo bekerja sama dengan Forum Budaya Sriharjo atau Desa Budaya.
Dasar dari penyelenggaraan acara ini juga terkait dengan pariwisata, ingin memperkenalkan potensi atau destinasi wisata yang ada di Sriharjo, salah satunya Festival Kitiran tersebut.
Menghidupkan UMKM
Selain itu, tujuan lain dari kegiatan ini, bisa menjadi poros pergerakan UMKM atau perputaran ekonomi yang ada di sekitar Sriharjo.
Potensi mengenai kitiran itu sendiri cukup luar biasa, bisa juga menjadi benda seni yang mempunyai nilai strategis untuk dibuat atau diproduksi lebih lanjut. Baik menjadi karya seni alternatif berkelanjutan atau murni hanya berupa craft, kerajinan saja.
“Saya berharap ada kesadaran masyarakat bahwa membuat kitiran adalah satu hal yang menyenangkan dan menghasilkan. Jadi, secara organik nanti kita berharap budaya kitiran ini bisa terus ada di Sriharjo,” ucapnya.
Menurut Sumadiyono pula, untuk total kurang lebih 60-an buah kitiran. Memang kalau dilihat dari jumlah lebih banyak Festival Kitiran pertama.
“Tapi secara isi atau karya yang muncul, saya pikir tidak jauh berbeda untuk inovasi, sebagai perbandingan perbedaan tahun ini dengan tahun sebelumnya,” pungkasnya. ***
