Mabur.co – Siapa tak mengenal arisan. Sejak lama arisan telah menjadi bagian yang tak bisa dilepaskan dari kehidupan sosial masyarakat Indonesia.
Hampir semua lapisan masyarakat pernah melakukan arisan. Tua-muda, lelaki-perempuan, di desa atau di kota, orang kaya, orang biasa, bahkan kalangan elit pun melakukannya.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), arisan adalah kegiatan mengumpulkan uang atau barang yang bernilai sama oleh beberapa orang, kemudian diundi untuk menentukan siapa yang memperolehnya.
Populer Sejak 1970-an
Belum diketahui secara pasti bagaimana awal mula arisan berkembang di Indonesia. Namun istilah arisan mulai populer di era tahun 1970-an.
Kegiatan ini terutama lekat dengan kehidupan perempuan, termasuk para ibu di lingkungan perdesaan atau pun perkampungan kota.
Staf pengajar di Jurusan Sastra Indonesia, Universitas Pamulang, Tangerang Selatan, Varatisha Anjani Abdullah, menyebut arisan sebagai cara sederhana masyarakat untuk menabung sekaligus menjaga hubungan sosial.
Dalam penelitian berjudul “Arisan sebagai Gaya Hidup”, sebagaimana dikutip mabur.co, Sabtu (25/7/2026), ia menyebut arisan bukan hanya tentang kegiatan untuk berkumpul lalu menentukan siapa yang mendapatkan uang lebih dulu.
Lebih dari itu, arisan juga menjadi bagian dari kegiatan gotong-royong dan saling membantu yang memang telah menjadi identitas masyarakat Indonesia.
Dalam kegiatan arisan, para anggota biasanya akan berkumpul secara rutin di rumah salah satu anggota. Mereka membawa iuran sesuai kesepakatan, kemudian mengikuti aturan yang telah disepakati bersama.
Besaran iuran biasanya akan disesuaikan dengan kemampuan ekonomi para anggota. Tujuannya agar kegiatan tersebut tidak memberatkan siapa pun.
Ruang Saling Membantu
Selain sebagai sarana menabung, arisan juga menjadi ruang untuk saling membantu. Ketika salah satu anggota mengalami musibah atau sakit, anggota lain dapat menyisihkan sebagian uang untuk membantu.
Tak hanya itu, arisan juga menjadi salah satu ruang bagi perempuan untuk berinteraksi dengan lingkungan sosialnya. Pasalnya di masa lalu, kaum perempuan khususnya ibu-ibu, lebih banyak beraktivitas di rumah untuk mengurus rumah tangga.
Namun dengan adanya arisan para ibu rumah tangga pun akhirnya memiliki kesempatan untuk bisa keluar rumah, bertemu dengan tetangga, dan membangun hubungan sosial dengan lingkungan sekitarnya.
Dalam perkembangannya, kegiatan arisan juga masuk ke dalam aktivitas PKK atau Pembinaan Kesejahteraan Keluarga. Baik itu di tingkat RT, RW, Padukuhan, Desa bahkan hingga Kecamatan.
Dari sinilah arisan menjadi bagian dari kegiatan sosial masyarakat. Arisan tidak hanya sekadar menjadi kegiatan untuk menabung bersama. Namun juga kegiatan membangun hubungan sosial di berbagai tingkatan wilayah pertemanan.
