Mabur.co – Sebagai sebuah kegiatan yang banyak dilakukan masyarakat Indonesia, arisan terus berkembang dan mengalami banyak perubahan.
Tak hanya bentuk, jenis maupun para pelakunya saja yang terus berkembang. Namun juga fungsi, tujuan, dan esensinya.
Jika dahulu arisan identik dengan pertemuan sederhana di rumah, balai desa atau kantor kalurahan, kini arisan bisa berlangsung di berbagai tempat. Mulai kafe, pusat perbelanjaan, hingga lounge hotel.
Jenis arisannya pun semakin beragam. Tidak hanya berupa uang, arisan kini juga dapat menggunakan emas, motor, mobil atau barang-barang mewah lainnya.
Perubahan tersebut menunjukkan bahwa arisan tidak lagi hanya menjadi sarana menabung. Di wilayah perkotaan, arisan juga berkembang menjadi bagian dari gaya hidup masyarakatnya.
Penelitian Varatisha Anjani Abdullah di kawasan Ciputat, Tangerang Selatan, dikutip mabur.co, Sabtu (25/7/2026), melihat fenomena tersebut melalui kelompok “Arisan Seleb” yang beranggotakan 13 perempuan paruh baya dengan kondisi ekonomi mapan.
Dosen Jurusan Sastra Indonesia, Universitas Pamulang, Tangerang Selatan, itu menyebut bahwa dalam kegiatan arisan ini, pasokan iuran uang atau barang dan siapa yang mendapatkan giliran bukan lagi yang utama.
Lebih dari itu, arisan telah berevolusi sebagai bagian dari kebutuhan seseorang untuk bersosialisasi dan berbaur dengan lingkungan pertemanannya.
Penanda Identitas Sosial
Agar bisa diterima mereka pun akan hadir dengan penampilan, barang, dan gaya hidup yang menjadi cerminan dari identitas sosial kelompok mereka.
Pakaian modis, barang bermerek, dan pilihan tempat pertemuan dapat menjadi simbol status seseorang. Sehingga arisan pun dapat berubah menjadi ruang untuk menunjukkan siapa diri seseorang dan bagaimana ia ingin dilihat oleh orang lain.
Di dalamnya juga muncul kompetisi. Para anggota dapat terdorong untuk tampil mengikuti tren dan menyesuaikan diri dengan standar kelompok.
Tidak ada aturan tertulis yang mewajibkan seseorang mengenakan pakaian tertentu atau menggunakan barang tertentu.
Namun, dorongan untuk tetap diterima dalam kelompok akan membuat seseorang mengikuti pola konsumsi yang sama.
Kondisi ini pun membuat fungsi dan tujuan arisan akhirnya berubah. Jika dahulu kesederhanaan dan gotong royong menjadi bagian penting, kini pola konsumsi dan pembentukan identitas sosial semakin menonjol.
Arisan akhirnya tidak hanya menjadi tempat untuk mendapatkan uang atau barang. Kegiatan ini juga menjadi ruang untuk membangun citra diri, menunjukkan gaya hidup, dan memperlihatkan posisi seseorang dalam kelompok status sosial.
Perubahan arisan tersebut menggambarkan perubahan masyarakat perkotaan. Ketika konsumsi semakin menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, barang dan gaya hidup juga semakin sering digunakan sebagai penanda identitas.
Arisan pun ikut berubah. Dari kegiatan sederhana untuk menabung dan bersilaturahmi, arisan kini berkembang menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat modern yang bisa saja jauh dari semangat gotong royong.
