Pengunjung Festival Kitiran Sriharjo Antusias Ikuti Pelatihan, Siap Jadi Ikon Kalurahan

2 Min Read
Group of people making paper crafts on mats under a pavilion at a daytime outdoor workshop.
Warga Sriharjo, baik anak-anak dan dewasa, sangat antusias mengikuti workshop atau pelatihan membuat kitiran dalam Festival Kitiran, Sriharjo, 2026 di Bulak Truli, Sriharjo, Imogiri, Bantul, Yogyakarta. (Foto: Setiaky A Kusuma)

Mabur.co- Minggu siang, pengunjung sangat antusias mengikuti workshop atau pelatihan membuat kitiran dalam Festival Kitiran Sriharjo 2026 di Bulak Truli, Sriharjo, Imogiri, Bantul, Yogyakarta. Peserta tidak hanya anak-anak saja, tetapi juga orang dewasa.

Perajin kitiran, Riyadi mengatakan, workshop atau pelatihan membuat kitiran merupakan agenda setahun sekali, dalam Festival Kitiran Sriharjo.

Ikon Kalurahan Sriharjo

“Tujuan diadakan workshop atau pelatihan membuat kitiran karena kitiran akan menjadi ikon Kalurahan Sriharjo,” katanya, Minggu (26/7/2026).

Riyadi mengatakan, kitiran adalah permainan yang terbuat dari bambu dan kertas sebagai baling-baling.

“Kitiran dapat menghasilkan suara yang unik dari setiap putarannya,” ucapnya.

Menurut Riyadi, untuk membuatnya sangat gampang dan bahannya sangat mudah dicari. Yakni, spon, kertas, clumpring pelepah atau selubung untuk membungkus ruas batang bambu.

Untuk membuat kitiran, harus membuat pola pada kertas karton dengan pensil terlebih dahulu. Lalu membentuk dua garis menyilang.

Selanjutnya, pada bagian tengah yang menjadi titik temu kedua garis silang tersebut, dibuat lubang kecil. Lalu potong kertas sesuai dengan garis silang yang telah dibuat dengan gunting.

“Potong hingga setengah atau mendekati sumbu poros. Setelah itu tekuk bagian yang telah digunting menuju arah poros. Lalu tusuk dengan paku payung atau jarum pentul pada bagian porosnya,” ujar Riyadi kepada mabur.co.

Anak Zaman Kini Tetap Tahu Kitiran

Riyadi berharap untuk anak zaman sekarang, bisa tetap mengenal kitiran.

”Kitiran sudah sangat jarang sekali ditemukan di toko-toko permainan, dikarenakan perpindahan zaman yang menyebabkan permainan ini kalah dengan permainan modern,” ucapnya.

People gathered under a wooden pavilion doing a crafts activity; a woman in a hijab and glasses sits at the table with blue paper windmill crafts in progress.
Salah satu peserta, Nandis, asal Rembang, Jawa Tengah (kanan). (Foto: Setiaky A Kusuma)

Salah satu peserta Nandis, asal Rembang, Jawa Tengah, mengatakan, jujur baru pertama kali membuat kitiran, jadi lumayan insightful.

“Saya sangat senang sekali karena bisa punya kesempatan untuk membuat kitiran secara langsung dengan yang ahli dari desa sini. Itu pengalaman yang luar biasa. Tadi ada kesulitan saat memotong pola yang terbuat dari gabus menggunakan cutter. Mungkin kalau pakai gunting lebih mudah,” katanya.

Share This Article
Teruslah Berbuat baik kepada siapapun karena hal baik itu, akan kembali padamu dengan berbagai cara
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar