Mabur.co – SDN Mboeng di Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), yang sempat viral dan menjadi sorotan publik karena kondisi bangunannya yang memprihatinkan akan mendapatkan program revitalisasi dari pemerintah.
Pemerintah pusat melalui Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) memastikan perbaikan sekolah tersebut masuk dalam program revitalisasi tahun 2026.
Tak hanya SDN Mboeng, pemerintah juga menyatakan akan melakukan revitalisasi terhadap sebanyak 1.487 sekolah lainnya di NTT. Pemerintah bahkan telah menyiapkan total anggaran mencapai Rp1,2 triliun lebih.
Direktur Sekolah Dasar Kemendikdasmen, Moch Salim Somad, mengatakan, tim kementerian telah turun langsung melihat kondisi SDN Mboeng dan memetakan kebutuhan perbaikannya.
“Sudah turun, langsung diperbaiki kelas yang rusak berat maupun yang darurat,” ujar Salim sebagaimana dilansir Antara, Jumat (11/9/2026).
Dua Kelas Rusak Berat
Kemendikdasmen mengakui masih adanya sejumlah keterbatasan fasilitas di SDN Mboeng dalam menunjang kegiatan belajar mengajar siswa. Pihaknya mencatat sebanyak dua ruang kelas mengalami kerusakan berat sehingga tidak dapat digunakan secara optimal.
Keterbatasan tersebut membuat sekolah masih menggunakan empat ruang kelas darurat untuk kegiatan belajar mengajar. Sementara 2 bangunan ruang kelas dibangun melalui dana swadaya masyarakat, termasuk sumbangan dari para orang tua siswa.
Dengan adanya program revitalisasi ini diharapkan fasilitas di SD Negeri Boeng maupun sekolah lainnya di NTT akan menjadi lebih baik. Dengan begitu kegiatan belajar mengajar siswa akan berjalan lebih maksimal di masa mendatang.
Kondisi SDN Mboeng yang memprihatinkan sendiri sebelumnya sempat viral dan menjadi perhatian warganet setelah foto dan informasi mengenai fasilitasnya beredar luas di media sosial.
Hal itu tak lepas karena di tengah fasilitas yang tidak memedai, SD ini justru mendapatkan bantuan perangkat digital berupa TV layar sentuh berukuran besar yang diberikan untuk mendukung pembelajaran.
Terlebih muncul informasi bahwa di sekolah tersebut belum ada jaringan listrik yang masuk ke desa, sehingga membuat bantuan TV menjadi tidak dapat dimanfaatkan.
