Mabur.co- Upaya pengelolaan sampah melalui inovasi pirolisis atau pengolahan sampah plastik menjadi bahan bakar dinilai dapat menjadi solusi alternatif persoalan sampah di Kota Yogyakarta.
Inovasi tersebut lahir dari kreativitas masyarakat Kampung Tompeyan yang tergabung dalam Bank Sampah Berlian RW 02 Tompeyan. Dengan memanfaatkan peralatan bekas seperti tabung freon dan drum, mereka merancang alat pirolisis sederhana yang mampu mengolah sampah plastik menjadi bahan bakar cair.
Peran Minyak Jelantah
Bank Sampah Berlian di Tompeyan, Kemantren Tegalrejo, Kota Yogyakarta, kembali mengembangkan inovasi pengolahan sampah residu pirolisis dengan memanfaatkan minyak jelantah menjadi bahan bakar.
Teknologi tersebut dinilai lebih efisien dibanding metode sebelumnya yang menggunakan tabung gas LPG 15 kilogram sebagai sumber panas.
Pengelola Bank Sampah Berlian, Eka Yulianta, mengatakan inovasi terbaru itu mampu memangkas biaya produksi sekaligus mempercepat proses pengolahan.
Dalam satu kali proses, alat yang dikembangkan dapat menghasilkan bahan bakar hingga sekitar satu liter.
“Awalnya kami menggunakan metode pirolisis dengan bahan bakar gas LPG 15 kilogram non-subsidi. Sekali pengolahan hanya menghasilkan sekitar 90 mililiter hingga satu liter jika alat terisi penuh,” ujarnya, Senin (27/7/2026).
Eka menjelaskan, metode terbaru mampu menyelesaikan proses pembakaran dalam waktu kurang dari satu jam.
Bahan baku yang dimanfaatkan merupakan sampah residu berupa plastik kemasan yang sudah tidak memiliki nilai ekonomi dan tidak dapat didaur ulang.
Untuk meningkatkan efisiensi pembakaran, Bank Sampah Berlian menambahkan kompor serta blower pada alat yang digunakan. Biaya pembuatan alat tersebut juga relatif murah.
”Untuk harga alatnya tidak sampai Rp120 ribu. Yang agak mahal hanya blower, tetapi bisa dipakai berulang kali sehingga biaya produksi menjadi jauh lebih rendah,” katanya.
Eka menuturkan, dalam proses pengolahan, sekitar 300 kilogram sampah residu diproses hingga menghasilkan bahan bakar cair.
Berdasarkan hasil pengujian, bahan bakar tersebut memiliki kadar sulfur sekitar 50 ppm, angka oktan (RON) minimal 91, serta emisi gas buang yang telah memenuhi standar Euro 4.
“Ini sudah memenuhi standar Euro 4 dari pengolahan 300 kilogram sampah residu,” ujarnya.
Eka menjelaskan, agar kualitas bahan bakar meningkat dan dapat diproduksi sesuai standar, hasil pirolisis masih harus melalui proses destilasi atau penyulingan di laboratorium.
“Kalau hasilnya didestilasi bisa mencapai RON 94, bahkan di atas Pertamax. Namun proses destilasi membutuhkan peralatan laboratorium yang biayanya cukup mahal,” jelasnya.
Eka menilai, minyak jelantah juga dapat diolah menjadi berbagai produk lain yang memiliki nilai tambah, seperti sabun, pupuk hingga pestisida.
Menurutnya, persoalan sampah dapat diatasi apabila masyarakat memiliki pengetahuan dan kreativitas dalam mengelola.
“Kalau sampah dikelola secara kreatif, akan menghasilkan sesuatu yang bermanfaat. Selama ini kita kurang pengetahuan sehingga cenderung menyalahkan sampah, padahal sebenarnya masih bisa dikelola dengan lebih baik,” tuturnya.
