TOFILOKA, Produk Suvenir Khas Yogyakarta Manfaatkan Limbah Ampas Tahu

2 Min Read
Product packaging for 'TOFI LOKA' healthy-fiber cookies, featuring a tall tower illustration on the left and a cluster of fried cookies in the foreground.
TOFILOKA, produk suvenir khas Yogyakarta yang memanfaatkan limbah ampas tahu sebagai bahan utama. (Foto: Dok. Muhammad Khairul Anam)

Mabur.co- Tim mahasiswa Program Studi Teknik Industri UAD, yang terdiri dari Muhammad Khairul Anam sebagai ketua, dengan anggota Mochamad Geren Wibisana, Adnan Bintang Nur F., Afifa Puspa Wardhana, dan Annida Shafa Salsabila, berhasil lolos Pendanaan Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha (P2MW) 2026 melalui inovasi usaha TOFILOKA, produk suvenir khas Yogyakarta yang memanfaatkan limbah ampas tahu sebagai bahan utama.

Ketua tim, Muhammad Khairul Anam, mengungkapkan rasa syukur atas pencapaian tersebut.

Menurutnya, keberhasilan lolos pendanaan P2MW merupakan buah dari kerja keras seluruh anggota tim, dukungan dosen pembimbing, serta kolaborasi yang terjalin selama proses penyusunan proposal.

“TOFILOKA hadir sebagai inovasi produk suvenir yang mengangkat konsep keberlanjutan. Produk ini memanfaatkan serat ampas tahu yang selama ini dianggap sebagai limbah menjadi berbagai suvenir bernilai estetika, ramah lingkungan, dan memiliki nilai ekonomi,” jelasnya, Rabu (29/7/2026).

Muhammad Khairul Anam, menuturkan, ide awal membuat produk ini dari dua persoalan yang saling berkaitan, yakni belum optimalnya pemanfaatan limbah ampas tahu yang berpotensi mencemari lingkungan serta meningkatnya kebutuhan wisatawan terhadap suvenir khas Yogyakarta yang unik dan memiliki nilai cerita.

Solusi Ubah Limbah Ampas Tahu

“TOFILOKA hadir sebagai solusi dengan mengubah limbah ampas tahu menjadi produk suvenir bernilai jual. Selain mengurangi limbah, produk ini juga mampu meningkatkan nilai tambah bagi pelaku UMKM,” katanya.

Muhammad Khairul Anam mengatakan, produk ini berbeda dengan suvenir pada umumnya, TOFILOKA memiliki sejumlah keunggulan.

Produk ini menggunakan bahan baku limbah yang ramah lingkungan, mengusung desain dengan identitas budaya Yogyakarta, memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi dibandingkan limbah yang belum diolah, serta mendukung penerapan ekonomi sirkular.

“Setiap produk juga memiliki nilai edukasi mengenai pentingnya pemanfaatan limbah menjadi produk yang bermanfaat,” ucapnya.

Muhammad Khairul Anam berharap, TOFILOKA dapat berkembang menjadi usaha yang mandiri dan berkelanjutan.

“Selain mampu menciptakan lapangan kerja, usaha ini juga diharapkan dapat memperluas pemanfaatan limbah ampas tahu menjadi produk bernilai tambah sekaligus menjadi salah satu suvenir khas Yogyakarta yang dikenal masyarakat luas,” katanya.

TAGGED:
Share This Article
Teruslah Berbuat baik kepada siapapun karena hal baik itu, akan kembali padamu dengan berbagai cara
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar