Pertunjukan Wayang Kulit Lakon ‘Srikandi Krido’ Meriahkan Festival Literasi Magetan

3 Min Read
Two women exchange a painted decorative fan during a cultural ceremony, with musicians and flower decorations in the background.
Dalang wanita Amanda Mutiara Kusuma Dewi, mahasiswi ISI Surakarta, yang tampil membawakan lakon 'Srikandi Krido' dalam Festival Literasi Magetan. (Foto: Kominfo Pemkab Magetan)

Mabur.co – Nuansa budaya mewarnai Festival Literasi dan Hari Kunjung Perpustakaan 2026 yang berlangsung di Kabupaten Magetan, akhir pekan ini. 

Hal itu terlihat dari penyelenggaraan pertunjukan wayang kulit dengan dalang Amanda Mutiara Kusuma Dewi, mahasiswi ISI Surakarta, yang tampil membawakan lakon ‘Srikandi Krido’. 

Kecakapan Perempuan

Digelar pada 10–12 September 2026, pertunjukan wayang kulit dengan lakon ‘Srikandi Krido’ dipilih karena dinilai mampu merepresentasikan keberanian, keteguhan dan kecakapan perempuan.

Pesan itu sekaligus menjadi gambaran bahwa perempuan juga memiliki ruang untuk tetap berkarya, berprestasi, sekaligus memimpin dan ikut menjaga kebudayaan.

Wakil Bupati Magetan, Kang Suyat, mengatakan, wayang tidak sekadar menjadi tontonan dalam festival tersebut. Wayang juga membawa nilai kehidupan, pendidikan karakter, filosofi, dan kearifan lokal.

“Budaya dan literasi bukanlah dua hal yang terpisah. Keduanya dapat berjalan bersama. Budaya memberikan nilai dan jati diri, sedangkan literasi memberikan pengetahuan dan kemampuan untuk mengembangkan diri,” ungkapnya dilansir prokopim.magetan.co.id, Sabtu (12/9/2026).

Festival yang mengusung tema “Literasi Bergerak, Magetan Nyaman, Maju dan Berkelanjutan” ini juga dikemas dengan berbagai kegiatan lain yang lebih dekat dengan kebutuhan masyarakat.

Pengunjung dapat mengakses sejumlah layanan publik dalam satu lokasi. Di antaranya pelayanan Samsat Magetan, administrasi kependudukan, layanan pertanahan, cek kesehatan gratis, dan donor darah.

Dengan konsep tersebut, festival tidak hanya menjadi tempat mengajak masyarakat membaca atau berkunjung ke perpustakaan.

Kenalkan Seni Tradisi

Rangkaian kegiatan itu juga menjadi ruang untuk mengenalkan seni tradisi, membuka kesempatan generasi muda berkarya, sekaligus menghadirkan pelayanan yang bisa langsung dimanfaatkan masyarakat.

Kang Suyat berharap Festival Literasi ini tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial setiap tahun. Namun mampu tumbuh menjadi ruang bersama untuk meningkatkan dan memberdayakan masyarakat secara luas.

“Semoga Festival Literasi ini menjadi ruang untuk menumbuhkan semangat membaca, belajar dan berkarya. Mari kita bersama-sama menjadikan perpustakaan sebagai pusat pembelajaran dan pemberdayaan masyarakat di Kabupaten Magetan,” tambahnya.

Lewat Festival Literasi Magetan 2026 ini diharapkan proses literasi dapat tumbuh dalam berbagai bentuk. Mulai dari membaca dan belajar, hingga menyaksikan wayang, mengenal nilai budaya dan mendapatkan pelayanan publik.

Kolaborasi pemerintah, perpustakaan, sekolah, komunitas dan masyarakat diharapkan membuat gerakan literasi semakin luas dan tidak berhenti hanya di ruang perpustakaan saja.

Share This Article
Avatar photo
Jurnalis lahir dan tinggal di Jogja
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar