Menilik Prospek Jualan Offline di Tengah Menjamurnya E-commerce

5 Min Read
Vendor wearing a mask at a colorful drink stall, assisting a customer who holds a QR menu flyer.
Ilustrasi. Pengunjung mal melakukan transaksi online melalui QRIS. (Foto: detik.net.id)

Mabur.co – Di tengah perkembangan teknologi informasi yang semakin marak saat ini, kemunculan e-commerce atau usaha di ranah digital (online) menjadi sesuatu yang tak dapat dihindari lagi.

Akibatnya, semua jenis usaha kini mulai mengalihkan fokusnya ke bidang digital, alias segala sesuatu yang mengandalkan jaringan internet, smartphone (gadget), atau komputer, untuk kegiatan bertransaksi secara digital atau daring (dalam jaringan).

Hal itu lantas menimbulkan pertanyaan baru, bagaimanakah kemudian nasib mereka yang masih berjualan secara konvensional, atau melalui sistem offline (mendatangi toko secara langsung) setelah menjamurnya e-commerce saat ini? Apakah eksistensi mereka akan punah begitu saja, atau justru mereka harus ikut bermigrasi ke ranah digital, dan semacamnya.

Menurut laporan dari Marketeers, Kamis (30/7/2026), usaha yang murni offline tidak akan sepenuhnya mati atau hilang begitu saja.

Hanya saja memang, mereka yang masih berkecimpung di bidang offline tetap harus melakukan sejumlah adaptasi, agar usaha mereka tidak benar-benar ditinggalkan pelanggan, sehingga usaha mereka tetap mampu bertahan, meskipun para kompetitor telah beralih sepenuhnya ke ranah digital (online).

Integrasikan Sistem Online dan Offline (Omnichannel)

Mau tidak mau, para pelaku usaha offline tetap harus belajar cara memasarkan produknya secara digital. Karena disadari atau tidak, pelanggan (terutama dari generasi muda) kini lebih banyak mencari sesuatu dari ponselnya masing-masing.

Untuk itu, setiap pelaku usaha perlu mempelajari yang namanya “digital marketing“, seperti memasarkan produk di website (landing page), media sosial, mesin pencari (google), dan sejenisnya.

Namun di saat yang bersamaan, mereka juga tidak perlu menutup toko offline-nya. Karena (calon) konsumen yang menemukan Anda dari internet, bisa di-generate dengan mengunjungi toko offline milik Anda, untuk melihat-lihat fisik produk secara langsung, serta melakukan transaksi akhir (jika kesepakatannya adalah COD – Cash on Delivery), dan seterusnya.

Meskipun berjualan di internet memang terkesan mudah dan cepat, namun pengalaman melihat produk secara langsung di toko tetap menjadi keunggulan tersendiri bagi toko offline, yang tidak dimiliki oleh toko yang full online.

Terlebih dengan impresi yang selama ini terbangun dari transaksi digital, yang seringkali mengandung unsur penipuan (misalnya foto produk berbeda dengan aslinya), sehingga pengalaman nyata dari toko offline tetap diperlukan oleh konsumen, untuk dapat membangun kepercayaan yang lebih tinggi.

Tanpa Proses Pengiriman (Kurir)

Selain tentang pengalaman nyata dan kepercayaan, toko offline juga memiliki satu keunggulan lainnya yang tidak dimiliki oleh jualan e-commerce, yaitu tidak melibatkan pihak-pihak lain seperti proses pengiriman (kurir), maupun pihak aplikasi (Shopee, Tokopedia, media sosial, Google, dan lain-lain), yang biasanya juga menyertakan biaya-biaya tambahan tertentu di dalam setap transaksi yang dilakukan.

Dengan berbelanja langsung secara offline, konsumen bisa langsung melihat produk yang ingin dibeli, melakukan transaksi, lalu pulang, tanpa harus memilih jasa pengiriman tertentu, atau voucher-voucher lainnya yang disediakan, dan seterusnya.

Sehingga proses transaksi pun akan berlangsung dengan lebih cepat, dan tidak bertele-tele.

Bisa Ditawar (untuk Produk Tertentu)

Melakukan transaksi di toko offline tidak hanya tentang jual-beli barang atau jasa, melainkan juga interaksi antarmanusia, yang sangat nyata dan hidup, ketika saling bertatap muka satu sama lain.

Hal itu tentu saja tidak akan terjadi dalam transaksi di ranah digital, yang murni merupakan proses jual-beli biasa.

Tidak hanya itu, bertransaksi secara offline juga memungkinkan konsumen untuk melakukan penawaran tertentu, dari harga awal yang disebutkan pertama kali oleh pedagang. Itu artinya, harga yang tertera tidak mesti langsung disepakati begitu saja, tapi juga mampu ditawar sedemikian rupa, agar harga akhir yang dibayarkan bisa sedikit lebih rendah.

Bahkan jika ada unsur-unsur tertentu, seperti faktor pertemanan dan lain-lain, maka harga akhir yang dipatok bisa jadi akan jauh lebih rendah dari harga aslinya, agar tercipta repeat order (pembelian ulang) di kemudian hari, dan seterusnya.

Dengan kata lain, berbelanja secara offline tidak hanya bertujuan untuk memperoleh barang yang ingin dibeli, namun juga sebagai sarana yang baik untuk membangun komunikasi dengan pihak lain (pedagang). Hal kecil itulah yang tidak akan terjadi dalam transaksi secara digital, meskipun segala sesuatunya tampak lebih mudah dan simpel.

***

Meskipun dunia sudah semakin bergerak ke arah digital (dalam semua hal, termasuk perdagangan), namun esensi utama dari interaksi antarmanusia tetaplah penting dan harus selalu dijaga, sehingga manusia tidak perlu canggung untuk menghadapi orang lain di sekitarnya. Karena memang di situlah tempat tinggal kita saat ini.

Sekalipun kehadiran digital telah membantu memudahkan segala hal, namun bukan berarti bahwa interaksi antarmanusia itu lantas dihilangkan begitu saja, termasuk dalam hal bertransaksi sehari-hari. (*)

Share This Article
Avatar photo
Lulusan program studi Jurnalistik STMM Yogyakarta, Jurnalis mabur.co, Writing Is Journey Of My Life
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar