Maestro Seni Lukis Nasirun Berpulang, Tinggalkan Duka bagi Polri

3 Min Read
Crowd gathered in a gallery-like room with framed art on the walls and long tables covered in a black-and-white patterned cloth displaying photographs or portraits.
Suasana di rumah duka almarhum Nasirun. (Foto: Setiaky A Kusuma)

Mabur.co- Maestro seni lukis Nasirun berpulang pada usia 6o tahun. Seniman asal Cilacap yang berdomisili di Yogyakarta itu bukan sembarang pelukis.

Sejak dekade 1990-an, namanya booming dan lukisan-lukisannya meledak di pasaran sampai dilabeli sebagai ‘seniman gorengan’.

Sejak tahun 1997, Nasirun ngeh kalau namanya kerap dilabeli sebagai ‘seniman gorengan’, bahkan sampai akhir hayatnya.

Polri Berduka

Kepergian maestro seni rupa Indonesia, Nasirun, Sabtu (1/8/2026), meninggalkan duka bagi berbagai kalangan, termasuk Kepolisian Negara Republik Indonesia.

Mantan Kapolda DIY, yang kini menjabat sebagai Asisten Logistik (Aslog) Kapolri,  Irjen. Pol. Suwondo Nainggolan, S.I.K., M.H, mengenang Nasirun bukan hanya sebagai seniman besar, tapi juga sosok yang selama ini menjadi sahabat diskusi sekaligus pemberi nasihat bagi jajaran kepolisian.

Close-up of a man with black hair and glasses in an outdoor area; others and greenery visible behind him.
Asisten Logistik (Aslog) Kapolri,  Irjen. Pol. Suwondo Nainggolan, S.I.K., M.H.
(Foto: Setiaky A Kusuma)

Menurut Suwondo, selama bertugas sebagai Kapolda DIY, memiliki hubungan yang cukup dekat dengan Nasirun.

Hubungan itu berawal dari berbagai kegiatan sosial dan kebudayaan yang melibatkan Polda DIY bersama para budayawan di Yogyakarta.

“Bagi Polri, khususnya Polda DIY, Nasirun bersama beberapa tokoh lain menjadi penggagas berbagai kegiatan sosial dan kebudayaan yang melibatkan Polri. Dari situ hubungan kami terjalin dan terus berlanjut,” katanya.

Menurut Suwondo pula, kedekatan tersebut tidak berhenti dalam forum resmi. Di luar berbagai kegiatan kebudayaan, Nasirun justru sering menjadi tempat berdiskusi mengenai berbagai persoalan sosial yang dihadapi masyarakat Yogyakarta.

“Bukan hanya memberi masukan budaya. Tapi juga sering cerita tentang kondisi masyarakat, daerah yang kekurangan air, bagaimana penghasilan warga, potensi wilayah, dan banyak hal lain. Dari situ kami mendapat pemahaman yang lebih utuh soal masyarakat sebelum mengambil langkah-langkah kepolisian,” ungkapnya.

Senang Filosofi Semar

Salah satu pesan yang paling membekas bagi Suwondo adalah filosofi tokoh Semar. Pernah dituangkan Nasirun dalam sebuah lukisan pada 2024. Saat suasana Pemilu. Lukisan tersebut kini disimpan di rumah pribadi.

“Beliau pernah melukis Semar. Lukisan itu bahkan belum selesai saat saya meminta agar diberi pada saya. Saya sangat suka filosofinya. Beliau mengatakan, budayawan itu ibarat Semar, harus mampu menaungi seluruh lapisan masyarakat, termasuk Polri. Filosofi itu sangat dalam bagi saya,” tuturnya.

Menurut Suwondo pula, Nasirun mampu menjembatani dunia seni, budaya, dan kehidupan sosial dengan pendekatan yang sederhana, tetapi sarat makna.

“Beliau selalu mengajarkan kami untuk merespons persoalan dengan arif dan bijaksana. Itulah yang akan selalu saya kenang dari sosok Nasirun,” ucapnya.

Share This Article
Teruslah Berbuat baik kepada siapapun karena hal baik itu, akan kembali padamu dengan berbagai cara
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar