Mabur.co- Sejak pagi hingga menjelang jam 2 siang, gelombang peziarah tak putus-putus memenuhi rumah duka maestro seni rupa, Nasirun, yang baru saja tutup usia.
Kerabat, rekan sejawat, hingga sejumlah tokoh nasional berduyun-duyun memberi penghormatan terakhir untuk seniman yang dikenal suka berbagi tersebut.
Orang yang Menolong
Sebagaimana namanya, “Nasirun”, dalam bahasa Arab berarti orang yang menolong. Dan memang begitulah sosok seniman asal Cilacap, Jawa Tengah, itu dalam ingatan banyak orang.
Vokalis utama grup musik ska legendaris Shaggy Dog, Heru Wahyono, memandang Nasirun sebagai figur yang mampu merangkul berbagai lintas profesi.

(Foto: SetiakY A Kusuma)
Menurut Heru, sang maestro bukan sekadar seniman besar, melainkan teladan nyata dalam memancarkan kebahagiaan saat berkarya.
“Saya bertemu beliau beberapa kali. Orangnya baik dan jenaka, karya-karyanya juga fenomenal. Beliau itu seperti teman semua orang, mulai dari seniman hingga musisi. Perilaku almarhum yang selalu menginspirasi saya adalah bagaimana beliau senantiasa berkarya dengan gembira dan bisa menjalin hubungan yang sangat baik dengan semua kalangan. Sugeng tindak, Pak Nasirun,” ucapnya.
Sementara itu, Rapper dan pendiri Jogja Hip Hop Foundation (JHF), Marzuki Muhammad atau kerap disapa Juki, merasa heran sekaligus takjub dengan sikap mendiang Nasirun yang tidak memiliki media sosial.
Tak Tergantung Algoritma
Menurut Juki, sikap yang diambil oleh Nasirun merupakan sosok yang hidup tanpa gawai dan merdeka tanpa tergantung algoritma media sosial.
Mengingat seniman-seniman muda sekarang banyak mempertimbangkan algoritma media sosial agar karya-karyanya viral.
“Pak Nasirun tidak mau terpenjara dengan hal semacam itu, dan karya-karyanya pun tetap kontekstual meskipun dia tidak terpenjara dengan tuntutan algoritma media sosial. Luar biasa sih,” ucapnya.

Juki juga mengenal Nasirun sebagai sosok guru dan sahabat. Belum lama ini Nasirun mengungkapkan keinginan untuk menggelar pameran di peternakan miliknya, karena saya punya pertanian dan peternakan.
“Aku kok pengen pameran di kandang pitikmu (ayam). Di luar karya-karyanya yang luar biasa, dia adalah orang yang sangat sederhana, humble, grapyak (ramah), dan suka membantu teman (ringan tangan). Saya merasa kehilangan seorang teman sekaligus maestro untuk Indonesia,” imbuhnya.
