Mabur.co– Himpunan Mahasiswa (HiMa) Teater Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta secara resmi menyelenggarakan kembali Festival Teater Remaja Nusantara (FTRN) yang ke-5 pada 3-8 Agustus 2026 di Jurusan Teater Institut Seni Indonesia Yogyakarta.
Demikian pernyataan resmi yang diterima mabur.co, Senin (3/8/2026) di Jurusan Teater, Fakultas Seni Pertunjukan, ISI Yogyakarta.
Setelah tujuh tahun vakum, FTRN kembali hadir sebagai ajang kompetisi, edukasi, dan apresiasi teater bagi pelajar SMA/SMK/sederajat tingkat nasional.
Ramah Lingkungan
Lebih jauh, Ketua Pelaksana Dinda Afrilia, mengatakan, pada tahun 2026 ini, FTRN #5 mengusung tema besar “Temu-Taut”. Konsep secara besar dalam festival ini adalah ramah lingkungan.
“Jadi kita mengusung tema Temu Taut ini karena Festival Teater Remaja ini sudah menjadi wadah untuk teman-teman SMA, menemukan atau menambah relasi sesama siswa ke seniman atau ke akademisi teater dan segala macamnya. Tema ramah lingkungan ini dipilih karena kita mengupayakan hal-hal kecil seperti mengurangi sampah plastik atau mengurangi setting-setting yang sekali pakai untuk dijadikan sebuah festival. Kita berharap kepada festival-festival lain, bahwa sebenarnya festival itu bisa terlaksana tanpa adanya limbah yang banyak setelah acara,” ujarnya kepada mabur.co.

Dinda mengatakan, dalam festival ini, melibatkan sebanyak 10 kelompok. Satu kelompok ada 10 peserta jadi total keseluruhan ada 100 peserta.
“Acara festival teater ini dulu diadakan 2 tahun sekali. Pertama kali digelar tahun 2013. Saat masa covid sampat berhenti di tahun 2019 sampai 2025, diadakan lagi tahun ini 2026,” katanya.
Dinda mengatakan pula, perkembangan teater di ISI, selama ini teater di ISI lebih ke teater-teater modern atau teater-teater realis dan bermacam-macam genre teater. Pencapaian estetika teater Nusantara sekarang lebih ke pemanfaatan barang-barang yang ada, barang-barang bekas.
Teater Minim Limbah
“Kami juga mengimbau kepada peserta untuk memakai artistik atau bahan-bahan yang bisa digunakan kembali atau tidak menimbulkan banyak limbah. Sementara untuk estetikanya sendiri itu dalam konsep naskah realis yang dipakai, seperti mendekatkan kepada teman-teman SMA untuk memakai naskah realis karena bisa diserap mudah anak-anak SMA,” katanya.
Menurut Dinda pula, untuk peminat teater di Yoguakarta sendiri sangat masif.
“Cuma ketika di luar daerah, saya melihat kurang banyak acara teater yang terbuka untuk umum. Saya berharap untuk acara Festival Teater Remaja Nusantara selanjutnya bisa menjadi wadah untuk anak-anak SMA belajar. Mencari pengalaman-pengalaman baru di Yogyakarta. Bukan hanya sekadar berlomba atau kompetisi di sini. Tetapi bisa mendapatkan hal-hal baru di sini,” katanya.

Salah satu peserta Muhammad Dafa Satria Damika dari SMA Negeri 1 Kraksaan Purbolinggo mengatakan, dalam festival ini menampilkan Teater The Kick yang mengambil naskah ‘Panen Anak’.
Karena dari naskah ‘Panen Anak’ bisa banyak belajar. Setiap naskah juga dibedah terlebih dahulu. Ternyata di ‘Panen Anak’ memiliki banyak cerita atau filosofi menarik.
“Salah satu filosofinya adalah bagaimana cara kita untuk tidak berpikir selalu egois. Bagaimana cara kita selalu berpikir dan mengontrol emosi,” katanya. ***
