Mabur.co – Puncak Gunung Piramid dengan ketinggian sekitar 1.521 mdpl, terletak di Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur.
Keunikannya terletak pada bentuknya yang menyerupai piramida jika dilihat dari kejauhan, menjadikannya salah satu tujuan pendakian yang menantang sekaligus memukau.
Dengan pemandangan alam yang indah dan dikenal memiliki jalur pendakian yang menantang, gunung ini menjadi incaran para pecinta alam dan petualang sejati.
Medan Curam
Meskipun ketinggiannya tergolong sedang, sekitar 1.500 meter di atas permukaan laut, karakter medannya yang curam membuat pendakian terasa jauh lebih menantang, terutama bagi pendaki pemula.
Dilansir beberapa sumber, Kamis (6/8/2026), di balik bentuknya yang menyerupai piramida dan jalur pendakian yang menantang, Gunung Piramid di Kabupaten Bondowoso menyimpan berbagai cerita mistis yang telah hidup di tengah masyarakat selama bertahun-tahun.
Beragam mitos tersebut terus diceritakan dari generasi ke generasi dan menjadi bagian dari budaya lokal, meski belum pernah terbukti secara ilmiah.
Larangan Bawa Pulang Benda Apa Saja
Salah satu mitos yang paling dikenal adalah larangan membawa pulang benda apa pun dari kawasan Gunung Piramid.
Masyarakat setempat meyakini bahwa batu, tanaman, atau benda lain yang diambil dari gunung dapat membawa kesialan bagi orang yang membawanya.
Konon, pendaki yang mengabaikan pantangan tersebut dipercaya akan mengalami gangguan, tersesat, atau mendapat musibah hingga benda tersebut dikembalikan ke tempat asalnya.
Gunung Piramid diyakini memiliki sosok penunggu yang menjaga kawasan pegunungan. Sebagian warga percaya bahwa makhluk gaib tersebut tidak akan mengganggu pendaki yang datang dengan niat baik dan menjaga sikap.
Sebaliknya, mereka yang bersikap sombong, merusak alam, atau berkata-kata kasar diyakini dapat mengalami pengalaman yang tidak biasa selama berada di gunung.
Mitos lain yang masih sering diceritakan adalah larangan menyebut nama makhluk halus atau berbicara sembarangan ketika mendaki.
Sebagian warga juga mempercayai adanya waktu-waktu tertentu yang dianggap kurang baik untuk mendaki, seperti malam Jumat atau malam satu Suro dalam penanggalan Jawa.
