BAGAIMANAKAH sebuah keluarga, dengan tiga anak perempuan dan satu lelaki, menghadapi seorang ibu yang menanti ajal karena kanker?
June adalah jangkar yang jauh lebih kokoh daripada si ayah yang bersikap gampangan dan tak acuh pada derita istrinya — tapi sebenarnya ia masih terus menyanyikan “Georgia on My Mind” dari Ray Charles untuk istrinya (dan mengganti Georgia dengan June, nama kekasih sejatinya itu).
Helen si sulung sibuk di kota lain, menjelajahi gaya hidup baru, menekuni spiritualitas Timur dan membuka kursus untuk itu, dan hamil di usia tua.
Julia adalah anak kedua yang menjadi bintang keluarga — sabar, matang, dan sukses finansial (meski tak ada yang tahu bahwa ia menanggung terlalu banyak beban).
Adiknya, Molly, sangat membencinya, dan tak sungkan memamerkan ketidaksukaan itu di depan anak-anak Julia dan anak-anaknya sendiri. Si bungsu Connor adalah anak paling lemah, sering mengalami krisis mental, dan paling terpukul oleh penderitaan ibunya.
Film ini menyajikan potret sebuah keluarga yang dengan mudah terhubung dengan pengalaman siapa pun — konflik dan hubungan cinta-benci antar-saudara, ayah yang tampak tak bertanggung jawab, ibu yang menyadari bahwa perannya harus netral tapi dominan, dan harus terus menunjukkan sikap bahwa ia mengasihi semua anaknya dengan setara. (Ia memaksa menulis surat khusus untuk menyambut calon cucunya dari putri sulungnya yang akhirnya bisa hamil).
Semuanya disajikan dengan “understatement”; tanpa ada ledakan pertengkaran atau dramatisasi yang tak perlu. Tapi justru dengan itu kita akan membaca dan merasakan back story dan sub text yang bergolak di bawah permukaan — dan ini menghadirkan pemahaman serta bahan perenungan ekstra.
Kate Winslet mengejutkan kita dengan karya debutnya sebagai sutradara — konon film ini berdasarkan pengalamannya sendiri saat ibunya wafat pada 2017. Ia sendiri, sebagai Julia, bermain cemerlang, seperti biasa.
Yang lebih mencengangkan: penuturan drama keluarga yang pasti membutuhkan kematangan emosional ini skenarionya ditulis oleh remaja 19 tahun, Joe Anders, putra Winslet dari suami keduanya, Sam Mendes, sutradara drama panggung yang mendapat Oscar untuk film pertamanya, American Beauty, dan menjadikan karyanya, Skyfall, satu-satunya film James Bond yang masuk nominasi Oscar.
Andrea Riseborough bermain bagus sebagai Molly yang membenci kakaknya, justru karena ia selalu ingin dekat dengan kakak yang ia jadikan role model. Toni Collette, bintang kuat Australia, agak berlebihan sebagai Helen, meski ia tak mungkin jatuh ke bawah standar aktingnya yang telanjur tinggi.
Timothy Spall sebagai Bernie Chesire, layak membuat anak-anaknya sangat jengkel dengan tingkahnya yang serampangan, kocak tengik dan tak peduli dengan derita istrinya, meski ia setiap hari hadir dengan tertib di samping ranjang kematian June, yang dimainkan oleh Helen Mirren — dan tentu saja kekuatannya mudah diduga.
Kita bersyukur Netflix terus berusaha menyajikan produk-produknya sendiri yang bermutu. ***



