Ini Amalan Andalan Jenderal Soedirman yang Terbukti Ampuh Melawan Penjajah - Mabur.co

Ini Amalan Andalan Jenderal Soedirman yang Terbukti Ampuh Melawan Penjajah

Mabur.co– Jenderal Soedirman merupakan perwira tinggi semasa perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia. Ia menjadi  Panglima Besar Tentara Nasional Indonesia yang dihormati.

Sistem gerilya yang digunakan oleh Jenderal Soedirman terbukti ampuh melawan penjajah. Sistem gerilya juga menjadi bukti kerja sama militer dengan rakyat.

Dilansir dari laman Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Kabupaten Bantul, Jenderal Soedirman dalam perjuangan revolusi melakukan perjalanan yang dikenal dengan rute gerilya Jenderal Soedirman.

Salah satu wilayah yang dilewati rute gerilya berada di Kabupaten Bantul. Meski hanya singgah sejenak di beberapa titik di Kabupaten Bantul, namun beberapa peninggalannya masih dapat dijumpai.

Rute gerilya Jenderal Soedirman dimulai dari Yogyakarta, melalui Gunungkidul (Panggang, Paliyan, Semanu, Bedoyo).

Lalu Wonogiri (Pracimantoro, Eromoko) menuju Ponorogo, Trenggalek, Tulungagung, Kediri (Gunung Wilis, Goliman, Bajulan), hingga tiba di Nawangan, Pacitan. Sebagai basis utama di Dusun Sobo sebelum kembali ke Yogyakarta.

Memanfaatkan medan sulit seperti pegunungan, lembah, dan kawasan karst untuk menghindari Belanda. Rute ini melibatkan banyak titik singgah dan perubahan arah, memanfaatkan topografi alam untuk strategi perlawanan.

Sosok Jenderal Soedirman dikenal memiliki karomah dan kharisma saat memimpin pasukan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) menghadapi penjajah. Kemampuannya mengolah ilmu kedigdayaan diakui sebagai salah satu kelebihannya. Selain itu, perhitungannya matang, tepat, dan akurat.

Jenderal Soedirman  pernah berguru ke tokoh spritual Kiai Haji Busyro Syuhada seorang ulama besar yang berasal dari Banjarnegara. Selain itu rupanya sang jenderal besar ini juga mempunyai amalan atau jimat yang selalu diandalkannya. Namun jimat yang dimaksud, bukan jimat benda seperti keris atau pun tongkat.

Namun yang pertama adalah dirinya selalu menjaga wudu. Kedua, selalu salat pada awal waktu dan ketiga ikhlas berjuang. Anak bungsu Jenderal Soedirman, Mohamad Teguh Soedirman, mendengar banyak cerita tentang kelebihan ayahnya itu.

Teguh lahir pada 1949, ketika ibunya bersembunyi di Keraton Yogyakarta, dan pada saat ayahnya bergerilya. Dia tak sempat bertemu dengan ayahnya, yang meninggal dua bulan sesudah dia lahir.

Teguh hanya mendengar kisah Jenderal Soedirman dari sang ibu, Siti Alfiah. Satu di antara penggalan ceritanya, ketika Soedirman sampai di Gunungkidul, Yogyakarta. ***




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *