Mabur.co – Jauh sebelum mengenal buku, laptop, atau telepon seluler, manusia telah menemukan cara berkomunikasi memakai tulisan sejak 5000 tahun lalu.
Tulisan itu ditulis pada lempengan tanah liat yang masih basah, berupa tanda-tanda berbentuk baji atau menyerupai segitiga.
Setelah mengering, tanah liat akan mengeras sehingga tulisan yang telah dibentuk tidak akan mudah terhapus.
Itulah aksara paku atau cuneiform asal Mesopotamia yang disebut sebagai aksara tertua di dunia.
Dilansir dari situs British Museum, Selasa (8/9/2026), aksara paku pertama kali dibuat masyarakat Mesopotamia (sekarang wilayah Irak) sekitar tahun 3300 SM.
Aksara ini menjadi salah satu sistem tulisan paling awal yang diketahui dalam sejarah manusia. Karena dari aksara inilah kemudian berkembang hingga menjadi tulisan modern yang dikenal saat ini.
Berawal dari Catatan Sederhana
Pada awalnya, tulisan atau aksara paku belum digunakan untuk menulis cerita panjang atau karya sastra.
Masyarakat Sumeria lebih banyak menggunakannya untuk mencatat berbagai hal dalam kehidupan sehari-hari. Terutama mencatat barang, makanan, dan kegiatan perdagangan.
Dari gambar atau simbol sederhana, seiring waktu catatan itu kemudian berkembang menjadi sistem yang lebih kompleks.
Yang menarik, dengan ditulis menggunakan media tanah liat, lempengan aksara paku bisa bertahan selama ribuan tahun.
Karena kemanfaatannya, aksara paku kemudian berkembang pesat di Mesopotamia. Tidak hanya digunakan oleh bangsa Sumeria saja. Namun juga diadopsi oleh berbagai bangsa lain termasuk bangsa Akkadia, Babilonia, dan Asyur.
Bahasa yang digunakan pun berkembang. Aksara paku akhirnya menjadi media penting untuk mencatat urusan pemerintahan, perdagangan, hukum, agama, hingga ilmu pengetahuan.
Salah satu peninggalan terkenalnya adalah Kode Hammurabi, kumpulan hukum Babilonia yang ditulis menggunakan aksara paku.
Selama ribuan tahun, aksara tersebut digunakan di wilayah Mesopotamia. British Museum mencatat penggunaannya bertahan lebih dari 3.000 tahun, bahkan contoh penggunaannya masih ditemukan hingga sekitar abad ke-2 Masehi.
Mengapa Aksara Paku Penting?
Keberadaan aksara paku mengubah cara manusia menyimpan informasi.
Sebelum tulisan berkembang, pengetahuan dan peristiwa terutama disampaikan secara lisan. Dengan adanya aksara, informasi dapat dicatat, disimpan dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Ribuan lempengan tanah liat yang masih ditemukan hingga sekarang bahkan memungkinkan para peneliti mengetahui kehidupan masyarakat Mesopotamia yang terjadi ribuan tahun lalu.
Dari catatan tentang distribusi makanan hingga dokumen pemerintahan, lempengan-lempengan tersebut menjadi semacam “arsip” pertama peradaban manusia.
Karena itu, aksara paku bukan sekadar kumpulan tanda berbentuk simbol-simbol rumit. Ia juga menjadi salah satu tonggak penting yang membawa manusia memasuki era sejarah tertulis.
Dengan adanya aksara, pengetahuan dari satu generasi akan bisa diteruskan ke generasi berikutnya sehingga peradaban dapat terus berkembang hingga melahirkan peradaban modern seperti saat ini.
