Saksi Kejayaan Agraris-Maritim Nusantara, Menonton Pameran Perupa Bugis dan Sumatra Utara (Bagian 2 – Selesai)

3 Min Read
Group of people in a modern gallery looking at wall-mounted photos; a beige fabric sculpture drapes from a concrete pillar nearby.
Pengunjung domestik dan manca negara. Dok.Cemeti.

Ketika karya Aliansyah Caniago sering berbicara tentang kehilangan melalui proses transformasi, baik melalui perubahan materi alami maupun transformasi lanskap dan lingkungan sebagai konsekuensi modernitas, juga mempertimbangkan siapa yang bergerak dan siapa yang tertinggal di sepanjang jalan, di balik aroma kamper yang harum tersembunyi sejarah penggundulan hutan, Abdi Karya justru beralih pada pengetahuan yang terkandung dalam Sulapa Eppa, yang berarti “Empat Sisi” atau “Empat Sudut,” sebuah filosofi hidup yang berakar pada masyarakat Bugis dan Makassar.

Row of small framed botanical prints along a white gallery wall under spotlights.
Pigura-pigura kecil menggambarkan asal muasal kapur barus. Dok.Cemeti.

Empat sisi atau empat sudut mengacu pada pemahaman komprehensif tentang kehidupan, yang mencakup pengetahuan maritim melalui empat arah mata angin, empat unsur kehidupan (air, api, tanah, dan udara), empat warna utama yang mewakili hubungan antara manusia dan dunia non-manusia (alam, leluhur, dan alam spiritual), dan empat kelompok etnis utama (Bugis, Makassar, Mandar, dan Toraja).

Salam Layar

Karya Abdi yang berpusat pada filosofi ini mengambil bentuk Salam Layar, yang menceritakan perjalanan melintasi laut, dipandu oleh angin hingga tiba di daratan di seberang samudra.

Baca Juga: https://mabur.co/kolom/di-dalam-hutan-di-bawah-layar-pengalaman-menonton-pameran-perupa-mandar-dan-yogya-bagian-1/

Aliansyah dan Abdi menyatukan dua arah perjalanan: dari hutan ke laut, dan dari laut ke dunia. Kamper dan kapal, pohon dan layar, daratan dan lautan menjadi fragmen dari sejarah bersama, sejarah manusia yang terus bergerak mencari sesuatu, membawa, bertukar, mengendalikan, kehilangan, dan mengingat.

Nine framed aerial landscape photos hang in a single row along a white gallery wall.
Pigura gambar lanskap potret permukaan bumi. Dok.Cemeti.

Barus dan Makassar adalah bagian dari jaringan yang jauh lebih besar dari diri mereka sendiri. Dari hutan ke laut, kedua praktik ini bertemu pada satu gagasan: sejarah tidak tetap diam di satu tempat. Ia bergerak bersama orang-orang, benda-benda, pengetahuan, dan kenangan yang mereka bawa.

Pohon kamper harus ditebang untuk mengungkap kristal yang tersembunyi di dalam batangnya. Demikian pula, laut, sebagai ruang pertemuan, tidak pernah sepenuhnya bebas dari kekuasaan.

Rute pelayaran, pelabuhan, komoditas, dan perdagangan selalu menjadi subjek negosiasi — dan akhirnya perjuangan — di antara para pedagang, kerajaan, komunitas lokal, dan kekuatan kolonial.

Pelayaran juga menimbulkan pertanyaan tentang siapa yang dapat bergerak, siapa yang mengendalikan rute, siapa yang menentukan harga, siapa yang mendapat keuntungan, dan siapa yang menanggung konsekuensi perdagangan.

Di balik setiap pelayaran terdapat pengetahuan tentang angin, arus, musim, pelabuhan, dan hubungan antar-manusia.

Begitulah Dito Yuwono & Mira Asriningtyas, Direktur Cemeti-Institute for Art and Society memberi pengantar yang panjang mendalam pada pameran bertema Nusantara ini.

Share This Article
Sastrawan, Antropolog.
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar