Ketika karya Aliansyah Caniago sering berbicara tentang kehilangan melalui proses transformasi, baik melalui perubahan materi alami maupun transformasi lanskap dan lingkungan sebagai konsekuensi modernitas, juga mempertimbangkan siapa yang bergerak dan siapa yang tertinggal di sepanjang jalan, di balik aroma kamper yang harum tersembunyi sejarah penggundulan hutan, Abdi Karya justru beralih pada pengetahuan yang terkandung dalam Sulapa Eppa, yang berarti “Empat Sisi” atau “Empat Sudut,” sebuah filosofi hidup yang berakar pada masyarakat Bugis dan Makassar.

Empat sisi atau empat sudut mengacu pada pemahaman komprehensif tentang kehidupan, yang mencakup pengetahuan maritim melalui empat arah mata angin, empat unsur kehidupan (air, api, tanah, dan udara), empat warna utama yang mewakili hubungan antara manusia dan dunia non-manusia (alam, leluhur, dan alam spiritual), dan empat kelompok etnis utama (Bugis, Makassar, Mandar, dan Toraja).
Salam Layar
Karya Abdi yang berpusat pada filosofi ini mengambil bentuk Salam Layar, yang menceritakan perjalanan melintasi laut, dipandu oleh angin hingga tiba di daratan di seberang samudra.
Aliansyah dan Abdi menyatukan dua arah perjalanan: dari hutan ke laut, dan dari laut ke dunia. Kamper dan kapal, pohon dan layar, daratan dan lautan menjadi fragmen dari sejarah bersama, sejarah manusia yang terus bergerak mencari sesuatu, membawa, bertukar, mengendalikan, kehilangan, dan mengingat.

Barus dan Makassar adalah bagian dari jaringan yang jauh lebih besar dari diri mereka sendiri. Dari hutan ke laut, kedua praktik ini bertemu pada satu gagasan: sejarah tidak tetap diam di satu tempat. Ia bergerak bersama orang-orang, benda-benda, pengetahuan, dan kenangan yang mereka bawa.
Pohon kamper harus ditebang untuk mengungkap kristal yang tersembunyi di dalam batangnya. Demikian pula, laut, sebagai ruang pertemuan, tidak pernah sepenuhnya bebas dari kekuasaan.
Rute pelayaran, pelabuhan, komoditas, dan perdagangan selalu menjadi subjek negosiasi — dan akhirnya perjuangan — di antara para pedagang, kerajaan, komunitas lokal, dan kekuatan kolonial.
Pelayaran juga menimbulkan pertanyaan tentang siapa yang dapat bergerak, siapa yang mengendalikan rute, siapa yang menentukan harga, siapa yang mendapat keuntungan, dan siapa yang menanggung konsekuensi perdagangan.
Di balik setiap pelayaran terdapat pengetahuan tentang angin, arus, musim, pelabuhan, dan hubungan antar-manusia.
Begitulah Dito Yuwono & Mira Asriningtyas, Direktur Cemeti-Institute for Art and Society memberi pengantar yang panjang mendalam pada pameran bertema Nusantara ini.
