Mabur.co – Kebakaran menghanguskan sejumlah rumah warga di Dusun Krajan, Desa Tieng, Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah, Sabtu (12/9/2026).
Sebanyak 14 bangunan terdampak dalam kebakaran tersebut. 11 bangunan di antaranya mengalami kerusakan berat hingga terbakar habis.
Kebakaran terjadi di kawasan permukiman lama Desa Tieng yang dikenal memiliki jejak sejarah panjang serta rumah tradisional khas masyarakat dataran tinggi Dieng.
Dilansir dari berbagai sumber, Senin (14/9/2026), api diketahui pertama muncul sekitar pukul 08.30 WIB setelah seorang saksi melihat kobaran api dari lantai dua rumah seorang warga.
Dalam waktu singkat, api semakin membesar hingga merembet ke bangunan lain. Kondisi angin yang cukup kencang membuat kobaran api semakin cepat menjalar.
Upaya pemadaman pun dilakukan dengan melibatkan warga, personel damkar, BPBD hingga sejumlah unsur terkait. Setelah sekitar tiga jam, api akhirnya berhasil dikendalikan.
Selain menyebabkan kerusakan bangunan, kebakaran tersebut mengakibatkan seorang warga mengalami luka bakar. Korban kemudian mendapat perawatan di RSUD Setjonegoro Wonosobo.
Hingga kini penyebab kebakaran masih dalam penyelidikan. Meski begitu polisi menduga api berasal dari korsleting listrik di lantai dua rumah warga.

Permukiman dengan Sejarah Panjang
Kebakaran tersebut menjadi perhatian karena terjadi di Dusun Krajan, salah satu kawasan permukiman kuno di Desa Tieng, Kejajar, Dieng.
Bagaimana tidak kawasan ini merupakan permukiman lama Tieng yang menyimpan sejarah, tradisi, dan jejak kehidupan masyarakat Dieng selama ratusan tahun.
Dilansir tieng-kejajar.desa.id, Senin (14/9/2026), keberadaan Desa Tieng sendiri diperkirakan telah ada sejak sekitar 1783.
Nama Tieng dipercaya berasal dari sumber mata air yang memiliki warna kekuning-kuningan di desa tersebut. Masyarakat Jawa menyebut kondisi tersebut dengan istilah “tiyeng”.
Sejarah permukiman awal desa Tieng bermula dari kedatangan sekelompok orang dari wilayah Purworejo yang hendak menuju Dieng melalui jalur lama.
Mereka kemudian mencari lokasi yang dianggap sesuai untuk dijadikan tempat tinggal. Setelah menjelajahi sejumlah wilayah, mereka memilih kawasan yang kini menjadi Dusun Krajan.
Sejak saat itu, permukiman tersebut kemudian berkembang dan dihuni masyarakat dari sejumlah daerah di sekitarnya.
Jejak keberadaan Desa Tieng bahkan juga disebut dalam buku berbahasa Jawa berjudul Tjariyos Tanah Pareden Dijeng karya M. Prawirasoedirdja dan Majoor L.F. Van Gent yang diterbitkan Balai Pustaka pada 1922.

Rumah Tradisional Tieng
Sebagai permukiman kuno, Desa Tieng selama ini dikenal memiliki sejumlah rumah tradisional yang menjadi bagian dari gambaran kehidupan masyarakat Dieng pada masa lalu.
Dilansir Geopark Dieng, Rumah Tradisional Tieng memiliki ciri arsitektur khas dengan dinding yang menggunakan kayu dan atap berbentuk joglo.
Rumah tersebut menjadi salah satu warisan budaya yang merekam kehidupan masyarakat di kawasan dataran tinggi Dieng.
Kebakaran di kawasan permukiman Tieng ini diketahui turut membakar salah satu rumah tradisional tersebut. Hal itu diungkapkan akun Instagram Wonosobo Heritage.
Melalui akun Instagramnya, Wonosobo Heritage menyebut kebakaran di kawasan permukiman kuno atau Geo Cultural Site Desa Tieng turut mengenai salah satu rumah kuno.
Akun ini juga nampak menampilkan foto rumah dengan gaya arsitektur kuno yang nampak hangus terbakar. Disertai narasi berisi ungkapan simpati dan nada keprihatinan.
“Kebakaran di kawasan permukiman kuno (Geo Cultural Site) Desa Tieng menjadi pengingat bahwa warisan budaya membutuhkan kepedulian dan perhatian bersama. Wonosobo bukan hanya tentang lanskap indah, tetapi juga tentang ruang hidup, tradisi, dan memori kolektif masyarakat,” tulisnya.
Meski dilaporkan hangus terbakar, namun hingga saat ini belum ada pernyataan resmi dari pemerintah setempat terkait dampak kebakaran ini terhadap rumah-rumah tradisional di Dusun Krajan, Tieng, Kejajar tersebut.
