Mabur.co – Mereka yang tinggal di Yogya pada era tahun 1980 sampai 1990-an pasti tidak asing dengan kata ini. Sarkem alias Pasar Kembang. Ini sepotong jalan persis di selatan Stasiun Tugu yang bermuara di Jalan Malioboro.
Jika dari arah Jalan Abubakar Ali menuju Jalan Malioboro, maka Jalan Pasar Kembang ini seperti terusan Jalan Abubakar Ali.
Letaknya sekitar 75 meter dari Hotel Garuda, hotel paling terkenal se-Yogya. Sarkem, dulu, di zaman itu, identik dengan kemesuman.
Kontroversi Pelacur Mangkal
Benar inilah tempat para pelacur mangkal yang menyatu dengan hotel klas Melati sekaligus puluhan rumah penduduk mirip dengan Dolly, Surabaya. Tapi dengan skala super mini.
Mereka ini memang tidak mangkal di Jalan Pasar Kembang, tapi gang-gang yang ada di sisi Pasar Kembang. Jadi, terkenallah tempat itu dengan nama sarkem. Kehadiran mereka kadang memang menjadi kontroversi tersendiri.
Budayawan penggerak masyarakat Kotagede, Achmad Charris Zubair, secara konotatif menyebut, Pasar Kembang awalnya memang sebuah pasar yang benar-benar menjual berbagai jenis bunga.
“Ya sebetulnya istilah Pasar Kembang itu kan memang pasar untuk jual kembang (bunga). Bunga beneran. Untuk sesaji dan lainnya,” ucapnya, Rabu (16/9/2026).

Achmad mengatakan, saat itu, Stasiun Tugu mengalami pemugaran yang mengakibatkan terjadinya relokasi para pedagang bunga di Sarkem.
Mereka dipindahkan ke daerah Kotabaru, tepatnya di Jalan Ahmad Jazuli. Usai ditinggalkan oleh para pedagang, Sarkem pun mulai berkembang menjadi destinasi wisata.
Ditandai dengan berdirinya berbagai penginapan yang dibangun untuk mengakomodasi para wisatawan yang hilir-mudik di Stasiun Tugu.
“Di mana-mana sebetulnya dekat pelabuhan, dekat stasiun itu pasti ada juga tempat untuk pusat wisata,” katanya.
Berbagai Jenis Wisata
Achmad menjelaskan, pusat wisata di dekat stasiun tersebut dapat berupa berbagai jenis wisata. Mulai dari kuliner, sejarah, hingga mengarah ke aktivitas semacam lokalisasi.
Salah satu area di Sarkem kemudian berkembang menjadi tempat praktik prostitusi.
“Makanya sekarang konotasinya Sarkem itu ke arah sana. Tapi itu memang sudah cukup lama ada,” tuturnya.
Achmad mengatakan lagi, meskipun Prawirotaman kini menjadi tempat nongkrong turis terutama turis asing, hal ini tidak dapat disebut sebagai pengganti posisi Sarkem sebagai pusat wisata.
“Nggak pindah. Sebab masing-masing masih punya semacam daya tarik sendiri-sendiri. Kalau saya kurang setuju dengan istilah pindah. Sebab Sarkem juga masih punya turis,” ucapnya.
Memiliki Daya Tarik
Menurut Achmad, Sarkem masih memiliki daya tarik yang tak lekang oleh waktu. Jalan Malioboro dan Stasiun Tugu sukses meningkatkan ekonomi Sarkem. Terbukti dengan banyaknya penginapan dan hotel yang didirikan di wilayah tersebut.
“Fenomena ini lebih tepat disebut sebagai perluasan destinasi wisata para turis. Dapat juga disebut sebagai perkembangan ekonomi dan perubahan jenis industri di Sarkem dan Prawirotaman,” ucapnya.
