Mabur.co – Pemerintah Kota Padang berencana merevitalisasi Kawasan Kota Tua yang merupakan pusat perdagangan di era abad 19.
Proses awal dilakukan dengan mempercepat pemetaan dan pendataan sejumlah bangunan bersejarah baik kondisi fisik bangunan, status kepemilikan maupun pemanfaatannya.
Pemetaan awal dilakukan di sejumlah zona penting, khususnya di kawasan Batang Arau atau Blok A serta sejumlah lokasi lain atau Blok B yang berisi deretan bangunan yang masih dinilai layak direstorasi.
Beberapa bangunan yang telah diidentifikasi antara lain eks gedung PT Buana Andalas, aset PT Perusahaan Perdagangan Indonesia (Persero), Padangsche Spaarbank serta bangunan tua yang kini digunakan sebagai kedai kopi dan ruang kreatif.
Kondisi Bangunan Bersejarah Beragam
Kepala Dinas Pariwisata Kota Padang, Yenni Yuliza, mengatakan kondisi bangunan bersejarah di kawasan tersebut cukup beragam. Sebagian masih dapat dipertahankan, sementara lainnya mulai tidak terawat akibat usia, kerusakan gempa, dan perubahan kepemilikan.
“Menelusuri sudut Kota Tua Padang sejatinya adalah perjalanan melintasi jejak masa lalu yang bernilai sejarah tinggi,” kata Yenni seperti dikutip Padangkita.com, Sabtu (19/9/2026).
Kota Tua Padang merupakan kawasan yang berkembang pesat sebagai pusat perdagangan pada abad ke-19. Aktivitas kota melibatkan berbagai kelompok, mulai dari Minangkabau, Belanda, Cina, India hingga Arab.
Jejaknya masih terlihat di sekitar Muara Padang, Jalan Batang Arau, Pasar Gadang, Pasar Mudik, dan Pasar Tanah Kongsi.
Di Jalan Batang Arau berdiri sejumlah bangunan bersejarah seperti Nederlansche Handels-Maatschappij (NHM), De Javasche Bank, dan Padangsche Spaarbank.
Dilansir Agendaindonesia.com, bangunan NHM memiliki ciri neo klasik dan kini digunakan sebagai gudang. Sementara bekas De Javasche Bank yang dibangun sekitar 1930 kini digunakan Bank Indonesia.
Arsitektur Kolonial Belanda, Cina, Minangkabau, dan Melayu
Padangsche Spaarbank yang berdiri sejak 1908 juga menjadi salah satu bangunan penting. Gedung bergaya neo klasik dengan pengaruh art deco itu pernah digunakan sebagai Hotel Batang Arau.
Kawasan pasar lama juga menyimpan perpaduan arsitektur kolonial Belanda, Cina, Minangkabau dan Melayu.
Namun, gempa berkekuatan sekitar 7,9 pada 30 September 2009 merusak banyak bangunan tua di Padang. Sebagian kemudian diperbaiki, sementara lainnya semakin terbengkalai.
Wali Kota Padang, Fadly Amran, meminta proses pendataan dapat dipercepat agar proses revitalisasi dapat segera dilakukan.
“Saya ingin proses ini dipercepat dan ditargetkan selesai dalam waktu dekat. Setelah semuanya jelas, proses revitalisasi dapat segera dilakukan,” kata Fadly.
Tidak Menghilangkan Karakter Sejarah Kawasan
Ia juga menegaskan penataan nantinya tidak boleh menghilangkan karakter sejarah kawasan.
“Revitalisasi ini diharapkan dapat menghidupkan kembali aktivitas masyarakat di kawasan yang sarat nilai sejarah dan budaya. Ini merupakan bagian dari Program Unggulan (Progul) Jelajah Padang,” ujarnya.
Selain bangunan bersejarah, Pemko Padang juga berencana memetakan dan memaksimalkan potensi kuliner serta usaha kreatif di sekitar kawasan tersebut sebagai bagian menghidupkan kembali kawasan Kota Tua. ***
