Di Alun-alun Utara, saat Gendhing Garebeg ditabuh, sepuluh bregada berbaris dengan seragam yang berbeda.
Di antara loreng Wirobrajo yang menyala, ada dua barisan yang paling mudah dikenali: topi hitam tinggi dan jas tutup hitam.

Itu Bregada Dhaeng dan Bregada Bugis, satu-satunya prajurit Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat yang namanya bukan Jawa.
Sejarahnya tidak lahir di tanah Jawa. Nama Dhaeng berasal dari gelar bangsawan Makassar.
Pasukan Pilihan
Menurut babad keraton, sekitar 1763, mereka adalah pasukan pilihan yang mengantar Kanjeng Ratu Bendara, putri Hamengku Buwono I, pulang setelah diceraikan oleh Raden Mas Said (Mangkunegara I).
Karena pengawalan yang dianggap sempurna dan sambutan Sultan yang arif, pasukan pengantar itu memutuskan tidak kembali ke Surakarta.
“Mereka tersentuh, lalu sowan, minta mengabdi di sini. Sultan menerima, bahkan menggabungkan mereka dengan orang-orang Bugis dan Bali yang sudah ada di barisan Mangkubumen,” tutur kisah yang sering diulang di Bincang Budaya Keraton.
Dari penggabungan itu lahir dua kesatuan. Bregada Bugis dengan bendera Wulandadari, dasar hitam dengan bintang kuning: bertugas mengawal Patih di Kepatihan.
Bregada Dhaeng dengan Panji Bahningsari, dasar putih dengan bintang segi delapan merah, dari bahasa Sansekerta, bahning api dan sari inti yang dimaknai sebagai keberanian yang tak pernah padam.
Kini darah Bugis-Makassar itu tidak lagi mengalir secara biologis. Seorang abdi dalem Tepas Keprajuritan pernah berujar, “Insya Allah Jawa kabeh, Mas. Malah akeh-akehe Bantul.”
Semua prajurit harian rata-rata orang Jawa. Yang tersisa adalah penanda dan kampung. Jejaknya masih bisa ditelusuri di kampung Bugisan, Patangpuluhan, Wates.
Penanda Kultural
Di simpang Gedongkiwo-Jalan Bantul bahkan berdiri patung Prajurit Dhaeng, penanda bahwa warga sekitar adalah keturunan perantau Sulawesi yang sudah berbaur.
Mereka tak lagi berperang. Sejak 1970 setelah dibubarkan Jepang tahun 1942, fungsi mereka adalah kultural: mengawal Gunungan Garebeg, menjaga pusaka, dan menjadi simbol bahwa Keraton Jogja sejak awal dibangun dari keberagaman. Bukan hanya Jawa, tapi juga Bugis, Makassar, Bali yang bersedia menjadi Dhaengan.
Pada akhirnya, Bregada Dhaeng dan Bugis membuktikan bahwa Keraton Yogyakarta bukan hanya menjadi pewaris salah satu kerajaan Jawa, melainkan ruang pertemuan Nusantara.
Dari pengawal yang mengantar putri raja di 1763, mereka menjadi penjaga tradisi yang setia. Meski kini semua prajuritnya lebih banyak orang Jawa, nama, bendera Bahningsari, dan kampung Bugisan tetap menjadi pengingat hidup akan keberanian dan kesetiaan perantau Makassar-Bugis di jantung Yogyakarta. ***
